
Suara isak tangis Anne terdengar menyayat hati saat berada di pemakaman bu Ningrum. Rasanya, hari ini adalah hari menyedihkan bagi Anne di sepanjang hidupnya. Perjuangan yang ia lakukan ternyata sia-sia karena sosok yang ia perjuangkan akhirnya pergi meninggalkannya.
Tubuh ramping itu luruh begitu saja di atas tanah pemakaman setelah pemasangan batu nisan telah selesai. Beberapa orang mulai menaburi gundukan tanah itu dengan bunga segar yang sudah disiapkan. Dara dan om Rudi pun ada di sana untuk menemani Anne, mereka ikut bersedih apalagi melihat kehancuran dari pancaran sorot mata Anne.
"Ibu ... kenapa Ibu tega meninggalkan Anne, Bu!" ujar Anne di sela-sela isak tangisnya.
"An, jangan begitu, sudah ya, kamu tenang dulu biar pak ustadz membacakan doa untuk almarhum," ucap Dara sambil merengkuh tubuh sahabatnya itu.
Anne masih terisak meski pak ustadz mulai membacakan doa untuk bu Ningrum. Suara isak tangis itu seperti alunan nada sedih yang mengiringi doa-doa dari pak ustadz. Semua orang yang hadir ikut meneteskan air mata saat mendengar ratapan pilu gadis yang memakai kerudung hitam itu.
"Nak Anne, kami pamit pulang dulu ya," ucap pak ustadz setelah rangkain pemakaman bu Ningrum telah selesai, "Nak Anne yang sabar dan ikhlas ya karena mungkin ini adalah jalan yang terbaik dari Allah untuk bu Ningrum," ucap pak Ustadz tersebut sebelum pergi meninggalkan area pemakaman bersama para warga.
Dara semakin bingung melihat Anne yang terus menangis. Apalagi sahabatnya itu tidak mau melepaskan nisan bu Ningrum, Anne terus memeluknya dengan hujan tangis yang tiada henti. Dara mengalihkan pandangannya ke arah papinya, ia memberikan isyarat agar membujuk Anne pulang mengingat siluet jingga sudah berada di cakrawala barat.
"Anne, mari kita pulang! Sebentar lagi langit menjadi gelap. Kamu harus istirahat," ucap om Rudi sambil mengusap punggung Anne dengan lembut.
"Iya, An. Ayo kita pulang! Mulai sekarang kamu tidak perlu sedih karena masih ada aku dan papi! Tinggallah di rumah kami seterusnya, An! Aku sangat senang jika kita menjadi saudaraku selamanya! Benar begitu 'kan, Pi?" Dara mengalihkan pandangannya ke arah om Rudi.
Om Rudi tidak bisa menjawab pertanyaan dari putrinya sendiri. Beliau hanya bisa mengangguk pelan agar Dara tidak curiga. Namun, ada rasa bersalah yang bersarang dalam hati saat Dara menginginkan Anne menjadi saudaranya.
"Dia bukan saudaramu, Nak! Dia adalah ibu sambungmu," gumam om Rudi dalam hati.
Setelah beberapa menit membujuk Anne, akhirnya, mereka bertiga beranjak dari makam bu Ningrum. Anne terlihat sangat kacau saat ini, tatapan matanya lurus ke depan—kosong seperti tidak ada lagi harapan dari hidupnya. Namun, baru saja mereka bertiga keluar dari gerbang pemakaman, tiba-tiba saja Anne jatuh pingsan.
__ADS_1
"Anne!" teriak Dara ketika melihat sahabatnya terlentang di tanah.
"Papi! Cepat angkat Anne, Pi!" Dara terlihat panik saat Anne tak sadarkan diri.
Om Rudi segera mengangkat tubuh Anne. Meski berat beliau masih sanggup membopong tubuh wanita yang sudah sah menjadi istrinya tadi pagi. Setelah masuk ke dalam mobil, om Rudi segera mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.
...♦️♦️♦️♦️...
"Pi, Dara harus ke kampus nih, ada hal penting yang harus Dara lakukan, bagaimana ini? Gak mungkin Dara ninggalin Anne sendirian di sini," ucap Dara setelah melihat pesan di ponselnya.
Pagi telah datang tuk mengikis dinginnya malam. Sang mentari mulai tersenyum hingga kehangatannya dirasakan oleh semua insan. Sarapan untuk Anne pun sudah siap sejak setengah jam yang lalu tapi sang empu belum membuka matanya.
"Ya sudah, biar Papi yang menjaga Anne di sini. Kamu pulang saja, nanti jika kamu ke sini tolong bawakan Papi pakaian ganti," ucap om Rudi setelah beberapa menit terdiam.
Kini, di ruangan VVIP itu tinggallah om Rudi dan Anne. Pria matang itu terus memandang wajah pucat yang masih terlelap karena pengaruh obat yang diberikan oleh dokter. Anne kelelahan dan stres, maka dari itu tubuhnya menjadi lemah.
"Maafkan aku, Sekar! Aku membuat putrimu menjadi seperti ini." Om Rudi bergumam ketika mengamati wajah Anne yang pucat.
Helaian napas berat terdengar di sana. Om Rudi dan Dara tidak pulang ke rumahnya. Anak dan ayah itu menginap di rumah sakit untuk menjaga Anne. Om Rudi harus bisa menetralkan perasaannya saat ada Dara.
Setelah duduk di kursi yang ada di sisi bed tempat Anne terbaring. Om Rudi beranjak dari sana, beliau berjalan menuju jendela yang masih tertutup korden. Beliau menyibak korden itu hingga kilau sang mentari menerobos masuk. Tatapan pria matang itu menerawang jauh entah kemana, memikirkan semua keputusan yang sudah beliau ambil.
"Mama!"
__ADS_1
Om Rudi mengalihkan pandangannya ketika mendengar Anne berteriak. Beliau segera menghampiri istrinya yang sedang duduk dengan napas yang tersengal.
"Ada apa, An?" tanya om Rudi setelah duduk di tepi bed tersebut.
"Mama!" Hanya itu yang diucapkan oleh Anne, Pandangannya mengelilingi ruangan yang ada di sekitarnya karena bingung melihat semua yang ada.
"Minumlah dulu!" ucap om Rudi saat menyerahkan segelas air putih kepada Anne.
Anne segera menerima gelas tersebut karena merasa haus hingga tenggorokannya kering. Segelas air putih itupun akhirnya tandas hanya sekali minum. Anne mengusap sudut bibirnya dengan ibu jari.
"Bagaimana keadaanmu? Apa ada yang sakit?" tanya om Rudi dengan pandangan yang tak lepas dari wajah pucat itu.
Anne hanya menggeleng pelan, ia belum sanggup berbicara apapun saat ini. Pikirannya masih mengingat mimpi panjang yang baru saja ia alami. Air mata kembali menggenang saat rasa rindu kepada orang-orang yang pergi meninggalkannya hadir dalam hati. Rasanya ia tidak ingin bangun karena sepanjang mimpinya ditemani oleh ibu yang sudah melahirkannya ke dunia yang kejam ini.
"Kenapa Mama tidak mengajakku ikut bersama Mama saja! Kenapa Mama meninggalkan aku sendirian di sini!" gumam Anne sambil menundukkan kepalanya.
Om Rudi paham jika saat ini Anne sedang berkabung. Pikirannya sedang tidak baik-baik saja karena duka mendalam yang Anne rasakan. Om Rudi menggenggam tangan Anne dengan erat, beliau harus bisa meyakinkan Anne, jika dia tidak sendirian.
"Jangan takut karena masih ada Om dan Dara yang akan menemani kamu," ucap om Rudi dengan suara yang lirih.
...🌹Selamat membaca 🌹...
...🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1