
Waktu begitu cepat berlalu, hari demi hari terus berganti seiring dengan detik yang berjalan tanpa kenal lelah. Satu bulan sejak kejadian meeting menegangkan kala itu telah berlalu. Anne pun mulai terbiasa saat melihat sikap tegas dan garang sang suami saat menghadapi kliennya. Anne selalu mengikuti kemana pun om Rudi pergi, karena memang itu sudah menjadi tugasnya.
Rona kekuningan terukir indah di cakrawala timur. Warna gelap mulai pudar karena sang raja sinar mulai menampakkan keangkuhan. Sepertinya, hari ini langit sedang bahagia karena nampak cerah dan berseri walau hari masih pagi. Weekend yang dinanti semua orang akhirnya tiba. Waktunya istirahat dari segala aktifitas pekerjaan yang rumit.
Sinar sang surya menerobos masuk ke dalam kamar utama rumah megah om Rudi. Hal itu membuat Anne mengerjap pelan karena terusik dengan silau yang membuat kamar yang gelap menjadi terang.
"Papi! Bangun, Pi!" ucap Anne dengan suara yang parau. Ia meraba tempat yang ada di sisinya dan ternyata kosong.
Anne mengubah posisinya setelah tidak menemukan keberadaan pria yang selalu ada di tempat itu. Ia heran saja karena tidak biasanya sang suami bangun di jam-jam seperti ini saat libur kerja. Anne meraih peignoir yang ada di headboard ranjang dan segera memakainya. Setelah membasuh wajah, gosok gigi dan merapikan rambut, Anne bergegas keluar dari kamarnya untuk mencari keberadaan sang suami
"Papi kemana ya?" gumam Anne saat menapaki satu persatu anak tangga menuju lantai dasar.
Anne menghentikan langkah saat melihat bi Una merapikan ruang keluarga, "Bi Una lihat Papi gak, Bi?" tanya Anne setelah berdiri di dekat wanita berjilbab itu.
"Oh, tadi saya lihat di belakang, Nya. Mungkin sedang olahraga," jawab bi Una sebelum Anne pamit menuju tempat yang ditunjukkan olehnya.
Anne mengayun langkah menuju teras belakang. Pemandangan kolam renang dengan air yang jernih membuat Anne tersenyum tipis. Rasanya, ingin sekali ia berendam di sana. Setelah melewati jalan setapak yang ada di sisi kanan kolam renang, pada akhirnya Anne sampai di salah satu ruangan yang menghadap kolam renang—ruangan yang dipenuhi beberapa peralatan gym.
"Pi!" sapa Anne setelah menutup kembali pintu ruangan itu.
Anne tersenyum tipis melihat tubuh sang suami yang basah karena keringat. Pria matang itu tidak memakai kaosnya, hanya celana pendek yang biasa dipakai berolahraga. Entah mengapa, pagi ini om Rudi terlihat begitu sexy di mata Anne.
"Tumben pagi-pagi sudah olahraga! Ini kan weekend, Pi!" ujar Anne seraya duduk di sofa tanpa sandaran yang ada di sudut ruangan.
__ADS_1
"Biar papi makin sehat dan gak encok lagi!" jawab om Rudi tanpa menatap Anne. Beliau sedang fokus dengan barbelnya saat ini.
"Udah lah, Pi ... gak usah capek-capek olahraga! Staminanya, malah hilang loh, Pi." Anne sengaja meledek sang suami.
Om Rudi menghentikan kegiatannya saat ini, beliau menatap Anne dengan senyum smirk yang menghiasi wajahnya. Om Rudi semakin tertantang untuk membuktikan jika beliau mampu membuat Anne tak berdaya di bawah kungkungannya.
"Kamu belum tahu, Sayang. Apa yang sudah aku persiapkan untuk membuatmu minta ampun! Kamu akan menyesal karena sudah meledekku!" batin om Rudi.
"Kamu ingin membuktikannya, Sayang?" tanya om Rudi setelah berdiri di depan Anne. Pria matang itu berkacak pinggang dengan pandangan yang tak lepas dari Anne.
Anne tersenyum penuh arti mendengar tantangan itu. Ia masih tidak percaya jika tenaga suaminya benar-benar pulih. Tantangan itu berhasil menyulut hasratnya, tentu saja ... Anne pun mempunyai ambisi untuk membuktikan jika dirinya adalah istri yang hebat.
"Hmmm ... sepertinya saya ingin sarapan Lollipop coklat yang bisa mengeluarkan susu kental manis," gumam Anne seraya menarik tali peignoir yang terikat di perutnya.
Om Rudi meraih ponsel yang ada di sisi Anne. Beliau mencoba menghubungi salah satu ART nya untuk melarang siapa saja masuk ke teras belakang terutama wilayah kolam renang dan ruang gym. Pria matang itu menutup kelopak matanya saat merasakan sang istri meloloskan celana itu dari pinggulnya. Sambungan telpon itu pun harus terputus saat om Rudi merasakan sapuan lidah sang istri di ujung lollipop yang sudah siap untuk dinikmati.
Tangan om Rudi tidak mau diam saja, beliau membantu Anne meloloskan peignoir itu dan tinggallah lingerie seksi yang melekat di tubuh mulus itu. Bermain di tempat terbuka membuat om Rudi semakin tertantang untuk melakukannya. Sebagian dinding ruangan tersebut adalah kaca tembus pandang ke arah kolam renang. Siapapun pastinya akan melihat apa yang sedang beliau lakukan saat ini. Namun, hal itu tidak dihiraukan oleh om Rudi karena para pekerja tidak akan ada yang berani masuk setelah mendengar larangan dari beliau.
"Kamu ingin bermain di mana, Sayang?" tanya om Rudi saat Anne melepaskan lollipop coklat kebanggaannya itu.
Anne berdiri dari tempatnya saat ini. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami dengan tatapan mata yang sangat menggoda. Sungguh, pagi ini adalah pagi yang panas bagi Anne.
"Saya sih terserah Papi saja! Saya hanya ingin membuktikan jika Papi benar-benar mampu mengalahkan saya tanpa encok." Dalam situasi seperti ini pun, Anne masih bisa menantang sang suami.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara lagi, Om Rudi mulai melepaskan lingerie itu dari tubuh sang istri. Beliau benar-benar gemas mendengar tantangan itu. Kini, sepasang suami istri itu polos tanpa sehelai kain pun.
Permainan terus berlanjut. Kali ini om Rudi yang memegang kendali sang istri. Beliau mulai melakukan tugasnya saat pemanasan sedang berlangsung. Sesekali lenguhan Anne terdengar di rungan tersebut saat om Rudi menggerakkan tangannya di lahan kacang almond.
Beberapa kali Anne mencapai puncak nirwana hanya karena permainan kecil yang diciptakan oleh om Rudi. Senyum penuh arti terbit dari bibir om Rudi kala melihat tatapan mata sayu sang istri. Sorot penuh harap pun terpancar jelas di sana. Om Rudi tahu jika sang istri menginginkan kenikmatan lebih dari ini.
"Apa yang kamu inginkan, Sayang?" tanya om Rudi dengan suara yang lirih.
"Berikan saya goyangan lollipop yang bisa membuat saya hilang kendali," gumam Anne dengan napas yang mulai memburu.
"Berdirilah!" ujar om Rudi dengan diiringi senyum penuh arti.
Anne segera berdiri seperti yang diperintahkan sang suami. Ia menaikkan satu alisnya saat melihat sang suami menarik bangku kecil yang diletakkan di dekat dinding kaca tersebut.
"Come on, Honey!" Om Rudi memanggil Anne agar mendekat ke tempatnya saat ini.
Tanpa diduga oleh Anne, ternyata sang suami membalikkan tubuhnya hingga ia menempel di dinding kaca tersebut. Tubuhnya terekspos dengan jelas di kaca tersebut apabila ada orang di teras belakang.
"Kamu pernah mendengar lagu cicak-cicak di dinding, Sayang?" tanya om Rudi yang mendapatkan anggukan pelan dari Anne sebagai jawaban, "bersiaplah! Kita akan melakukan hal itu!" bisik om Rudi setelah menggigit daun telinga Anne.
...🌷Selamat membaca🌹...
...Cicak-cicak di dinding ... diam-diam merayap. Datang seekor nyamuk, hap lalu ditangkap 🤭 Ya, seperti itu lah lagu yang dimaksud om Rudi🤭...
__ADS_1
...🌹🌹🌹🌹🌹...