
Kesedihan mendalam begitu dirasakan pria matang yang sedang termenung di tempatnya. Bulir air mata beberapa kali mengalir, membasahi pipi. Sorot matanya sendu, seperti kehilangan harapan yang sudah lama dinanti. Hari ini adalah hari terberat yang harus dialami oleh om Rudi. Beberapa jam yang lalu, putrinya yang belum sempat menghirup udara luar, telah dimakam kan.
Sejak kemarin sore, Anne harus berjuang melahirkan putrinya. Ia harus melalui beberapa rangkaian medis untuk mempermudah persalinan tersebut. Menjelang subuh, wanita cantik itu berhasil melahirkan putri pertamanya yang sudah tiada. Tentu, rangkaian proses ini diiringi dengan derai air mata yang tak kunjung reda.
Om Rudi menyeka air matanya setelah melihat wajah yang sedang terlelap itu. Anne tak sadarkan diri setelah melihat wajah putrinya sebelum dibawa pulang om Rudi untuk dimakam kan. Ia belum siap menerima kenyataan, jika putrinya yang cantik harus pergi karena tertular virus yang menyerangnya.
"Cepat sadar, Sayang," gumam om Rudi sebelum mengecup punggung tangan yang ada dalam genggaman beliau. Tidak perduli meski ada beberapa ruam merah di sana.
Hati om Rudi seperti tertusuk ribuan belati saat melihat bagaimana perjuangan Anne tadi malam. Beliau tidak tega melihat Anne menahan rasa sakit yang teramat sangat. Tangis pilu istrinya itu terekam jelas dalam memori di kepalanya.
Mungkin, hati dan perasaan Anne saat ini hancur berkeping-keping. Buah cinta yang dinanti gugur sebelum waktunya tiba. Shock, itulah kondisi yang saat ini dialami oleh Anne. Ia sampai tidak tahu jika putrinya sudah berada di tempat yang menjadi rumah terakhir.
"Sayang, jangan membuat Mas takut! Kamu harus segera bangun," ucap om Rudi tanpa melepaskan pandangannya dari wajah sang istri.
Kondisi Anne bukanlah kondisi yang mengkhawatirkan. Dokter spesialis sudah memeriksa kondisinya dan hasilnya semua normal. Mungkin, beberapa jam ke depan Anne akan bangun.
"Assalamualaikum," ucap Juna setelah membuka pintu ruangan yang ditempati Anne saat ini.
Om Rudi mengalihkan pandangannya ketika mendengar suara itu. Beliau segera berdiri dan menyambut kedatangan menantunya, "waalaikumsalam, masuklah!" ujar om Rudi.
Juna segera duduk di sofa setelah mendapatkan kode dari mertuanya. Wajahnya terlihat sedih setelah mengamati ibu mertuanya yang masih terlelap. Ada rasa prihatin yang memenuhi hati setelah melihat wajah sendu ayah mertuanya.
"Maaf, Pi, saya baru sampai hari ini. Dara tidak bisa ikut karena keadaan. Kiran belum bisa diajak perjalanan jauh," terang Juna seraya menatap om Rudi.
"Ya, tidak masalah. Papi mengerti." Om Rudi mencoba tersenyum walau dipaksakan.
Obrolan ringan terdengar di sana. Setelah mendengar cerita bagaimana keadaan Anne, Juna mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau semakin membuat mertuanya sedih dan terpukul atas musibah yang sedang terjadi.
__ADS_1
...♦️♦️♦️♦️...
Langit biru perlahan pudar, berganti dengan rona jingga di cakrawala barat. Bola raksasa berwarna jingga mulai kehilangan sinarnya. Sebentar lagi, persimpangan waktu akan tiba dan langit pun berubah menjadi gelap.
"Mas, Mas, Mas!" Anne membuka kelopak matanya setelah. Ia menggerakkan bola matanya ke kiri dan ke kanan untuk mencari keberadaan sang suami.
"Mas Rudi!" Anne menaikkan suaranya agar terdengar lebih keras setelah menemukan sang suami. Ternyata om Rudi sedang berisitirahat di bed penunggu pasien.
Anne meraba sisi bednya untuk menekan remote bed agar membuat tubuhnya menjadi duduk bersandar. Ia baru saja bangun setelah melewati tidur panjang. Tubuhnya terasa remuk redam. Bahkan, untuk menggerakkan kakinya saja masih terasa kaku.
"Mas! Mas Rudi!" teriak Anne seraya menatap ke arah kiri.
Anne terus berusaha membangunkan sang suami dan pada akhirnya, usahanya membuahkan hasil. Om Rudi segera bangkit dari tempatnya setelah melihat sang istri.
"Sayang! Sejak kapan kamu bangun?" tanya Om Rudi setelah duduk di samping bed Anne.
"Baiklah, aku pesankan makanan dulu, oke?" Om Rudi tersenyum manis sebelum merogoh ponsel di saku celananya.
Anne hanya mengangguk pelan setelah mendengar ucapan om Rudi. Kondisi cacar air yang ada di sekujur tubuhnya mulai mengering. Rasanya, tidak sepanas dulu saat pertama bintik-bintik itu muncul.
Bulir air mata tiba-tiba saja mengalir dari pelupuk mata tanpa komando. Anne hanya bisa mengusap perut yang sudah kehilangan penghuni itu. Air mata semakin mengalir deras karena rasa sesak dalam dada.
"Sayang, sudah, ya," ucap om Rudi seraya menggenggam tangan sang istri.
Anne menggeleng pelan dengan isak tangis yang terdengar pilu. Wajah cantik yang sempat ia lihat, sesaat, sebelum keadaan berubah gelap, tengah menari-nari dalam ingatan. Sebagai seorang ibu tentu saja Anne sangat sedih karena kehilangan putri pertamanya.
"Dia cantik ya, Mas," gumam Anne di sela-sela isak tangisnya, "dia mirip dengan Dara," gumamnya lagi.
__ADS_1
Mata om Rudi mulai berembun setelah mendengar ucapan Anne. Beliau ikut terbawa arus kesedihan yang menghanyutkan perasaan sang istri. Sesekali om Rudi menyeka air matanya, karena beliau tidak mau terlihat sedih di hadapan Anne.
"Ya, dia sangat cantik seperti kamu. Aku memberinya nama Gladis Cantika," ucap om Rudi seraya menatap sang istri.
Suara ketukan pintu beberapa kali berhasil membuyarkan suasana sedih yang terasa dalam ruangan ini. Seorang petugas rumah sakit masuk dengan membawa nampan berisi makanan untuk Anne.
"Terima kasih," ucap om Rudi sebelum petugas rumah sakit itu pamit keluar dari ruangan.
Om Rudi mulai menyiapkan makanan untuk sang istri. Beliau membawa sepiring makanan lengkap dengan sayurnya untuk Anne, "kamu harus makan dulu, Mas suapin, ya?" ucap om Rudi setelah duduk di tepi ranjang.
"Kamu harus makan yang banyak, biar cepat sembuh," ucap om Rudi dengan diiringi senyum tipis.
"Setelah keadaanmu pulih, aku ingin mengajakmu jalan-jalan ke luar negeri. Kamu mau?" tanya om Rudi seraya menatap manik hitam sang istri.
Tidak ada sepatah katapun yang lolos dari bibir itu. Anne termenung sambil mengecap makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Menerima kenyataan yang ada nyatanya membutuhkan banyak tenaga. Anne bertekad untuk sembuh agar segera keluar dari rumah sakit ini. Ia ingin melihat makam putrinya.
"Jangan terlarut dalam kesedihan. Kita masih mempunyai banyak kesempatan untuk memiliki anak lagi." Om Rudi mencoba menghibur sang istri istri agar bisa tersenyum kembali.
"Semua ini terjadi atas kehendak Sang Kuasa. Kita tidak bisa berlari ataupun menghindari semua ini. Aku harap kamu ikhlas menerima takdir yang digariskan oleh Tuhan," tutur om Rudi setelah selesai menyuapkan makanan kepada Anne.
Air mata semakin mengalir deras setelah mendengar kalimat penenang itu. Anne menundukkan kepala untuk menyembunyikan wajahnya dari om Rudi. Rasa sakit semakin membelenggu jiwa karena semua ini.
"Tapi kenapa Tuhan selalu mengambil semuanya dariku? Mama, Papa, pak Hadi, bu Ningrum dan sekarang anakku sendiri telah diambil Tuhan dariku? Apa salahku, Mas?" cecar Anne di sela-sela isak tangisnya.
...🌹Selamat Membaca🌹...
...Kuy jangan lupa vote atau berikan gift untuk othor 🤭...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...