Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Kantor yang panas!


__ADS_3

Udara pagi terasa panas dalam ruangan om Rudi meski suhu AC sudah berada di temperatur paling dingin. Kedua bibir yang saling bertautan terlihat menggelora karena kobaran hasrat yang ada dalam diri. Masih di atas kursi kerja itu, om Rudi tak melepaskan tautan bibirnya dari bibir sang istri.


"Kita lakukan di sini saja, bagaimana?" tanya om Rudi setelah melepaskan tautan bibirnya.


"Boleh! Kita belum pernah melakukannya di ruangan ini," ucap Anne dengan senyum penuh arti.


Om Rudi memberikan kode agar Anne segera turun dari pangkuan beliau. Tentu Anne mengerti apa yang harus dilakukannya saat ini. Ia segera berjongkok di kolong meja dan membuka pengait ikat pinggang tersebut. Segera ia membuka resleting dan pengait celana untuk membebaskan sesuatu yang memberontak dari dalam sana.


"Lebih dalam lagi, Sayang!" ujar om Rudi dengan mata yang terpejam karena merasakan sensasi lain di bibir sang istri.


Suara ketukan pintu beberapa kali berhasil menghentikan kegiatan itu. Anne segera melepaskan lollipop coklat kesukaannya. Ia terlihat panik karena takut kepergok Pras ataupun Risa. Namun, saat berusaha berdiri, om Rudi malah memberikan kode agar dirinya diam di kolong meja.


Pras terlihat salah tingkah setelah muncul dari pintu itu. Ia melihat ekspresi wajah tak biasa bosnya, sudah bisa dipastikan jika bosnya itu sedang melakukan sesuatu dengan sang istri.


"Maaf Pak, saya hanya ingin memberitahu jika Pak Harun dan putrinya sudah hadir. Mereka menunggu di ruang penerimaan tamu," ucap Pras seraya menatap om Rudi yang terlihat kacau.


"Temui dia dulu! Bawa masuk ke ruangan ini sepuluh menit lagi," ucap om Rudi dengan wajah yang terlihat tegang.


Anne mengulum senyum saat melihat ekspresi wajah sang suami. Bagaimana om Rudi tidak salah tingkah, di bawah meja persembunyian, Anne masih sempat mempermainkan lollipop itu dengan tangannya.


"Hentikan, Anne! Ada tamu penting yang harus kita temui setelah ini! Kamu bisa bermain-main nanti!" ujar om Rudi seraya mencekal pergelangan tangan sang istri.


"Maksud Papi, ayahnya Berli?" tanya Anne seraya berusaha keluar dari kolong meja.


"Ya! Cepat rapikan pakaianmu!" titah om Rudi seraya membantu sang istri berdiri, "rapikan di ruangan saya biasa istirahat!" Om Rudi menunjuk pintu yang ada di sudut ruangan.

__ADS_1


Dengan bantuan om Rudi, Anne berhasil keluar dari kolong meja. Ia segera masuk ke dalam ruangan yang ditunjukkan oleh sang suami. Penampilannya pagi ini terlihat berantakan karena ulah sang suami.


Sepuluh menit telah berlalu, pintu ruangan om Rudi terbuka. Pras masuk dengan diikuti dua orang tamu yang ingin menemui om Rudi. Tamu itu tak lain adalah pak Harun dan putrinya, Berli.


"Selamat pagi, Pak Harun," sapa om Rudi setelah kedua tamu tersebut duduk di sofa. Beliau segera beranjak untuk bergabung di sana, tak lupa beliau pun mengajak Anne untuk ikut bergabung.


"Bagaimana kabar pak Harun hari ini?" tanya om Rudi setelah duduk di sofa tunggal.


Tatapan mata Anne dan Berli saling bersirobok. Terlihat sekali jika Berli sangat tidak suka dengan Anne. Kobaran api permusuhan terlihat jelas dari sorot mata wanita yang terlihat kacau itu.


"Saya rasa pak Rudi tahu jika kabar saya kurang baik," ucap pak Harus tanpa melepaskan pandangannya dari pria yang sedang menyilangkan kaki di tempatnya saat ini.


"Ya, saya sudah tahu akan hal itu. Jadi, apa tujuan pak Harun datang menemui saya?" tanya om Rudi.


"Tentu saya ingin membahas masalah penarikan saham secara dadakan yang dilakukan asisten Anda," jawab pak Harun tanpa melepaskan pandangannya dari om Rudi, "Saya heran saja, kenapa masalah anak-anak kita mempengaruhi kerja sama yang sudah kita bangun sejak beberapa tahun silam," keluh pak Harun.


"Tidak, Pi! Berli tidak melakukan apapun! Berli berani bersumpah!" Dalam situasi seperti ini, Berli masih saja berkilah.


Om Rudi menaikkan satu sudut bibirnya setelah mendengar jawaban Berli. Beliau semakin membenci wanita itu karena sikap yang ditunjukkan oleh Berli, "Pras!" ujar om Rudi seraya menatap asistennya penuh arti.


Setelah mendapatkan kode dari bosnya itu, Pras segera berjalan menuju tempat televisi berada. Ia merogoh saku celananya untuk mengambil flashdisk untuk ditancapkan di televisi canggih itu.


"Pak Harun, ini adalah kumpulan video rekaman CCTV saat putri Anda berada di Mall. Ada juga beberapa video lama saat putri Anda masih kuliah," ucap Pras sebelum menekan tombol play di remote control yang ada di tangannya.


Wajah pak Harun seketika bersemu merah karena manahan amarah yang berkobar dalam diri. Apa yang beliau lihat saat ini benar-benar sangat memalukan. Selama ini beliau tidak tahu bagaimana sikap putrinya jika di luar rumah. Beliau hanya memanjakan Berli dengan segala fasilitas mewah yang beliau berikan selama ini.

__ADS_1


"Jadi bagaimana, Pak Harun? Apa Anda akan diam saja jika ada di posisi saya?" tanya om Rudi setelah semua video tersebut terputar.


Anne kagum dengan Pras. Pria berusia tiga puluh enam tahun itu begitu hebat melakukan tugas dari suaminya dalam kurun waktu hanya satu hari ini. Anne sampai tak berkedip saat melihat Pras yang berjalan menuju tempatnya saat ini.


"Masih muda, keren, pinter lagi! Pria yang sempurna!" batin Anne.


Anne segera tersadar dari lamunan gila tentang Pras saat mendengar suara tamparan yang sangat keras di sana. Ia melebarkan mata saat melihat pak Harun menampar putrinya sendiri di hadapan om Rudi.


"Pak Rudi, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas perbuatan yang dilakukan putri saya. Perbuatan itu memang pantas mendapatkan hukuman. Saya berjanji akan menghukum putri saya, Pak." Pak Harus tidak berani menegakkan wajahnya di hadapan om Rudi.


"Ya, sudah sepantasnya putri Anda mendapatkan hukuman, karena tidak seharusnya mulut seorang wanita berpendidikan seperti itu!" jawab om Rudi seraya menatap Berli yang tertunduk sambil mengusap pipinya.


"Saya mohon, Pak, jangan mencabut semua saham Bapak dari perusahaan saya. Kehilangan seluruh saham pak Rudi sebanyak empat puluh persen, sangat mempengaruhi perusahaan saya," ucap pak Harun dengan sorot mata penuh harap, "Saya bisa gulung tikar, Pak, kalau seperti ini!" lanjut pak Harun.


Dalam lubuk hati yang paling dalam, tentu Anne kasihan dengan nasib pak Harun setelah ini. Namun, ia tidak bisa melakukan apapun lagi karena semua ini menyangkut Dara. Ia pun setuju jika suaminya itu memberi pelajaran kepada wanita sombong yang menjadi musuhnya selama ini.


"Keputusan saya sudah bulat, Pak Harun! Putri Anda benar-benar keterlaluan!" ujar om Rudi dengan tegas.


...🌹Selamat membaca🌹...


...Setelah ini ada satu bab lagi ya, Bestie🤭mau bab hareudang atau enggak ini? kuy komen!...


➖➖➖➖➖➖❤️❤️❤️❤️➖➖➖➖➖➖


Hallo selamat pagi😍Othor ada rekomendasi karya keren untuk kalian nih😀sambil nunggu othor, kuy baca dulu karya dari author Unopp dangan judul TRIPEL K! Serius ini mah wajib dibaca😎

__ADS_1



...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2