
"Ih, Papi!" Anne menggelinjang manja tatkala merasakan geli saat om Rudi mengecup perutnya, sebelum melepaskan penyatuannya.
Segera om Rudi menarik selimut untuk menutupi tubuh polos sang istri. Beliau merebahkan diri di sisi Anne dan segera meraih tubuh molek itu untuk didekapnya. Kehangatan mulai menjalar di tubuh yang terasa lelah itu, peluh keringat hasil pertempuran pun masih terasa di kulit yang tengah menyatu.
"Jadi begini ya, Pi, rasanya bertempur tanpa rasa was-was!" gumam Anne dengan suara yang lirih.
"Lebih nikmat 'kan!" ujar om Rudi.
Anne hanya mencubit pinggang sang suami sebagai jawaban dari pertanyaan itu. Sepasang suami istri itu ngobrol santai dalam selimut yang tebal yang menghangatkan. Suara gelak tawa Anne pun menggema di kamar tersebut ketika sang suami terus menggodanya.
"Pi, Saya besok masuk kerja, ya! Kan udah sembuh!" Anne tersenyum manis setelah menengadahkan kepalanya.
"Kamu masih butuh istirahat, jadi di rumah saja, oke!" ujar om Rudi tanpa melepaskan tatapannya dari wajah sang istri.
"Saya sudah sembuh, Pi! Buktinya sekarang saya baik-baik saja meski habis digempur Papi!" kilah Anne setelah mengurai tubuhnya dari dekapan hangat sang suami.
Anne mengubah posisinya saat ini, ia tengkurap dengan kedua tangan yang menopang kepalanya. Ia mengamati ekspresi wajah sang suami yang terlihat berpikir itu,
"Lebih baik kamu di rumah saja, tidak usah kerja! Kamu cukup menikmati hari-harimu menjadi nyonya Baskoro! Enak 'kan?" ucap om Rudi setelah duduk bersandar di headboard ranjang.
Anne memicingkan matanya. Tentu ia tidak setuju jika hanya berdiam diri di rumah ini, karena semua itu terlalu membosankan baginya. Ia harus bekerja untuk mencari pengalaman.
"No! Saya tetap kerja! No debat!" ujar Anne seraya menatap om Rudi dengan tatapan tajamnya.
Om Rudi menghembuskan napasnya kasar setelah mendengar jawaban itu—sebuah jawaban yang sudah beliau tebak sejak awal, karena beliau tahu bagaimana keras kepalanya Anne jika sudah memiliki keinginan.
"Gak! Pokoknya di rumah!" Om Rudi sengaja menolak keinginan Anne hanya karena ingin membuatnya kesal.
"Kerja!"
"Di Rumah!"
__ADS_1
"Kerja, ih!" Anne semakin kesal ketika melihat wajah datar sang suami.
Anne segera mengubah posisinya. Ia tidur miring membelakangi sang suami sambil menggerutu tak jelas. Om Rudi berhasil menyulut kekesalan wanita berambut sebahu itu hingga suara ocehannya terdengar di kamar.
Kedua sudut bibir itu tertarik ke dalam setelah melihat kelakuan sang istri. Om Rudi pun semakin gemas dibuatnya, Anne benar-benar telah mengalihkan dunianya yang dingin dan tanpa warna yang menyinari.
"Oke, Papi akan mengizinkan kamu tetap berkerja seperti biasanya," ucap om Rudi yang membuat Anne segera mengubah posisinya.
"Apa syaratnya?" tanya Anne tanpa basa-basi. Ia sudah hafal dengan cara berpikir sang suami,
"Istriku cerdas sekali!" Om Rudi berdecak tak percaya melihat tanggapan sang istri, "belajar dari mana sih?" tanya om Rudi dengan tatapan yang tak lepas dari wajah sang istri.
"Buruan! Gak usah berbelit-belit! Ingat! Waktu adalah uang!" sarkas Anne. Ia sudah tidak sabar ingin mendengar jawaban sang suami.
Om Rudi terkekeh kala menatap wajah sang istri saat ini. Beliau semakin suka menggoda Anne karena sikap yang ia tunjukkan saat ini. Tentu saja, Om Rudi terus membuat Anne penasaran. Beliau sengaja mengulur waktu agar sang istri semakin kesal.
"Duh! Lama banget!" gerutu Anne sebelum mengubah posisinya menjadi duduk bersila di hadapan om Rudi.
"Oke, baiklah! Syaratnya cukup mudah!" ujar om Rudi seraya bersedekap. Tatapannya tak beralih dari wajah masam sang istri.
"Jadilah pengendali yang hebat! Taklukkan pedang sakti yang sudah menantangmu saat ini!" Om Rudi menyibak selimut tersebut hingga muncullah pedang kebanggaan yang sudah siap diasah.
"Hanya itu?" Anne semakin menantang sang suami,
"Ya! Papi ingin tahu seberapa mampu kamu membuat Papi terbang ke awan." ujar om Rudi dengan diiringi senyum smirk, "selamat berjuang, Sayang!" ujar om Rudi setelah selesai membenarkan posisinya.
Anne termenung beberapa saat setelah mendengar permintaan itu. Ia sedang memikirkan cara yang tepat untuk membuat pria yang ada di hadapannya tak berkutik lagi. Malam ini Anne harus bisa mendapatkan ide cemerlang, untuk menaklukkan pedang kebanggaan yang selalu memporak-porandakan istananya.
"Oke, silahkan bersiap, Papi! Kali ini saya akan membuat Papi encok dan mengakui kehebatan saya!" ujar Anne seraya mendekat ke tempat om Rudi berada.
Anne mendekatkan wajahnya dengan wajah sang suami, ia menggigit daun telinga om Rudi dengan lembut dan setelah itu Anne membisikkan sesuatu di dekat telinga itu, "mari kita ke kamar mandi! Karena jika ingin sesi kedua dimulai, pedang sakti harus dicuci terlebih dahulu, agar bersih dan wangi."
__ADS_1
Satu sudut bibir om Rudi tertarik ke dalam setelah mendengar hal itu. Beliau hanya tersenyum sambil mengikuti setiap yang dilakukan oleh Anne seperti saat menuntun beliau turun dari ranjang. Sepasang suami istri itu berjalan menuju kamar mandi.
"Papi cukup diam saja, biar saya yang membersihkan pedang ini," ucap Anne seraya menyentuh pedang yang dimaksud. Mereka berdiri di bawah shower.
Anne menurunkan shower tersebut dan tak lupa membuka saluran airnya. Ia mengarahkan shower tersebut untuk membasahi pedang sakti yang sudah berubah ukuran menjadi besar itu. Setelah berhasil membuat basah pedang itu, Anne segera berlalu dari hadapan om Rudi untuk mengambil sabun cair yang tak jauh dari tempatnya saat ini.
Berdiri di balik punggung sang suami sambil membawa sabun yang sudah dituang di telapak tangannya, Anne tiba-tiba saja merapatkan bagian depan tubuhnya dengan punggung itu. Ia sengaja membuat gerakan naik turun hingga membuat om Rudi menengadahkan kepala karena merasakan sensasi lain dari puncak bukit yang terasa di sana.
Anne tersenyum penuh arti kala melihat respon sang suami. Ia sudah tidak sabar untuk mengoles pedang sakti itu dengan sabun yang ada di telapak tangannya. Beberapa detik selanjutnya, Anne mulai membalurkan sabun yang ada di telapak tangannya ke sekujur senjata itu.
"Ada apa, Pi?" tanya Anne setelah pindah posisi berdiri di hadapan sang suami dengan tangan yang tak henti bermain-main dengan sabun yang berhasil membuat om Rudi melenguh.
"Sebelum dipakai, memang harus dicuci seperti ini 'kan, Pi?" Anne menatap om Rudi dengan genit.
"Hmmm!" hanya itu yang mampu terucap dari bibir tersebut.
Setelah selsai bermain-main dan membilas pedang sakti tersebut. Anne kembali mengajak om Rudi kembali ke kamar. Setelah sampai di sisi ranjang, Anne menghentikan langkah sang suami di sana, lantas ia meraih tissu yang ada di atas meja untuk mengeringkan senjata itu.
"Anne!" Hanya itu yang mampu diucapkan om Rudi dengan napas yang mulai tersengal karena riba-tiba saja Anne berjongkok di hadapannya untuk melahap senjata tersebut tanpa ampun.
Ini adalah untuk yang pertama kalinya selama menikah, Om Rudi merasakan betapa nikmatnya saat Anne mengulum senjata tersebut.Beliau hanya mampu menatap ke bawah, mengamati tatapan mata sang istri yang terlihat sangat genit. Kegiatan itu tak berlangsung lama karena om Rudi sudah tidak tahan untuk melakukan yang lebih dari ini.
"Cukup, Sayang! Cukup! Mari kita lanjutkan di atas ranjang saja. Kamu memang hebat, Sayang. Papi mengaku kalah saat ini," ucap om Rudi seraya membantu Anne berdiri.
Rencana ingin menjadi penikmat pasif sepertinya harus dibuang jauh, karena pada kenyataannya om Rudi lah yang menjadi pengendali permainan kali ini, karena terbakar gairah yang disulut oleh Anne.
"Mari kita menguasai medan tempur ini hingga mencapai kemenangan, Sayang!" ucap om Rudi penuh arti.
...🌹Terima kasih atas bantuan berupa Vote, gift, komentar dan likenya🌹...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1