Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Pertemuan tak terduga.


__ADS_3

Amarah yang tersimpan di hati perlahan pudar karena mendapatkan curahan cinta dari pasangan. Setelah makan malam romantis usai, om Rudi membawa daun mudanya itu menuju salah satu hotel bintang lima di Jakarta selatan. Menghabiskan waktu di akhir pekan dengan melepas rindu yang menggebu selama dua hari ini.


Malam ini benar-benar digunakan om Rudi dengan baik. Beliau tidak mau membiarkan waktu berlalu begitu saja tanpa adanya permainan. Walaupun terkadang hanya melakukan permainan kecil.


Lagi dan lagi, wanita berusia dua puluh tiga tahun itu bertekuk lutut karena pesona sang suami. Berkali-kali Anne mencapai puncak nirwana setelah terbang menembus awan karena serangan pedang sakti. Sang pemilik begitu mahir dalam bermain hingga mampu membuat daging empuk itu terkoyak.


Permainan terulang lebih dari tiga kali dalam semalam. Peluh terus bercucuran meski suhu AC dalam temperatur paling dingin. Rasa lelah mendadak sirna begitu saja kala rasa nikmat mulai menghantam dinding pertahan.


Malam minggu penuh warna pada akhirnya usai setelah keduanya tak mampu lagi mengeluarkan lenguhan.


...♦️♦️♦️♦️♦️...


Suara dering telepon di ponsel om Rudi beberapa kali berhasil mengganggu tidur nyenyaknya, dengan mata yang menahan kantuk, om Rudi mencari keberadaan ponselnya. Beliau turun dari ranjang setelah teringat jika ponsel itu ada di dalam saku celana yang tercecer di lantai.


"Iya, Dar. Ada apa, Nak?" tanya om Rudi setelah menerima telfon dari putrinya itu.


"Mici di mana sih, Pi? Dari tadi Dara telfon gak diangkat?" tanya Dara dengan suara yang terdengar kesal.


"Mici?" Om Rudi mengalihkan pandangan ke ranjang, "Mici masih tidur, Nak. Ada apa?" tanya om Rudi setelah duduk di tepi ranjang.


"Tidur? Gak salah, Pi? Di sini udah sore loh, Pi! Seharusnya di Indonesia kan sudah siang!" Protes Dara. Mungkin ada hal penting yang membuatnya harus berbicara dengan Anne.


Om Rudi menjauhkan ponselnya untuk melihat waktu yang ada di sana. Memang benar, saat ini ternyata waktu menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Obrolan bersama Dara segera berakhir tatkala om Rudi merasakan gejolak di dalam perutnya.


Om Rudi menghabiskan waktu selama tiga puluh menit untuk menuntaskan sesuatu yang membuat beliau tidak nyaman. Setelah menuntaskan hajat besar, beliau segera mandi agar tubuhnya terasa lebih segar.


Korden putih yang menutupi jendela kaca besar itu akhirnya terbuka lebar tatkala om Rudi menekan remote yang ada di atas nakas. Cahaya terang mulai menerobos masuk ke dalam kamar itu hingga membuat Anne menarik selimut.


"Papi, saya masih ngantuk!" ucap Anne dengan suara yang serak.


"Bangun dulu, yuk! Kita harus sarapan dulu. Nanti kamu bisa melanjutkan tidur lagi." Om Rudi mengusap rambut sang istri dengan lembut.

__ADS_1


"Tium dulu ah, Pi!" Anne begitu manja pagi ini kepada sang suami.


Ingin rasanya om Rudi menelan habis istrinya itu.Beliau segera mendaratkan kecupan mesra hampir di seluruh wajah sang istri. Semakin lama Anne semakin manja kepada suaminya itu.


"Buruan mandi, Sayang! Setelah ini ada petugas hotel yang mengantarkan makan siang kita," ucap om Rudi seraya membantu Anne bangun dari tempatnya saat ini.


"Gendong, Pi? Saya lemes," ucap Anne dengan suara yang sangat lembut.


"No! Papi gak mau encok lagi," tolak om Rudi tanpa berpikir panjang. Beliau tidak mau hal itu terjadi lagi karena akan menghambat semua pekerjaan beliau.


Anne mengerucutkan bibirnya setelah mendengar hal itu. Ia segera turun dari ranjang dan mengayun langkah menuju kamar mandi. Tubuhnya terasa remuk redam setelah merasakan gempuran sang suami tadi malam.


Sepasang suami istri itu menghabiskan hari minggu di dalam kamar hotel. Mereka tidak melakukan apapun lagi siang ini karena sepertinya tenaga sudah terkuras habis. Mereka berdua sama-sama hanya menggunakan bathrobe, karena tidak membawa pakaian ganti.


Om Rudi tak lupa mengatakan jika putrinya tadi mencari istrinya. Anne segera menghubungi Dara karena mungkin saja ada perihal penting yang ingin disampaikan putri sambungnya itu.


Obrolan Anne dan Dara terdengar di sana. Om Rudi sengaja menyuruh Anne untuk menghidupkan loud speaker, karena beliau ingin tahu apa yang akan disampaikan putrinya itu.


"Selamat mencoba, Dar," ucap Anne sebelum mengakhiri panggilan bersama Dara.


"Ih! Papi! Apanya sih yang lucu?" tanya Anne setelah sang suami melepaskan tawa yang sejak tadi ditahan.


"Papi geli saja mendengar anak Papi konsultasi masalah seksual kepada kamu." Om Rudi sampai mengeluarkan air mata karena terus tertawa, "ternyata anak Papi yang sangat manja, sekarang sudah menjadi seorang istri. Haaah ... rasanya waktu begitu cepat berlalu." Om Rudi menghela napasnya.


***


Rona jingga telah hadir di cakrawala barat untuk mengiringi kembalinya sang surya ke peraduan. Tepat pukul lima sore, Anne dan om Rudi check out dari hotel. Mereka berada di lobby sambil menunggu pak Botak yang terjebak macet tak jauh dari hotel ini.


Anne dan om Rudi duduk di ruang tunggu lobby sambil mengamati orang yang berlalu lalang. Pria matang itu mulai resah karena ini adalah yang pertama kalinya beliau menunggu kedatangan sang sopir.


"Sabar, Pi! Mungkin jalanan macet panjang! Secara, ini kan hari libur. Mungkin banyak yang baru pulang dari liburan." Anne mengusap punggung tangan sang suami dengan lembut.

__ADS_1


Om Rudi hanya berdecak mendengar hal itu. Jika saja bukan Anne yang menenangkan, sudah bisa dipastikan beliau akan memberi peringatan kepada sopirnya itu.


Penampilan Anne dan om Rudi membuat beberapa orang sempat mengamati mereka. Anne memakai gaun yang ia pakai kemarin malam saat dinner romantis dengan sang suami. Untung saja punggung mulusnya tertutup blazer. Namun, kaki mulusnya tetap saja terekspos dengan jelas.


"Ayo, Pi!" Anne berdiri dari tempatnya saat ini tatkala melihat mobil sang suami masuk dari gerbang hotel. Ia berjalan sambil menggandeng tangan om Rudi tanpa memperdulikan tatapan orang yang ada di sekitarnya.


Namun, langkah itu harus terhenti tatkala berpapasan dengan seorang wanita yang sangat dikenalinya sedang mendorong troly berisi paket roti. Pandangannya bersirobok dengan wanita yang seumuran dengan om Rudi.


"Tante," gumam Anne dengan pandangan yang tak lepas dari sosok berjilbab itu.


"Anne? Kamu Anne?" Wanita itu terkejut ketika bertemu dengan Anne.


Jantung Anne berdebar tak karuan setelah bertemu dengan sosok wanita yang dulu sering ia temui. Wanita itu tak lain adalah ibunya Bagus—Tante Ani. Ia terlihat salah tingkah di hadapan wanita yang sedang mengamatinya itu.


"Apa kabarmu, Nak? Apa hidupmu sudah bahagia?" tanya tante Ani dengan mata yang berembun, "Apa kamu tahu, jika putraku hancur karena kepergianmu, Nak!" ujar tante Ani hingga membuat Anne menundukkan kepalanya.


"Kabar istri saya sangat baik, Nyonya. Kami permisi dulu." Om Rudi menjawab pertanyaan dari wanita tersebut.


Om Rudi tidak mau sang istri bertemu dengan wanita berjilbab itu lama-lama, karena beliau tahu jika wanita tersebut adalah ibu dari mantan kekasih sang istri. Lagi pula, mobil yang menjemput beliau pun sudah menunggu di depan lobby. Pak Botak sudah berdiri di sisi mobil siap membukakan pintu untuk majikannya itu.


"Tante, maafkan saya ... mungkin kita bertemu di saat yang tidak tepat. Saya minta maaf karena membuat putra tante terluka," gumam Anne dalam hati sambil menatap wajah sendu tante Ani.


...🌹Selamat membaca🌹...


...Tenang, ini hanya pemanis. Bukan konflik kok😂...


➖➖➖➖➖➖♥️♥️♥️♥️➖➖➖➖➖


Selamat sore😍Kuy baca karya keren dari author M Anha dengan judul Aku Juga Ingin Bahagia. Kalian wajib membaca karya ini biar gak ketinggalan ceritanya yak😍


__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2