Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Bayi Nyonya Ternyata ....


__ADS_3

Virus Varicella zoster, sepertinya belum hilang dari tubuh wanita hamil yang duduk di atas bed pasien. Tubuhnya semakin banyak ditumbuhi bintik merah. Mungkin, karena obat yang diberikan dokter kurang efektif seperti pada umumnya. Mengingat saat ini Anne sedang hamil. Banyak pertimbangan yang harus dipikirkan dengan baik, agar tidak membahayakan janin yang ada dalam kandungan.


"Mas, kenapa hari ini anak kita gerakannya berkurang, ya?" tanya Anne setelah menghabiskan makan siang.


"Kamu serius?" tanya om Rudi seraya menatap Anne dengan intens.


Anne mengangguk pelan, tangannya tak henti mengusap perut dengan gerakan yang lembut. Ia berharap kandungannya tidak bermasalah. Sungguh, sejak tadi pagi ia takut terjadi sesuatu.


Setelah termenung beberapa menit, om Rudi beranjak dari tempatnya. Beliau keluar dari ruang rawat inap sang istri tanpa pamit. Raut wajahnya terlihat sangat khawatir. Pikiran pria matang itu sedang tidak tenang karena keluhan sang istri.


Melihat keresahan di wajah sang suami, berhasil membuat Anne semakin takut. Ia tak henti mengusap-usap perutnya untuk mer*ngsang gerakan bayinya. Ia takut jika terjadi sesuatu yang buruk kepada bayinya.


"Semoga kamu baik-baik saja ya, Nak?" Anne bergumam seraya menatap perut yang membuncit itu.


Anne menegakkan kepalanya setelah mendengar suara pintu yang dibuka. Seorang dokter dan perawat datang bersama om Rudi di belakangnya. Dokter spesialis kandungan terlihat sibuk memeriksa kondisi Anne saat ini.


"Nyonya Anne harus diperiksa lebih lanjut, Pak. Kami akan membawa ke radiologi untuk melakukan USG dan beberapa tes lainnya untuk mengetahui perkembangan calon anak Anda," ucap dokter tersebut setelah memeriksa perut Anne.


Tentu, om Rudi sangat setuju dengan keputusan dokter kandungan itu. Beliau ikut serta mendampingi sang istri ke radiologi. Perasaan om Rudi mulai tidak enak, beliau sangat takut calon anaknya tertular cacar air. Mengingat, beberapa penulis artikel di internet mengatakan jika wanita hamil yang sedang terkena cacar, virusnya rentan menular ke bayi yang ada dalam kandungan. Apalagi, usia kandungan Anne hampir memasuki delapan bulan.


"Saya mau ikut ke dalam!" ujar om Rudi setelah sampai di depan ruang USG.


"Silahkan, Pak!" ucap perawat yang mendampingi dokter kandungan tersebut.


Om Rudi berdiri di sisi kiri bed tersebut. Beliau terus mengamati layar monitor yang sudah menyala. Dokter spesialis itu terlihat serius saat mengamati setiap pergerakan janin yang ada dalam kandungan Anne.

__ADS_1


"Bagaimana, dok? Apakah kandungan istri saya baik-baik saja?" tanya om Rudi setelah melihat ekspresi wajah dokter tersebut.


"Tunggu sebentar lagi, ya, Pak," ucap dokter tersebut. Mungkin pemeriksaan belum selesai.


Dokter spesialis itu menghela napasnya setelah melakukan pemeriksaan jantung pada calon buah hati Anne, "Bisa kita bicara di ruang observasi, Pak?" tanya dokter tersebut.


"Tidak! Bicara di sini saja, dok! Saya ingin mendengar hasil pemeriksaannya!" cegah Anne seraya menatap dokter tersebut.


"Sayang, tunggu di sini sebentar, ya," pinta om Rudi seraya membelai rambut sang istri.


"Tidak! Di sini saja!" Anne tetap keukeh pada pendiriannya, "saya juga mau mendengarkan hasilnya!" Anne menatap om Rudi dengan tatapan sendu.


Pada akhirnya, om Rudi hanya bisa pasrah saat melihat tatapan sendu sang istri. Beliau memberikan kode kepada dokter tersebut untuk menjelaskan hasil pemeriksaan di sini.


"Virus Varicella Zoster yang menyerang tubuh Nyonya, ternyata sudah menular ke dalam kandungan. Bayi Anda sudah terinfeksi virus tersebut. Kondisi yang belum sempurna, membuat virus tersebut menyerang dengan mudah."


"Akibat virus tersebut, dengan sangat menyesal saya harus mengatakan kondisi calon anak Anda. Bahwa, calon anak Anda sudah meninggal, detak jantungnya sudah berhenti." ucap dokter tersebut dengan suara yang lirih.


"Tidak! Tidak mungkin! Pasti dokter salah!" Anne tidak terima dengan keputusan itu.


"Anda harus sabar, ya, Nyonya. Memang seperti itulah kondisi kandungan Anda saat ini," ucap dokter itu dengan nada penuh sesal.


Anne histeris setelah mendengar penjelasan itu. Harapan yang selama ini ia rajut, kini, sirna sudah. Ia terus menangis dalam dekapan hangat sang suami. Begitu pun dengan om Rudi, beliau ikut menitikkan air mata saat mendengar tangis pilu sang istri.


"Sekarang bagaimana dengan cara melahirkan yang Nyonya inginkan?" ucap dokter tersebut setelah memberi waktu beberapa menit untuk Anne menangis.

__ADS_1


"Ada dua opsi yang bisa Nyonya pilih. Melahirkan secara normal atau caesar. Saya akan menjelaskan bagaimana kedua cara tersebut,"


"Jika Nyonya melahirkan secara normal, rasanya lebih sakit daripada melahirkan normal dengan janin yang masih hidup. Jika Nyonya memilih normal, maka Nyonya bisa program hamil beberapa bulan setelah nifas berakhir,"


"Akan tetapi, jika Nyonya memilih melahirkan dengan cara caesar. Maka Nyonya harus menunggu dua tahun lagi untuk bisa hamil kembali. Nyonya harus benar-benar pulih sebelum memutuskan untuk hamil anak kedua,"


Kedua pilihan ini memang sangatlah sulit. Anne termenung dalam isak tangis yang masih terdengar. Ia tak henti mengusap air mata yang terus menetes. Hingga pada akhirnya ia mendengarkan keputusan om Rudi.


"Saya memutuskan agar istri saya melahirkan dengan cara caesar saja!" ujar om Rudi seraya menatap dokter itu.


"Tidak!" sergah Anne, "saya ingin melahirkan secara normal saja! Saya siap dengan konsekuensinya." Anne menatap om Rudi penuh harap.


Dokter dan suster keluar dari ruangan tersebut untuk memberi ruang kepada pasutri itu. Sementara di dalam ruangan tersebut, Anne dan om Rudi sedang membicarakan persoalan itu. Mau tidak mau, om Rudi pun mengikuti keinginan sang istri. Beliau tidak mau jika membuat Anne semakin terluka dengan memaksakan keputusan beliau sendiri. Akan tetapi, om Rudi pun harus siap melihat sang istri berjuang seorang diri.


"Kamu yakin dengan keputusan ini, Sayang?" tanya om Rudi saat menangkup wajah sang istri.


"Ya, aku yakin, Mas!" jawab Anne dengan suara yang lirih.


Air mata kesedihan semakin mengucur deras karena belum siap menerima kenyataan yang ada. Om Rudi tak henti menenangkan Anne, agar emosinya stabil, karena perjuangan berat akan segera dimulai. Sungguh, om Rudi pun merasa hancur dengan kenyataan pahit ini.


Setelah keputusan Anne menjadi yang utama. Om Rudi segera keluar dari ruang USG. Beliau menghampiri dokter yang sedang duduk di depan ruangan. Om Rudi mulai menjelaskan bagaimana keputusannya bersama Anne.


"Baiklah, kalau begitu silahkan Bapak ikut suster untuk menandatangani surat persetujuan. Setelah ini, Nyonya Anne, akan dipindahkan ke ruang bersalin," ucap dokter tersebut.


Sementara itu, di dalam ruangan, Anne menangis seorang diri. Ia tak henti mengusap perut buncit itu. Sesal yang begitu dalam telah membelenggu hati yang membuncah. Tidak ada yang bisa Anne lakukan saat ini, selain menerima segala yang terjadi. Mau tidak mau, ia harus menerima takdir yang sudah digariskan oleh Sang Pencipta.

__ADS_1


"Kenapa harus aku yang menerima semua ini?" Anne bermonolog dengan suara yang lirih.


...🌹Selamat membaca🌹...


__ADS_2