
"Maaf, Rud, aku harus pamit sekarang. Aku tidak bisa terlalu lama di sini," pamit tante Rosa seraya berdiri dari tempatnya, "aku harus ke salon setelah ini," lanjut tante Rosa dengan diiringi senyum manis.
Om Rudi beranjak dari tempatnya untuk mengantarkan tante Rosa keluar dari ruangan ini. Sedangkan Anne, memilih untuk berdiam diri di tempatnya dengan kedua tangan yang bersedekap.
"Mau ke salon kek! Mau ke pasar kek! Bodo amat!"
"Ngapain coba pakai pamit bilang ke salon!"
"Ih norak! Emang dia aja yang bisa ke salon!"
"Dasar pengembala kanguru genit!"
Anne terus mengumpat tentang tante Rosa yang sudah berlalu pergi. Ia tidak perduli meski om Rudi sudah kembali ke sampingnya. Anne benar-benar kesal setelah melihat kehadiran tante Rosa di lingkup om Rudi. Bagi Anne, tante Rosa lebih meresahkan daripada tante Marlina, karena tante Rosa sempat dekat dengan om Rudi di masa lalu.
"Sayang, kamu tadi bawa apa?" Om Rudi mengalihkan pembicaraan dengan membahas hal lain. Beliau meraih paper bag yang ada di atas meja.
"Gak usah mengalihkan pembicaraan deh!" cibir Anne seraya menatap sinis ke arah om Rudi.
"Ngapain emaknya kanguru datang kemari? Pasti mau ngajak Mas kencan, ya!" tuduh Anne tanpa melepaskan pandangan dari om Rudi.
"Kamu tadi kan sudah mendengar sendiri tujuan dia datang ke sini," jawab om Rudi dengan santai.
"Ah bohong!" sergah Anne dengan tatapan mata yang semakin tajam, "sebelum saya datang, apa yang sudah Mas bicarakan sama dia?" Anne mulai menginterogasi om Rudi.
"Tidak ada, Sayang! Dia datang belum lama kok! Mungkin jaraknya sepuluh menit dengan kedatanganmu," ucap om Rudi.
Om Rudi mulai membuka kotak yang dibawa oleh Anne. Beliau penasaran apa saja isi kotak tersebut. Kedua sudut bibir itu tertarik ke dalam setelah melihat isi kotak makan tersebut.
__ADS_1
"Wah! Ini pasti rasanya sangat lezat!" ujar om Rudi dengan mata yang berbinar.
"Ih! Gak usah mengalihkan pembicaraan!" protes Anne, "Kita belum selesai membahas emaknya kanguru itu!" Anne mencengkram lengan om Rudi karena kesal.
"Sayang, tidak ada yang perlu dibahas!" jawab om Rudi, "lebih baik kita makan dulu, yuk! Pasti kamu sudah lapar 'kan?" Pria matang itu masih berusaha untuk menenangkan sang istri.
"Aku mau lihat rekaman CCTVnya!" ujar Anne seraya menatap om Rudi, "Mas pasti membicarakan hal rahasia 'kan! Tidak mungkin Mas mau menerima tamu di ruangan utama kalau tidak ada pembicaraan rahasia!" Anne masih curiga dengan sang suami.
Om Rudi membuang napasnya kasar setelah mendengar permintaan sang istri. Beliau segera membuka laptopnya untuk membuka rekaman CCTV beberapa waktu yang lalu. Om Rudi hanya ingin perdebatan tidak penting ini cepat selesai.
"Silahkan dilihat kalau kamu tidak percaya!" ujar om Rudi setelah berhasil menampilkan rekaman saat tanta Rosa datang ke ruangan dengan di antar oleh Pras.
Om Rudi mengambil sendok yang dibawakan oleh Anne. Beliau ingin mencicipi cap cay yang ada di dalam kotak makan tersebut. Meskipun dingin, om Rudi tetap menikmati makanan itu. Beliau tidak berani protes karena takut macam betina yang sedang sibuk melihat rekaman tersebut, semakin mengeluarkan taringnya.
"Benar 'kan, Mas tidak melakukan apapun seperti yang kamu tuduhkan!" ujar om Rudi setelah rekaman tersebut selesai.
"Tidak!" jawab om Rudi singkat, beliau terus menikmati capcay dingin itu dan mencoba tak menghiraukan ucapan sang istri.
Anne tertegun setelah melihat om Rudi begitu lahap menikmati capcay buatannya. Ada senyum tipis yang terlukis di bibir berwarna merah itu. Semua tentang kanguru betina mendadak hilang begitu saja setelah melihat om Rudi makan.
"Enak ya, Mas?" tanya Anne seraya menggerakkan kursinya agar lebih dekat dengan om Rudi.
"Enak banget! Sini, Mas suapin!" ujar om Rudi seraya menyendok makanan tersebut.
Satu sendok capcay berhasil disuapkan om Rudi ke mulut sang istri. Beliau tersenyum manis seraya menatap Anne yang sedang menggerakkan bola matanya ke kiri dan ke kanan.
"Kan! Rasanya jadi berubah gara-gara capcay nya keburu dingin!" ujarnya setelah menelan makanan yang ada di dalam mulut.
__ADS_1
"Enggak, Sayang! Rasanya tetap enak kok!" sergah om Rudi. Beliau sedikit terkejut mendengar protes dari Anne.
"Tadi rasanya tidak seperti ini, Mas! Lebih enak waktu masih hangat!" Anne masih keukeh dengan pendiriannya. "Semua ini gara-gara pengembala kanguru tadi! Cap cay nya dingin kan jadinya! Ih, kesel!" gerutu Anne dengan bibir yang mengerucut.
Om Rudi tak melepaskan pandangannya dari wajah cantik sang istri. Beliau semakin heran melihat sikap Anne yang semakin menjadi. Beliau tak habis pikir, bagaimana bisa sang istri bisa berubah seperti ini. Apakah ini murni karena hormon ibu hamil atau karena kecemburuan yang berlebihan? Entahlah! Yang pasti kepala om Rudi saat ini mulai terasa pening.
"Sayang! Sudah dong!" ujar om Rudi seraya menggenggam tangan Anne, "Ingat! Kamu ini sedang hamil, jangan sembarangan kalau bicara! Jangan mengumpati orang. Okey!" Tatapan mata teduh itu tak berpaling sedikitpun dari wajah Anne yang sedang murung.
"Aku sangat mencintaimu. Tidak mungkin aku berpaling ke arah wanita manapun! Kamu adalah segalanya," ucap om Rudi dengan tutur kata yang lembut dan sangat hati-hati.
"Sudah ya, mulai sekarang kamu harus menjaga ucapan. Tidak boleh mengumpat sembarang! Biar bagaimana pun Rosa itu teman Mas. Kami tidak menjalin hubungan apapun. Setelah ini Mas harap kita tidak bertengkar karena masalah ini," ucap om Rudi dengan sikap yang tenang, walaupun hatinya ketar-ketir takut salah bicara.
Kedua bola mata indah yang ada di hadapan om Rudi mulai berkaca-kaca. Entah apa yang salah sehingga membuat Anne harus mengeluarkan air mata. Kini, om Rudi hanya bisa pasrah dengan keadaan yang ada,
"katanya gak ada rasa sama pengembala kanguru! Tapi kenapa Mas membela dia? Mas jahat!" ujar Anne seraya mengusap air mata yang membasahi pipi.
"Aku mau pulang saja!" ujar Anne setelah berdiri dari tempat duduknya. Ia meraih tas selempang yang ada di atas meja.
"Ya Tuhan." Om Rudi bergumam lirih setelah melihat Anne mulai mengayun langkahnya.
Mau tidak mau om Rudi harus mengikuti sang istri pulang. Bukan karena takut kemarahan Anne semakin bertambah, melainkan karena om Rudi khawatir dengan keselamatan sang istri. Beliau berjalan di belakang Anne sambil membuka ponselnya untuk mengirim pesan kepada Pras. Sungguh, semakin kesini om Rudi semakin pusing menghadapi Anne.
"Aduh! Jangan sampai dia ngambek gara-gara Rosa! Mudah-mudahan aku bisa meluluhkan dia setelah sampai di rumah! Jangan sampai aku tidak mendapat jatah malam ini!" ujar om Rudi di dalam hati setelah masuk ke dalam lift bersama Anne.
...🌹Selamat membaca🌹...
...Marah terus ye Bumil🤭...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...