Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Manja ala Baby boy,


__ADS_3

"Kamu mau kemana?" tanya om Rudi setelah Anne kembali ke dalam kamar. Istrinya itu baru kembali dari mengantar dokter Anang sampai di teras rumah.


"Kerja dong, Pi!" jawab Anne saat berjalan menuju ranjang untuk menemui sang suami.


Ya, Anne sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Wajahnya semakin terlihat cantik karena sapuan make-up tipis ala-ala anak muda zaman now. Ia tersenyum manis setelah duduk di tepi ranjang, menatap wajah sang suami yang masam karena ia terus menertawakan kondisinya.


"Papi harus banyak istirahat, ya! Jangan mengangkat beban terlalu berat!" ucap Anne sambil menepuk paha sang suami dengan lembut, "saya ini berat loh, Pi," lanjut Anne dengan suara yang lirih. Ia terkekeh setelah mengatakan hal itu.


Om Rudi berdecak kesal mendengar ucapan sang istri. Ucapan yang jelas-jelas menyindirnya karena gaya tadi malam yang beliau minta sendiri saat bertempur. Jiwa mudanya tetap terkalahkan dengan umur yang tidak bisa dibohongi lagi. Bertempur dengan gaya berdiri sambil mengangkat tubuh sang istri seperti yang ada di film-film nyatanya kurang cocok di usia om Rudi saat ini.


"Pakai gaya normal saja ya, Pi. Jangan yang upnormal seperti anak muda," ucap Anne sambil menahan senyumnya.


Andai pinggang itu tidak sakit saat digerakkan, pasti om Rudi sudah membuat perhitungan untuk istrinya yang semakin berani itu. Beliau menatap Anne dengan tatapan yang membunuh, seakan sedang mengancam sang istri.


"Kamu boleh tertawa dan mengejek saya hari ini! Tapi lihat saja, saya akan membalas semua ini!" Ancam om Rudi seraya tersenyum smirk kepada Anne.


Anne memutar memutar bola matanya jengah mendengar ancaman sang suami. Ia menjulurkan lidah sambil menatap om Rudi, seakan sedang menertawakan ucapan sang suami. Anne pun beranjak dari tepi ranjang. Namun, om Rudi menahan pergelangan tangannya dengan cekatan.


"Mau kemana?" tanya om Rudi seraya menatap Anne.


"Kerja, Sayang! Tadi kan saya sudah bilang kalau saya mau kerja," jawab Anne dengan helaian napas yang berat.


"Siapa yang mengizinkanmu bekerja hari ini?" tanya om Rudi.


"Papi lah! Kan tadi malam saya sudah memenuhi syarat dari Papi!" Anne berusaha melepaskan tangannya.


"Jika saya tidak pergi ke kantor, maka kamu tidak usah masuk kerja! Saya ini lagi sakit loh!" Om Rudi tidak terima akan hal itu.

__ADS_1


"Kalau sampai kamu berani berangkat kerja hari ini, saya akan menelfon Pras, agar membuat surat PHK dan memblacklist namamu!" Om Rudi mengancam sang istri, karena wanita keras kepala itu pasti akan tetap pada pendiriannya.


"Jadi, kamu mau pilih yang mana? Berangkat bekerja atau menjadi istri yang baik hari ini?" tanya om Rudi dengan kedua tangan yang bersedekap.


Ancaman yang diucapkan sang suami berhasil membuat Anne kesal. Ia menghentakkan kaki beberapa kali dengan tangan yang terkepal, ia kesal karena sang suami sering mengancamnya.


"Nyebelin!" umpat Anne sebelum berlalu menuju walk in closet untuk mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian santai.


Anne lebih memilih berdiam diri di rumah daripada harus nekat berangkat bekerja. Menjadi daftar blacklist bukan pilihan yang tepat, karena tidak ada yang tahu bagaimana kehidupan di masa depan. Anne terus menggerutu di ruangan penuh almari itu karena kesal dengan pria yang sedang merasakan sakit pinggang di atas ranjang.


"Papi mau sarapan?" tanya Anne setelah keluar dari walk in closet, "biar saya bawakan ke sini," lanjut Anne setelah melihat om Rudi menganggukkan kepala.


Beberapa menit kemudian, Anne kembali lagi ke kamar bersama bi Sari yang membawa nampan berisi sarapan untuk kedua majikannya itu. Beliau segera pamit setelah menyelesaikan tugasnya.


"Ini untuk Papi." Anne menyerahkan se piring nasi goreng untuk suaminya.


Om Rudi menggeleng pelan saat melihat piring yang ada di dekatnya itu. Beliau memasang ekspresi wajah sok imut seperti anak kecil yang sedang menginginkan sesuatu, "Papi maunya disuapin," ucap om Rudi dengan suara yang dibuat semanja mungkin.


"Papi sehat 'kan? Atau Papi ada keluhan lain?" tanya Anne tanpa mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Sehat lah!" sergah om Rudi, "Papi sangat sehat!" ujar om Rudi dengan yakin.


"Papi mau disuapin!" Rengek om Rudi sekali lagi.


Anne bergidik ngeri karena melihat hal itu. Ia belum percaya jika sang suami bersikap manja kepadanya, padahal biasanya Anne lah yang manja kepada om Rudi.


"Apa Papi kesurupan tuyul ya?" batin Anne seraya menyuapkan satu sendok nasi goreng seafood kepada om Rudi.

__ADS_1


Anne melayani sang suami tanpa bersuara, hanya senyum manis yang mengiringi sarapan ala baby boy yang sedang bermanja-manja. Sekali lagi, om Rudi membuat warna baru dalam hidupnya. Pengalaman lucu yang tak pernah bisa ia lupakan.


Suara dering ponsel yang ada di atas nakas membuat Anne menghentikan aktifitasnya. Ia memberikan kode kepada om Rudi agar mengangkat panggilan video tersebut. Bisa dipastikan jika yang menelfon adalah Dara.


Om Rudi menyapa putri semata wayangnya setelah panggilan tersebut terhubung. Beliau berbicara dengan Dara sambil mengunyah makanan yang disuapkan oleh Anne.


"Dih! Papi kenapa berubah manja seperti itu sih?"


Anne hanya tersenyum saat mendengar protes dari Dara tentang sikap ayahnya yang manja. Anne menatap ke arah layar tersebut saat om Rudi mengarahkan layar ponsel ke arahnya.


"Papi encok, Dar!" ujar Anne seraya menatap wajah Dara yang memenuhi layar ponselnya, "Papi sedang merasakan kejompoannya, Dar! Manja banget lagi!" Anne mengadukan kondisi om Rudi kepada putri sambungnya.


Bukannya kasihan atau prihatin, suara tawa Dara malah terdengar kencang dari ponsel itu. Om Rudi terlihat kesal setelah mendengar anak dan istrinya yang kurang ajar. Bukannya prihatin, mereka berdua malah menjadikan beliau sebagai lelucon.


"Papi harusnya lebih banyak olahraga, dong! Biar tetap bugar." Dara menatap ayahnya dengan wajah yang berusaha keras menahan tawa, "Resiko punya istri daun muda memang begitu ya, Pi? Bikin encok mulu! Sepertinya Papi kalah sakti ya?" Seloroh Dara sebelum gelak tawanya yang renyah terdengar kembali dari ponsel yang ada di tangan om Rudi.


"Dara!" Om Rudi membelalakkan mata setelah mendengar ucapan sang putri. Beliau semakin kesal dengan kondisi memalukan ini.


Panggilan itu berakhir sepihak setelah om Rudi menekan icon merah di layar ponsel sang istri. Beliau melemparkan ponsel tersebut di sisinya. Satu piring nasi goreng pun telah habis tanpa sisa. Kini, giliran Anne untuk sarapan dan menghabiskan nasi goreng yang ada di piring lain.


"Harusnya saya juga disuapin loh ini!" ujar Anne seraya menatap om Rudi yang sedang cemberut.


Om Rudi hanya bergeming di tempatnya saat ini. Beliau menatap Anne sekilas dan setelah itu mengalihkan pandangan ke arah lain. Rasa kesal masih memenuhi pikiran beliau karena istrinya yang jahil itu.


"Kalau gak bisa makan sendiri lebih baik gak usah sarapan sekalian!" ujar om Rudi dengan nada datar dan ekspresi wajah yang dingin.


...🌹Selamat membaca🌹...

__ADS_1


...Tahu gak sih?? Waktu nulis ini othor geli sendiri😂Lagi ngebayangin om Rudi lagi mode manja🤭...


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2