Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Ketakutan!


__ADS_3

Cuaca panas di kota Jakarta berhasil melelehkan perasaan yang membeku. Anne menangis dipelukan Dara. Ia tidak sanggup mengatakan lebih jauh lagi tentang masalah yang ia hadapi saat ini.


"Katakan, An! Siapa pria brengsek yang membuatmu seperti ini! Kenapa kamu tidak bilang padaku atau kepada Papi jika membutuhkan uang untuk biaya rumah sakit?" cecar Dara seraya menatap mata sembab Anne.


Anne hanya menggeleng pelan saat Dara mengajukan pertanyaan itu. Sungguh, jika saja Anne mampu meluapkan semuanya saat ini pasti ia lakukan. Namun, semua itu tidak mudah untuk dilakukan. Banyak hal yang harus ia pertimbangkan sebelum membongkar semua kejahatan om Rudi.


"Ya, justru karena aku bicara dengan papimu, aku jadi seperti ini, Dar!"


Anne hanya mampu menjawab pertanyaan Dara dalam hatinya. Pikirannya mulai berkelana jauh untuk mencari alasan yang tepat agar Dara tidak membahas masalah ini lagi.


"Aku tidak mau merepotkan kamu dan om Rudi lagi. Kalian sudah banyak membantuku selama ini. Aku memutuskan untuk berjuang sendiri walau dengan cara yang salah. Namun, takdir berkata lain, Dar! Ibu tetap meninggalkan aku," ujar Anne dengan kepala yang tertunduk.


Anne terisak kembali saat mengenang almarhum bu Ningrum. Ia belum bisa menerima segala kenyataan yang ada. Terkadang rasa putus asa datang menghampiri. Namun, semua sudah terjadi dan tidak mungkin untuk disesali.


"Dar! Tolong jaga rahasia ini! Jangan sampai siapapun mengetahuinya termasuk ayahmu! Karena pria itu sangat berbahaya. Aku tidak mau orang-orang di sekitarku ikut terseret arus deras ini!"


"Tolong, Dar! Biarkan aku menjalani semua ini sendiri. Aku harus menerima semua keputusan yang sudah aku ambil! Jadi aku mohon padamu ... kali ini jangan ikut campur masalah ini. Anggap saja tidak terjadi apapun," ucap Anne dengan sorot mata penuh harap.


Dara hanya diam saat Anne menggenggam tangannya. Ia mencoba untuk mencerna semua yang diceritakan oleh Anne. Kasih sayangnya yang tulus berhasil membuat Dara mengangguk pelan, tanda jika ia kali ini setuju untuk tidak mencampuri segala urusan Anne.


"Baiklah, kali ini aku tidak akan mencari tahu ataupun mencampuri urusanmu, tapi jika kamu membutuhkan bantuan, jangan sungkan untuk memintanya padaku, An! Aku sangat menyayangimu dan lagipula sejak dulu aku sudah menganggapmu sebagai saudaraku," ucap Dara seraya merengkuh tubuh Anne ke dalam pelukannya.


Kalimat panjang yang diucapkan oleh Dara seperti sebuah belati yang menyayat hati. Perih. Namun, mau bagaimana lagi, semua sudah terlanjur terjadi. Nasi pun sudah menjadi bubur.


"Terima kasih, Dar! Aku pun sangat menyayangimu," jawab Anne setelah mengurai tubuhnya dari dekapan hangat sang sahabat, "tolong jangan memberitahu papimu tentang masalah ini, aku mohon!" ucap Anne penuh harap.


Dara tersenyum simpul, ia menganggukkan kepala sebagai jawaban. Kedua gadis cantik itu, akhirnya membahas perihal lain karena Dara mulai membahas masalahnya bersama sang kekasih. Tidak berselang lama, ponsel Dara berdering. Ekspresi wajah itu mendadak ceria setelah melihat siapa yang menghubunginya.

__ADS_1


"An, aku angkat telfon dari Juna dulu, ya," pamit Dara sebelum beranjak dari sisi Anne.


...****************...


Sang dewi malam telah hadir menguasai langit gelap tanpa hamparan bintang. Semilir angin malam masuk ke dalam kamar seorang Gadis yang di dominasi warna merah muda. Suara gelak tawa dua gadis yang berbeda terdengar di sana tuk mengisi malam yang sunyi.


"Terus Juna tadi ngapain ke Jakarta?" tanya Anne setelah mendengarkan cerita dari Dara.


Tadi siang setelah pulang dari kampus. Dara ternyata menemui kekasihnya yang datang ke kota besar ini sedangkan Anne memilih jalan-jalan sendiri ke pusat perbelanjaan untuk melepaskan semua beban yang ada di atas pundaknya.


"Dia ada urusan di Kampus Airlangga," jawab Dara tanpa menatap Anne. Ia sibuk menatap langit-langit kamar, "An, aku sebenarnya sedang galau!" Dara mengalihkan pandangan ke samping.


"Galau? Kenapa?" Anne mengernyitkan keningnya mendengar keluhan Dara.


"Aku pengen melanjutkan S2 ke luar negeri, An! Masalahnya, papi pasti tidak mengizinkan aku kuliah ke Jepang!" keluh Dara setelah duduk bersandar di headboard ranjang.


Tentu saja hal itu membuat Dara berdecak. Ia menggerakkan bola matanya ke kiri dan ke kanan, "kamu tau aja sih!" ujar Dara


"Tadi Juna memberitahuku jika dia mendapat beasiswa kuliah S2 di Jepang. Pihak kampus Jepang sendiri yang mengundang Juna kuliah di sana karena ... ya, kamu kan tahu sendiri jika dia pintar!" Dara menjelaskan apa yang tadi disampaikan oleh Juna kepadanya.


"Ya sudah bilang saja ke papimu! Cari alasan yang tepat biar dapat persetujuan!" ujar Anne tanpa berpikir panjang.


Penunjuk waktu sudah berada di angka sebelas malam. Anne segera keluar dari kamar itu setelah Dara tertidur pulas. Ia seperti seorang ibu yang sedang membacakan dongeng sebelum tidur kepada anaknya.


Lampu-lampu yang biasa menjadi penerang di lantai dua telah mati dan berganti dengan lampu temaram yang ada di sudut-sudut lantai dua. Anne mengayun langkah menuju kamarnya untuk beristirahat. Namun, langkah Anne harus terhenti setelah membuka pintu kamar itu. Anne melihat om Rudi duduk di tepi ranjangnya.


"Ada apa Om datang kesini?" tanya Anne setelah menutup pintu kamarnya.

__ADS_1


Om Rudi hanya tersenyum tipis setelah mendengar pertanyaan dari istri kecilnya itu. Beliau segera beranjak dari tepi ranjang dan berjalan menuju tempat Anne berdiri saat ini.


Anne tidak bisa berkutik saat om Rudi semakin mendekat ke arahnya. Ia menyandarkan diri di dinding sebelah bingkai pintu. Tubuhnya semakin meremang saat tubuh tinggi sang suami menghimpit tubuhnya di dinding tersebut. Om Rudi mengukung Anne di dinding itu.


"Kamu tidak bisa terus-terusan menghindari Om, An," gumam om Rudi dengan suara yang lirih. Jari jemari itu menyusuri pipi mulus Anne dengan gerakan yang sangat lembut.


"Saya belum siap!" jawab Anne dengan kelopak mata yang tertutup rapat. Jujur saja ia sangat takut dengan om Rudi saat ini.


Om Rudi hanya tersenyum mendengar jawaban dari Anne. Sebenarnya, om Rudi hanya ingin menggoda Anne. Beliau pun tahu jika tidak mudah untuk mendapatkan semua perasaan cinta sang istri.


"Saya sedang datang bulan!" ujar Anne saat membuka kelopak matanya.


Senyum om Rudi semakin lebar saat mendengar alasan yang diucapkan oleh Anne untuk menolaknya. Beliau semakin menghimpit tubuh itu di dinding kamar.


"Baiklah, jika kamu memang belum siap, Om masih sabar menunggumu! Tapi ...."


Om Rudi menjeda ucapannya dengan diiringi senyum smirk yang membuat kaki Anne bergetar. Ia benar-benar takut dan belum siap menyerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk pria yang pantas menjadi orangtuanya itu.


"Biarkan Om tidur di kamar ini!" ujar om Rudi.


...🌹Selamat Membaca🌹...


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


Halo semua😍 Kuy othor mau merekomendasikan karya super keren untuk kalian😍Jangan lupa baca yak biar gk penasaran karya dari author Covievy dengan judul CEO Playboy Terjerat Nona Hacker❤️ Wow judulnya aja udah bikin penasaran kan😍


__ADS_1


...🌹🌹🌹...


__ADS_2