
Beberapa hari kemudian,
Bulir air mata kembali menggenang di pelupuk mata. Kenangan indah bersama sang mantan menari-nari dalam ingatan karena suasana sunyi sepi yang sedang melanda. Sejak bertemu dengan Bagus di pusat perbelanjaan tempo hari, Anne kembali dihantui rasa bersalah kepada Bagus. Baru hari ini ia bisa leluasa mengeluarkan segala sesak di dada karena pagi ini Anne sudah kembali ke hotel, tempat di mana Dara menyembunyikannya.
Beberapa hari yang lalu, Anne tinggal di apartment yang sudah disiapkan oleh om Rudi untuk menghabiskan hari dengan penyatuan panas yang berujung dengan banjir keringat. Berhubung hari ini Dara telah kembali dari Bandung, maka Anne harus kembali ke tempat asal agar Dara tidak curiga.
"Gus, maafkan aku karena sudah membuat keadaanmu menjadi kacau." Anne bergumam seraya menatap foto yang terpampang di akun media sosial Bagus.
Pertemuan dengan Bagus yang tidak disengaja itu berhasil meluluhlantahkan hati dan pikiran Anne. Meski ia sudah menjadi istri om Rudi tapi menghapus perasaan dan kenangan bersama Bagus tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi, ketika melihat keadaan Bagus saat ini, sungguh, jauh berbeda dengan Bagus yang dulu. Anne bisa menerka jika mantannya itu frustasi karena perpisahan yang tidak pernah terduga ini. Ia tidak bisa membayangkan apa saja yang sudah dilakukan Bagus saat merasakan sakit akibat perpisahan.
"Semoga kamu mendapat jodoh yang lebih baik dan juga mencintaimu apa adanya, Gus!" Anne tak melepaskan pandangan dari foto yang memenuhi layar ponselnya itu.
Segala angan tentang sang mantan hilang begitu saja kala layar ponsel itu berubah. Panggilan masuk dari Dara menghilangkan foto pria manis yang sejak tadi membuat perasaan Anne membuncah.
"Halo, Dar. Sudah sampai di mana?" sapa Anne setelah panggilan terhubung.
"Oh, oke. Sebentar!" Anne segera beranjak setelah tahu di mana keberadaan Dara.
Anne meletakkan ponselnya di atas ranjang sebelum mengayun langkah ke dekat pintu hotel, dengan segera ia membukakan pintu tersebut. Dara pun segera masuk ke dalam kamar itu. Ia menghempaskan diri di atas ranjang king size tersebut.
"Ya ampun, An! Aku sangat lelah!" ujar Dara tanpa menatap Anne.
"Istirahatlah dulu sebelum kita pulang," ucap Anne seraya duduk di tepi ranjang.
Dara mengalihkan pandangan ke samping. Ia menatap wajah sahabatnya itu, terlihat jelas jika Anne sedang menyimpan kesedihan. Hal itu membuat Dara segera berpindah tempat di samping Anne.
"Kamu kenapa, An?" tanya Dara seraya menatap wajah sendu Anne, "apa ada masalah?" selidik Dara.
Anne hanya tersenyum kecut mendengar pertanyaan itu. Tidak mungkin 'kan jika dia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, tapi jika tidak menjawab pertanyaan itu, Dara akan terus mendesaknya. Tidak mungkin gadis itu akan diam saja saat melihat kesedihan Anne.
__ADS_1
"Beberapa hari yang lalu aku tidak sengaja bertemu Bagus di pusat perbelanjaan," ucap Anne dengan iringan napas yang berat.
"Hah? terus ... terus? Apa yang terjadi selanjutnya?" Dara semakin penasaran dibuatnya.
"Tidak ada, aku hanya ngobrol dua menit dan setelah itu segera pergi!" jawab Anne.
Dara segera mengubah posisinya, ia duduk di samping Anne dan merengkuh tubuh itu ke dalam dekapannya. Sebisa mungkin Dara memberikan dukungan untuk sahabatnya itu.
"Sabar, An! Kalau memang jodoh gak akan kemana kok!" ucap Dara sambil mengusap lengan Anne.
"Itu tidak mungkin, Dar! Jodohku itu ayahmu sendiri!" jawab Anne. Sayangnya, itu hanya terucap dalam hati.
Kedua gadis cantik itu masih membicarakan masalah asmara. Dara menceritakan bagaimana kondisi pacarnya pasca operasi, Dara juga bercerita jika dia mendapatkan perhatian lebih dari keluarga kekasihnya itu.
"Dar, terus bagaimana nanti jika om Rudi curiga? Jujur saja aku sangat takut!" Anne merenggangkan tubuhnya.
"Ah sudahlah! Papi tidak akan curiga! Lagian papi kan sibuk sama kerjaannya jadi gak mungkin kalau nanti kita di interogasi saat pulang," ucap Dara dengan santainya
"Dar, lebih baik kita pulang sekarang saja, ya! Pasti di jam-jam seperti ini, om Rudi masih di kantor," ucap Anne seraya menepuk paha Dara.
Tanpa menunda apapun lagi, Dara membantu Anne berkemas. Ia memutuskan untuk mengikuti saran Anne yang ada benarnya juga. Setidaknya masih ada waktu untuk mempersiapkan diri sebelum diintrogasi oleh ayahnya nanti.
Setelah selesai, mereka berdua segera check out dari hotel. Kali ini Dara sendiri yang menjadi pengemudi mobilnya. Ia harus cepat agar sampai di rumah tepat waktu, mengingat jalanan ibu kota selalu padat dan macet.
Hingga berpuluh-puluh menit kemudian, mobil merah itu akhirnya sampai di halaman luas rumah mewah bernuansa america itu. Mereka segera menurunkan koper dari mobil dan mengayun langkah memasuki bangunan megah itu.
"Sepertinya kita aman, An! Rumah sepi! Papi pasti masih di kantor!" bisik Dara setelah berada di dalam ruang tamu.
"Kita harus hati-hati, Dar! Amati di sekitar kita, siapa tahu om Rudi bersembunyi saat tahu kita pulang!" ucap Anne dengan suara yang lirih.
__ADS_1
Kedua gadis cantik itu mengayun langkahnya. Namun, langkah mereka harus terhenti ketika baru menginjak anak tangga pertama. Tubuh keduanya terpaku setelah mendengar suara yang sangat familiar di balik tubuhnya.
"Oh, ternyata kalian berdua sudah pulang!" ujar om Rudi.
Anne segera membalikkan tubuhnya, ia menatap om Rudi penuh arti, memberi kode agar tidak memperpanjang masalah ini. Sedangkan Dara masih tetap di posisi awal, ia sedang merangkai penjelasan untuk diungkapkan kepada ayahnya nanti.
"Kalian berdua saya tunggu di ruang keluarga!" ujar om Rudi sebelum meninggalkan kedua gadis cantik tersebut.
Anne dan Dara saling pandang sebelum mengikuti om Rudi ke ruang keluarga. Dara terlihat santai tanpa beban sedikitpun, seakan ia bisa meluluhkan hati yang terlanjur kecewa itu.
Duduk berdampingan di sofa panjang, di sebrang meja ada om Rudi yang sedang menatap kedua gadis itu dengan kilatan amarah. Hanya Dara yang berani menegakkan kepalanya.
"Ada apa, Pi?" tanya Dara dengan santainya.
"Papi hanya ingin mendengar kamu bercerita saat liburan ke Bali kemarin," ucap om Rudi seraya menatap Dara dengan intens, "apa saja yang kalian lakukan di Bali?" lanjut om Rudi.
"Ya ... kami menginap di villa yang ada di Seminyak Pi, kami mengunjungi beberapa pantai seperti biasanya, terus kami—" Dara menghentikan ceritanya saat om Rudi menginterupsi pembicaraannya.
"Cukup, Dara!" ujar om Rudi, "sampai kapan kamu mau menipu Papi?" Om Rudi mencondongkan tubuhnya ke arah Dara.
"Kamu pikir Papi tidak tahu jika kamu berada di Bandung? Papi tidak sebodoh itu untuk kamu kelabuhi, Dar!" Pada akhirnya, hal yang ditakutkan Anne terjadi juga.
Dara mengalihkan pandangan ke samping untuk menatap Anne yang sedang tertunduk. Ia terkejut karena kekhawatiran Anne terbukti kebenarannya. Sungguh, Dara tidak menyangka jika papinya mengetahui semua kebohongannya. Dara semakin tercengang saat om Rudi mengeluarkan beberapa lembar foto dirinya saat berada di rumah sakit bersama Juna.
"Papi kecewa sama kalian berdua! Terlebih sama kamu, Dar! Mulai sekarang Papi tidak akan mengizinkan kalian pergi ke luar kota!" ujar om Rudi.
Anne dan Dara saling pandang setelah mendengar hal itu. Mereka ketakutan mendengar ancaman itu, apalagi saat mendengar ancaman yang diucapkan om Rudi setelahnya.
"Papi akan menarik kartu debit dan beberapa fasilitasmu, Dar! Kamu patut mendapatkan hukuman karena berani bermain-main dengan Papi!" ujar om Rudi seraya beranjak dari sofa, "Fokuslah dengan persiapan kuliahmu di Jepang!" lanjut om Rudi sebelum berlalu dari ruang keluarga.
__ADS_1
...🌷Selamat membaca🌷...
...🌹🌹🌹🌹🌹...