
Sang dewi malam telah hadir tuk menghiasi gelapnya malam. Pesonanya berhasil membuat iri ribuan bintang. Awan gelap pun sepertinya tidak suka dengan pesona sang dewi yang menunjukkan bentuk sempurnanya.
Om Rudi terlihat resah di balkon kamarnya. Lebih dari tiga puluh menit beliau mengamati bulan yang tenggelam dibalik awan hitam. Langit nampak redup karena awan hitam berhasil menguasai sang dewi malam.
"Dara ... kamu sudah merebut guling Papi!" gerutu om Rudi setelah mengusap wajahnya kasar.
Om Rudi menghela napasnya kasar karena harus tidur sendirian di kamar. Kehangatan yang biasa beliau rasakan, kini hilang sudah dibawa pergi putrinya sendiri. Om Rudi harus mengalah selama beberapa ke depan selama Dara berada di rumah ini. Beliau berharap Juna segera tinggal di rumah ini agar tidak ada lagi yang merebut Anne darinya.
"Bisa karatan ini senjata kalau didiamkan di tempatnya!" gerutu om Rudi sambil membuka pintu yang terhubung ke dalam kamarnya.
Om Rudi menghempaskan diri di ranjang empuk yang kosong. Beliau meraih guling yang ada di sisinya untuk menemaninya tidur. Kamar yang biasa memancarkan kehangatan, kini ... sunyi sepi dan dingin.
Semua itu berbeda dengan kamar yang ada di sisi kanan kamar om Rudi. Di dalam kamar bernuansa merah muda itu, terdengar gelak tawa dua wanita yang sedang terbaring di atas ranjang. Entah, apa yang sedang mereka bahas saat ini.
"Mi, bagi tips dong biar gak cepat hamil," rengek Dara. Ia ingin menunda kehamilan sampai nanti, setelah melaksanakan pernikahan yang sah di mata hukum. Dara tidak mau jika hamil dalam waktu dekat ini.
"Kalau itu kamu harus konsultasi ke dokter. Aku pun mengikuti program dari dokter kandungan," jawab Anne setelah mengalihkan pandangan ke samping, "kamu harus didampingi Juna saat berkonsultasi," lanjut Anne.
"Apa Papi dulu mendampingimu?" tanya Dara seraya menatap Anne dengan intens.
"Tentu. Papi yang membawaku ke dokter kandungan saat itu." Anne mengalihkan pandangan dari Dara. Ia menatap langit-langit kamar, mengamati desain indah langit-langit tersebut.
"Kenapa kamu menunda kehamilan? Apa kamu tidak mau mengandung benih papi? Apa kamu akan meninggalkan papi suatu hari nanti dan kembali kepada Bagus?" Dara gusar karena pikiran buruk yang tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya.
Anne terkejut mendapatkan pertanyaan itu Dara. Sedikitpun, ia tidak punya niat untuk kembali dalam pelukan Bagus, walau nama itu terkadang membuat hatinya gundah. Anne tidak akan pernah mengusik kehidupan Bagus karena sudah cukup baginya menyakiti hati pria tak berdosa itu. Kembali ke masa lalu sama seperti membuka luka yang sudah lama tertutup.
__ADS_1
"Kenapa kamu berpikir ke sana, Dar?" tanya Anne setelah berpaling ke sisinya.
"Karena aku tahu betapa besarnya cinta kalian dulu. Aku adalah saksi nyata dari kisah cinta yang sudah lama kalian rajut," jawab Dara.
"Kamu salah besar jika melihat dari sudut pandang itu, Dar," keluh Anne dengan helaian napas yang berat.
"Aku menunda kehamilan karena belum siap hamil. Apalagi saat itu, aku harus sembunyi-sembunyi di belakangmu. Proses yang aku jalani begitu cepat, Dar. Bayangkan saja dalam waktu dekat aku tiba-tiba menikah dengan pria yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Kalau kamu kan masih enak, tiba-tiba menikah dengan pria yang kamu cintai. Coba bayangkan bagaimana rasanya jadi aku kala itu!" Anne menatap lekat manik hitam putri sambungnya.
Dara tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Bahkan, untuk membayangkan saja, rasanya Dara tidak sanggup. Ia menyesal bertanya seperti itu kepada Anne karena seharusnya Dara tidak mengungkit kejadian di masa lalu. Semua begitu berat untuk ibu sambungnya itu.
"Maafkan aku," ucap Dara dengan suara yang sangat lembut.
"Tidurlah! Kamu harus bangun lebih pagi untuk menyambut Juna besok pagi." Anne tersenyum manis seraya mengusap rambut Dara dengan lembut.
Anne tetap terjaga sampai dengkuran halus terdengar di sisinya. Dara sudah tertidur pulas sambil memeluk gulingnya. Mungkin karena lelah mengikuti acara yang berlangsung hari ini, Dara tertidur pulas sampai tidak merasakan jika beberapa kali Anne mengguncang ranjang ini.
Rasa penasaran membuatnya ingin keluar dari kamar ini. Anne berniat untuk melihat kondisi sang suami di kamarnya. Ada rasa iba dalam hatinya tatkala membayangkan sang suami berada di kamar berselimut sepi.
"Kira-kira papi ngapain, ya?" gumam Anne setelah berhasil keluar dari kamar Dara. Ia mengayun langkah menuju kamar utama.
Perlahan, Anne mulai membuka pintu kamar itu. Ia berusaha semaksimal mungkin agar pintu itu tidak berbunyi. Segera ia masuk ke dalam kamar dengan suasana lampu yang temaram. Anne mengernyitkan keningnya ketika melihat om Rudi masih asyik bermain ponsel. Seharusnya, suaminya sudah tidur saat ini.
"Sayang?" ujar om Rudi setelah mendengar suara derap langkah di dalam kamarnya. Beliau segera meletakkan ponselnya.
"Kenapa Papi belum tidur?" tanya Anne setelah sampai di sisi ranjang.
__ADS_1
"Papi gak bisa tidur!" jawab om Rudi dengan ekspresi wajah yang datar, "Apa Dara yang menyuruhmu kembali ke kamar ini?" tanya om Rudi tanpa melepaskan pandangan dari wajah sang istri.
"Tidak! Dia sudah tidur, jadi ... saya memutuskan untuk melihat Papi," jawab Anne seraya duduk di tepi ranjang, "Ya sudah Papi buruan tidur, saya temenin sampai Papi tidur," ucap Anne.
Binar bahagia terlihat jelas di wajah pria matang itu. Om Rudi segera berbaring di tempatnya. Beliau menepuk bantal yang ada di sisinya agar Anne segera tidur di tempat tersebut. Rasa dingin yang sempat terasa di dalam kamar ini, kini hilang sudah karena kehadiran Anne di sini. Kehangatan kembali dirasakan oleh om Rudi. Beliau menjadikan Anne guling bernyawa yang menemani beliau sebelum tidur.
"Kebiasaan!" protes Anne tatkala mulai merasakan tangan om Rudi menelusup di balik piyama yang dipakai oleh Anne.
Ya, itulah kebiasaan yang dilakukan om Rudi sebelum tidur. Mencari squizi untuk dimainkan meskipun tidak melakukan ritual mengasah tombak di dalam rawa. Kebiasaan bermain-main dengan squizi Anne itulah yang membuat beliau resah saat tidur berjauhan dengan Anne.
"Seharusnya Papi tidak melakukan kebiasaan ini! Tidak selamanya kita itu tidur bersama setiap malam. Papi tuh ya, semakin lama semakin manja. Padahal Papi dulu enggak begini loh!" protes Anne seraya menengadahkan kepalanya agar bisa menatap om Rudi.
Senyum tipis terlihat menghiasi bibir om Rudi. Tanpa membuka kelopak matanya yang sudah tertutup, om Rudi mengecup puncak rambut Anne beberapa kali. Beliau sendiri tidak tahu kenapa bisa bersikap seperti itu saat bersama Anne.
"Papi hanya menikmati waktu bersama kamu, Sayang. Bertahun-tahun tidur sendiri dan kesepian membuat Papi menjadi seperti ini. Papi hanya ingin mendapatkan kehangatan cinta dari istri Papi, dan hanya kamu yang mampu memberikan semuanya," ucap om Rudi tanpa melepaskan tangannya dari squizi yang terbungkus kain berenda berwarna kuning itu.
...🌷Selamat membaca🌷...
...Haduuuh!! Ini om-om meresahakan kali😀Anda tidak akan bisa seperti ini om jika othor sudah mulai memberi konflik!😝...
➖➖➖➖➖➖❤️❤️❤️❤️➖➖➖➖➖➖
Selamat siang Reader kesayangan othor😍 Jangan lupa baca karya dari Lusiana Anwar dengan judul Muhasabah Cinta. Novel keren ini wajib kalian baca loh sambil nunggu othor update😍
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...