Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Love you more,


__ADS_3

Aroma obat-obatan khas di rumah sakit mulai menyeruak ke dalam indera penciuman Anne. Ia belum berani membuka kelopak matanya karena merasa takut. Kejadian yang sudah ia alami masih terekam jelas dalam ingatan. Anne takut ketika membuka mata melihat wajah pria jahat yang menembak kakinya.


Sayup-sayup Anne mendengar suara pria yang sangat ia rindukan itu. Ia mulai mengumpulkan keberanian untuk membuka kelopak mata setelah yakin jika suara pria yang ada di ruangannya adalah suara om Rudi.


Kelopak mata yang tertutup itu mulai mengerjap pelan. Manik hitamnya menangkap sosok pria yang sedang tersenyum manis, dengan segera Anne membuka kelopak matanya lebar.


"Papi!" ujarnya seraya terhenyak dari tidurnya. Anne menghambur ke dalam pelukan hangat sang suami.


"Saya takut, Pi! Saya takut!" ujar Anne dengan suara yang bergetar, "Roy! Menembak kaki saya, Pi! Kaki saya tidak diamputasi kan, Pi? Terus anak kita selamat kan, Pi?" Anne merancau dalam dekapan hangat itu.


Om Rudi masih bungkam, beliau hanya membelai rambut sang istri dengan penuh kasih, "Sayang, tenanglah! Semua baik-baik saja," ucapnya setelah beberapa detik terdiam.


Anne segera mengurai tubuhnya, lalu Ia menyingkap selimut tebal yang menutupi kakinya. Anne mengernyitkan kening setelah melihat keadaan kakinya—tidak ada luka tembak seperti yang ia bayangkan. Hanya ada luka lecet karena benturan aspal.


"Jadi Roy tidak menembak kaki saya?" tanya Anne seraya menatap sang suami.


"Tidak, Sayang," jawab om Rudi seraya tersenyum manis, "kamu dan calon anak kita baik-baik saja." Om Rudi tersenyum penuh arti.


Helaian napas berat terdengar di sana. Anne menundukkan kepala sambil mengusap perutnya. Ia sangat bersyukur karena selamat dari insiden mengerikan yang terjadi tadi malam.


"Roy akan mendapatkan balasan yang setimpal atas semua perbuatannya karena berani menyentuh kamu!" ujar om Rudi seraya menatap Anne.


"Jangan! Jangan melakukan apapun, Pi! Saya sedang hamil," sergah om Rudi.

__ADS_1


"Please! Jangan kotori tangan Papi dengan semua itu!" Anne menatap om Rudi penuh harap, "biarkan hukum yang menjerat dia, Pi," ujar Anne tanpa melepaskan pandangan dari wajah sang suami.


Om Rudi mengusap wajahnya kasar setelah melihat sorot mata sang istri. Ada benarnya jika beliau tidak melakukan sesuatu yang mengerikan kepada pria muda bernama Roy itu. Apa yang diucapkan oleh Anne tentang kehamilannya, membuat om Rudi harus memutar otak untuk memberikan hukuman kepada pria yang sedang dirawat di rumah sakit, karena luka tembak dari salah satu bodyguard yang mengawasi Anne.


"Ya sudah, tenangkan dirimu dulu! Kamu harus dirawat di rumah sakit dulu sampai dokter menyatakan kandunganmu baik-baik saja," ucap om Rudi setelah duduk di tepi ranjang Anne.


Air mata mulai menggenang di pelupuk mata. Anne menatap wajah tampan yang sedang mengembangkan senyum manisnya. Bulir air mata mulai membasahi pipi kala om Rudi mulai membenarkan helaian rambut yang menutupi keningnya.


Sekali lagi, Anne menghambur ke tubuh yang ada di hadapannya itu. Ia terisak karena segala rasa yang membuncah di dada. Cukup lama Anne memeluk tubuh itu untuk melepaskan rindu yang membelenggu diri. Anne menyesal karena tidak mengindahkan permintaan sang suami untuk kembali ke rumah. Sekarang ia tahu, bahwa berada jauh dari sang suami sangat membahayakan keselamatannya.


"Pi, saya minta maaf atas semua yang saya lakukan," ucap Anne di sela-sela isak tangisnya, "saya menyesal melakukan semua ini. Tolong maafkan saya, Pi." Anne semakin tergugu dalam dekapan hangat sang suami.


Om Rudi tersenyum tipis mendengar penyesalan sang istri. Inilah yang diharapkan om Rudi selama ini—kembali bersama istri tercinta, "Sayang, jangan menangis lagi, oke!" ujar om Rudi setelah mengurai tubuh sang istri.


Anne menutup kelopak matanya saat merasakan kecupan mesra dari sang suami. Sudah lama ia tidak merasakan semua ini. Air mata semakin mengalir deras karena terharu melihat sikap om Rudi. Anne benar-benar menyesali semua perbuatan yang sudah ia lakukan kepada om Rudi.


Kecupan itu berakhir di bibir tanpa polesan make-up milik Anne. Untuk pertama kalinya bibir itu saling bersentuhan setelah sekian lama terpisah. Senyum manis mengembang dari bibir om Rudi tatkala melihat sorot mata sang istri yang mengisyaratkan kerinduan.


"Papi minta maaf atas semua perbuatan Papi di masa lalu. Sungguh, Papi menyesal sudah melakukan semua itu kepada ayahmu. Papi berada di bawah tekanan saat itu, Sayang." Om Rudi menatap sang istri dengan sorot mata sendu.


Anne kembali menghambur ke dalam pelukan hangat sang suami. Ia tergugu karena perasaan yang membaur menjadi satu. Anne bertekad untuk melupakan semua kejadian di masa lalu. Ia hanya ingin hidup tenang dan bahagia bersama sang suami.


"Papi janji akan mencintai dan menyayangi kamu sepenuh hati. Papi akan menjadi suami, ayah dan teman yang baik untukmu, Sayang! Papi akan menjamin jika kamu tidak akan kekurangan apapun lagi! Papi akan menghapus semua lukamu di masa lalu, Sayang." Om Rudi mendaratkan kecupan di puncak rambut sang istri setelah mengucapkan semua kalimat panjang itu.

__ADS_1


Anne semakin tergugu mendengar penyesalan sang suami. Ia semakin mengeratkan pelukannya di tubuh itu. Anne benar-benar yakin jika di hatinya hanya ada cinta untuk sang suami.


"Saya memaafkan kesalahan Papi di masa lalu. Saya mau melupakan semua itu, Pi!" ucap Anne tanpa menatap wajah sang suami.


Om Rudi mengurai tubuh sang istri. Sekali lagi beliau mengusap pipi yang dipenuhi air mata. Kedua manik hitam itu saling bersirobok, mengisyaratkan semua ungkapan cinta yang ada di dalam diri.


"Kamu mau kan kembali ke rumah dan menjalani hari-hari seperti biasanya?" tanya om Rudi tanpa melepaskan pandangannya.


"Iya, saya bersedia, Pi! Saya akan menjadi istri yang berbakti," ucap Anne dengan suara yang bergetar.


Pada akhirnya om Rudi bisa bernapas lega setelah mendengar jawaban sang istri. Setelah ini beliau kembali merasakan perhatian dan kehangatan cinta kasih dari wanita yang sedang mengandung buah hatinya.


"Sayang, selama ini kamu belum pernah mengungkapkan perasaanmu kepada Papi. Kali ini Papi ingin mendengar langsung pernyataan cinta darimu di saat sadar seperti saat ini," ucap om Rudi dengan sorot penuh harap.


Tentu saja permintaan itu berhasil membuat Anne tersipu malu. Ia menundukkan kepala untuk menyembunyikan wajahnya yang merona. Mungkinkah ia harus mengatakan semua itu, padahal om Rudi sudah tahu bagaimana perasaannya.


"Saya mencintai Papi," ucap Anne setelah menegakkan kepalanya, ia menatap wajah om Rudi dengan intens, "I love you more, Papi." Anne menatap dalam manik hitam sang suami.


... 🌹Selamat membaca🌹...


...Ada yang kangen gak sih sama ehem-ehem mereka?🤭...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2