
Satu gelas susu putih dan satu gelas teh panas menemani dua orang yang sedang duduk santai di balkon lantai dua. Sepasang suami istri itu mengabiskan waktu berdua di sana, merasakan hembusan angin malam yang terasa dingin di tengah udara panas Jakarta.
"Pi, saya sudah lama loh gak masuk kerja," gumam Anne setelah meletakkan ponselnya di atas meja.
"Memangnya kenapa?" tanya om Rudi yang sedang sibuk membaca majalah bisnis keluaran terbaru.
"Saya gak enak hati sama yang lain, termasuk bu Risa. Masa iya baru satu minggu kerja sudah izin empat hari," keluh Anne seraya menyandarkan kepala di lengan sang suami.
"Risa sudah tahu kalau kamu merawat saya. Sudahlah, jangan hiraukan hal itu." Om Rudi masih fokus dengan majalahnya.
"Ya sudah, kalau begitu besok saya mau masuk kerja. Papi istirahat dulu di rumah!" ujar Anne seraya mengalihkan pandangannya ke samping.
"Besok saya juga harus ke kantor karena ada RPS." Om Rudi menutup majalah tersebut dan diletakkan di atas meja.
Om Rudi meraih gelas berisi minuman hangat yang ada di atas meja. Beliau menikmati kehangatan dari minuman tersebut sambil menatap hamparan gelap dengan taburan bintang yang menghiasi.
"Cepat habiskan susunya! Setelah itu kita pindah ke kamar saja," titah om Rudi.
Setelah menghabiskan waktu tiga puluh menit untuk menghabiskan minuman. Keduanya segera masuk ke dalam rumah karena angin malam semakin kencang. Om Rudi segera menarik tangan Anne saat mengetahui sang istri akan belok menuju kamarnya.
"Kita harus tidur satu kamar!" ujar om Rudi.
Mau tidak mau, Anne harus mengikuti langkah sang suami. Lagi pula tidak ada yang mengetahui saat om Rudi membawanya ke kamar. Para ART sudah kembali ke paviliun belakang setelah jam makan malam berakhir.
"Pi, saya mau ke kamar, ganti baju dulu, ya!" ujar Anne setelah duduk di atas ranjang empuk itu.
"Udah, gak usah ganti baju! Kalau gak nyaman pakai baju itu, mending gak usah pakai baju!" ujar om Rudi tanpa berpikir panjang.
__ADS_1
"Idih! Modus!" sarkas Anne seraya meraih guling yang ada di sisi om Rudi.
Malam ini keduanya tidak ada aktifitas apapun yang menguras keringat, mengingat kondisi om Rudi belum sepenuhnya pulih. Mereka hanya ngobrol santai, membahas hal-hal yang tidak terlalu penting. Bisa dikatakan jika saat ini mereka sedang membahas film-film dewasa yang biasa ditonton oleh Anne.
"Bagaimana kalau Papi sudah pulih, kita menemui Dara di Jepang?" tanya Anne seraya merubah posisi tidurnya menghadap om Rudi, "Kita bikin kejutan gitu, biar dia senang waktu lihat Papi benar-benar sembuh," ucap Anne seraya tersenyum penuh arti.
"Boleh! Sepertinya dua minggu lagi, memang kita harus pergi ke Jepang untuk keperluan kantor. Nanti kita mampir ke tempat Dara," ucap om Rudi setelah teringat jika ada jadwal pergi ke sana.
"Ah, jadi gak sabar nunggu dua minggu lagi," ujar Anne dengan raut wajah yang terlihat bahagia.
Obrolan pun terus berlanjut, om Rudi tak henti membelai rambut sang istri dengan penuh kelembutan hingga membuat sang empu begitu cepat tertidur.
Hati yang sempat membeku, kini mulai mencair kembali karena warna yang diberikan gadis yang seumuran dengan putrinya itu. Niat hati ingin mengenang sosok wanita yang pernah hadir di masa lalu, kini niat itu hilang begitu saja. Sosok Sekar yang tak lain adalah ibu kandungnya Anne perlahan mulai terganti. Om Rudi semakin yakin jika sosok yang beliau cintai adalah Anne. Namun, di sudut hati yang lain nama ibu kandungnya Dara masih melekat di sana. Biar bagaimana pun om Rudi masih menyimpan rasa untuk wanita yang sempat menemaninya berlayar mengarungi bahtera rumah tangga hingga menghasilkan buah cinta—Danira Puspa Baskoro (Dara).
"Saya akan menjagamu sampai napas terakhir, Sayang! Aku berjanji akan hal itu karena aku tidak mau seperti ayahmu yang tidak bisa menjaga ibumu dengan baik," gumam om Rudi setelah mengecup kening sang istri.
Waktu terus berputar tanpa kenal lelah. Langit yang gelap telah pudar karena sinar hangat sang mentari menyelimuti. Jalanan kota pun dipenuhi kendaraan bermotor karena segala aktifitas telah dimulai. Kemacetan panjang telah terjadi di pusat kota dan itulah yang menjadi ciri khas kota metropolitan ini.
Anne bernapas lega karena pada akhirnya ia bisa keluar dari kemacetan panjang. Beberapa kilo lagi, ia akan sampai di kantor tanpa harus terlambat. Meskipun tinggal satu rumah bersama om Rudi, tetapi Anne tetap berangkat membawa mobil sendiri.
"Akhirnya, sampai juga!" Anne bernapas lega setelah menghentikan mobilnya di tempat parkir. Ia melirik arloji di pergelangan tangannya, masih kurang tiga puluh menit lagi jam masuk kantor.
Setumpuk berkas ada dalam dekapan tangan Anne. Berkas yang dititipkan om Rudi kepadanya sebelum berangkat ke kantor. Rencananya berkas-berkas inilah yang akan dibahas saat RPS pagi ini. Langkah demi langkah telah Anne lalui hingga sampai di depan lift. Ia mengedarkan pandangan sambil menunggu pintu lift terbuka. Keadaan di kantor terlihat ramai, tidak biasanya banyak orang berlalalu-lalang seperti pagi ini.
Anne segera masuk ke dalam lift tersebut diikuti dengan beberapa staf di belakangnya. Anne mengembangkan senyumnya untuk menyapa tiga wanita yang berdiri di dekatnya.
"Karyawan baru, ya?" tanya wanita berambut pendek sama seperti Anne.
__ADS_1
"Iya, Bu." Anne menganggukkan kepalanya dengan diiringi senyum manis.
"Kerja di bagian apa?" tanya wanita itu lagi.
"Saya sekretaris pribadinya pak Rudi," ucap Anne.
"Oh! Memang Risa mau resign, ya, kok kamu diangkat jadi sekretaris juga?" tanya wanita tersebut dengan nada yang terdengar sinis.
Anne mengalihkan tatapan matanya ke arah lain karena tidak suka dengan sikap wanita tersebut. Ia sudah tidak sabar ingin keluar dari lift agar tidak diinterogasi wanita itu lagi.
"Maaf saya kurang paham," jawab Anne tanpa iringan senyum seperti sebelumnya, "permisi!" pamit Anne setelah pintu lift terbuka.
Langkah demi langkah telah Anne lalui hingga sampai di salah satu ruangan yang bertuliskan dengan 'Meeting Room'. Sebelum membuka pintu tersebut tidak lupa Anne mengetuk pintu terlebih dahulu. Ruangan luas itu masih sepi, Anne segera meletakkan berkas yang ia bawa di meja paling depan sesuai dengan pesan dari om Rudi sebelum berangkat tadi.
"Kira-kira nanti rapatnya bahas apa, ya?" gumam Anne setelah meletakkan berkas tersebut di atas meja, "Tapi aku tidak boleh ikut dalam rapat ini, hanya Bu Risa dan pak Pras yang diperbolehkan Papi ikut." Anne mencoba memikirkan alasan kenapa dia tidak boleh mengikuti rapat ini.
"Ah sudahlah! Mungkin karena aku masih baru dan belum paham tentang RPS," ujar Anne sebelum keluar dari ruangan yang sangat luas itu.
Setelah keluar dari ruangan rapat, Anne bergegas masuk ke dalam ruangannya. Ia harus menyiapkan bahan rapat yang sudah disusun Risa untuk nanti setelah makan siang.
"Duh! Masih pagi banyak banget ini kerjaan! Gak kebayang dah jadi Bu Risa sebelum ada aku! Pasti gak sempet makan tuh karena banyak kerjaan!" gerutu Anne seraya membuka laptop.
...🌹Selamat membaca 🌹...
...Besok kita ke Jepang yuk! Mergoki Dara sama Juna dulu😀...
...🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1