
"Kamu lebih baik tinggal di situ saja dulu, aku belum bisa pulang, Dar! Aku harus menginap," ucap Anne seraya mondar-mandir di balkon apartment, "jaga diri baik-baik! Jangan sampai kebablasan sama si Jun!" ucap Anne dengan suara yang lirih.
Setelah ngobrol beberapa menit, panggilan bersama Dara terputus. Anne segera kembali ke ruang keluarga untuk menemani sang suami di sana. Lagi pula, cuaca di luar sedang tidak bersahabat. Angin bertiup kencang meski langit telah berubah menjadi gelap.
"Bagaimana?" tanya om Rudi setelah Anne duduk di sisinya.
"Aman! Dara tidak curiga. Saya menyuruh dia agar tetap tinggal di apartment karena dia takut jika di rumah sendirian," tutur Anne setelah meletakkan ponselnya di atas meja.
"Takut?" Om Rudi meyakinkan apa yang baru saja didengarnya, "Takut setan maksudnya?" tanya om Rudi.
Anne mengangguk pelan, lalu ia menceritakan apa yang terjadi kemarin siang, saat Dara memanggil mami Mona. Bukannya marah, om Rudi malah tertawa lepas setelah mendengar cerita Anne sampai selesai.
"Om yakin, jika paranormal itu palsu!" ujar om Rudi di sela sela tawa renyahnya.
"Ya iya lah! Terawangan mami Mona salah! Karena di kamar saya kan bukan kuntilanak penghuninya, tapi ini!" Anne menunjuk hidung om Rudi, "yang bener tuh bapak kunti!" ujar Anne seraya menarik ujung hidung tersebut.
"Bapak kunti ini nih! Yang selalu menghantui di kamar saya!" kelakar Anne dengan diiringi tawa renyah setelahnya.
Suara gelak tawa keduanya berhasil mengusir rasa sepi yang hadir dalam apartment ini. Keduanya menghabiskan waktu dengan membahas kelucuan mami Mona. Om Rudi sampai meneteskan air mata karena tidak sanggup lagi mendengar cerita dari sang istri.
"Cukup, An! Cukup!" om Rudi menginterupsi,
"Harusnya saya berterima kasih kepada Mami Momon itu, karena dia berhasil membuat Dara takut dan tidak mau masuk ke dalam kamarmu, dia telah melancarkan jalanku untuk memenuhi kewajiban," ujar om Rudi sambil menyeka sudut matanya yang basah.
Keduanya menikmati waktu berdua yang jarang sekali terjadi seperti saat ini. Mereka bebas berekspresi tanpa rasa takut sedikitpun. Anne merebahkan kepalanya di atas pangkuan om Rudi, mereka tengah menikmati film yang terputar di layar televisi.
"Duh! Sexy banget sih, si Evan Chris!" gumam Anne saat melihat film yang dibintangi salah satu artis Hollywood legendaris itu.
__ADS_1
Entah mengapa, om Rudi mendadak cemberut setelah mendengar sang istri memuji pria lain, walaupun itu artis terkenal. Baginya, aktor yang baru saja di puji oleh sang istri terlihat biasa saja. Segera tangan om Rudi menutup mata sang istri dengan telapak tangannya.
"Om! Apaan sih!" teriak Anne sambil mencoba menyingkirkan telapak tangan itu.
"Kenapa sih, Om?" tanya Anne setelah menengadahkan kepala agar bisa menatap wajah sang suami.
"Aku tidak suka jika kamu memuji pria lain!" ujar om Rudi yang berhasil membuat Anne mengulum senyum.
Anne kembali mengalihkan pandangan ke arah televisi, ia tidak menyangka jika suaminya itu bisa menunjukkan sikap posesif dan cemburu, padahal yang ia lihat seorang artis luar negeri yang tidak mungkin ia temui.
"Gak usah cemburu kali, Om! Lagian, itu artis jadi wajar kalau dikagumi banyak orang," cibir Anne dengan pandangan yang tak lepas dari layar televisi itu, "Lagi pula Om kan, udah Tu ... eh, dewasa! Jadi, pasti tahu dong mana yang harus dicemburui," celetuk Anne tanpa ragu.
Hembusan napas berat terdengar di sana, Om Rudi hanya bisa tersenyum mendengar penuturan sang istri. Ya, beliau sendiri memaklumi hal itu, karena beliau sadar jika Anne belum cukup dewasa untuk menyikapi kecemburuan dengan pemikiran yang lebih luas.
"Sayang, cemburu itu tidak memandang umur. Tua atau muda, seorang pria pasti akan cemburu jika pasangannya mengagumi pria lain." Om Rudi tak henti membelai rambut sang istri dengan gerakan yang lembut.
Sikap yang ditunjukkan om Rudi semakin membuat Anne merasa nyaman. Rasanya, ia ingin tinggal berdua di tempat ini agar bebas bermanja-manja di pangkuan sang suami. Anne bisa merasakan kasih sayang om Rudi yang tulus. Namun, ia belum mengetahui bagaimana perasaannya terhadap pria matang yang sedang membelainya itu, entah itu cinta atau sekadar rasa nyaman saja.
"Ayo kita ke kamar! Kita harus banyak istirahat agar tubuh tetap fit!" ajak om Rudi.
...♦️♦️♦️♦️...
Minggu pagi disambut oleh senyum hangat sang mentari. Hari libur yang ditunggu banyak orang akhirnya tiba. Kendaraan lalu lintas pun masih sepi karena mungkin sebagian penghuni kota Jakarta selatan masih asyik bergelung dalam selimut.
Semua itu sangat berbeda dengan sepasang suami istri yang sedang duduk berdampingan di ruang makan. Mereka berdua terlihat rapi walau masih terlalu pagi, entah, mereka mau pergi kemana.
"Sayang, tidak bisakah kamu kembali besok pagi saja?" tanya om Rudi setelah menyelesaikan sarapannya.
__ADS_1
"Tidak bisa, Om! Kalau saya kembali besok, kasihan Dara," jawab Anne seraya mengalihkan pandangan ke arah om Rudi.
"Hmmm ... baiklah." Om Rudi hanya bisa pasrah melepas sang istri kembali dari apartment ini.
Beberapa menit kemudian, sarapan bersama telah usai. Anne mengayun langkah menuju kamar untuk mengambil tasnya, sedangkan om Rudi menunggu Anne di depan lift. Rencananya, pagi ini om Rudi sendiri yang mengantarkan Anne ke apartment lama.
"Mari, Om!" ucap Anne setelah sampai di tempat om Rudi berada.
Jalanan kota masih sepi, mungkin, semua orang masih di rumah untuk menikmati hari libur bersama keluarga. Om Rudi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Pandangannya fokus ke depan sedangkan Anne sibuk dengan ponselnya. Ia berusaha menghubungi Dara tapi belum ada respon sejak tadi pagi.
Setelah membelah jalanan selama beberapa puluh menit, pada akhirnya mobil hitam itu berhenti di luar pagar gedung yang menjulang tinggi itu. Sebelum keluar, tidak lupa Anne pamit kepada suaminya, Ia mengecup punggung tangan itu beberapa detik dan setelah selesai, ia keluar dari mobil tersebut.
"Hati-hati," ucap om Rudi sebelum Anne menutup pintu mobil.
Langkah demi langkah telah Anne lalui hingga sampai di depan lift menuju unit yang ditempati oleh Dara saat ini. Ia segera masuk begitu lift tersebut terbuka dan beberapa menit kemudian, ia sampai di tempat tujuan.
Suasana di dalam sana masih temaram. Anne terus melangkah hingga langkahnya terhenti di ruang keluarga. Ia menemukan Juna tidur di sofa itu dengan tubuh yang tertutup selimut tebal.
"Kalau Juna tidur di sini, terus Dara kemana?" gumam Anne seraya mengedarkan pandangan.
Anne mencari Dara di beberapa kamar yang ada di sana, pada akhirnya Anne tahu jika Dara tidur di salah satu kamar yang terkunci. Anne merasa lega karena kedua sejoli itu tidak tidur satu kamar.
"Syukurlah, mereka tidak melakukan apapun! Aku pikir mereka tidur satu kamar dan melakukan itu ...." gumam Anne saat menghempaskan diri di sofa panjang yang ada di ruang tamu.
...🌹Selamat membaca 🌹...
...🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1