
Hari-hari sunyi telah dilalui Anne, meski ada Dara sekeluarga yang menemaninya di rumah megah tersebut. Anne merasa hampa karena om Rudi belum bisa pulang dari Jepang. Ia dilanda rasa rindu kepada pria matang yang mengisi hidupnya selama ini.
"Tiga hari gak ada Mas Rudi kok ya gak enak banget, ya!" gerutu Anne setelah duduk di tepi ranjang. Ia baru saja selesai bersiap, sebelum turun makan malam bersama Dara.
Anne meraih ponselnya untuk mengirim pesan kepada om Rudi. Ia hanya ingin tahu sedang apakah suaminya saat ini. Kedua sudut bibir itu, pada akhirnya tertarik ke dalam setelah mendapatkan balasan pesan dari om Rudi.
"Ah syukurlah, kalau Mas Rudi baik-baik saja di sana." Anne bergumam setelah mengetahui bahwa suaminya tidak mengalami kesulitan.
Anne segera keluar dari kamarnya karena waktu makan malam telah tiba. Satu persatu anak tangga telah dilalui dengan hati-hati dan pada akhirnya, ia sampai di ruang keluarga. Di sana ada Dara yang sedang sibuk mengawasi Kiran.
"Ayo makan, Dar!" ajak Anne setelah berdiri di balik sofa yang di tempati Dara.
"Ok, sebentar." Dara beranjak dari tempatnya, ia mengangkat putrinya dalam gendongan.
Kedua wanita cantik itu makan malam hanya berdua saja, karena sejak kemarin malam Juna pergi dari rumah ini. Dara mengatakan jika suaminya kembali ke Bandung karena ada urusan mendadak.
"Juna kok belum ke sini, Dar? Apa ada kendala di kantor?" tanya Anne setelah selesai makan malam. Ia sedang mengupas jeruk yang ada di tersaji di meja makan.
"Entahlah, kalau sudah selesai pasti dia balik," jawab Dara tanpa menatap Anne. Ibu muda itu terlihat menghindari tatapan mata ibu sambungnya.
Dara sepertinya menyembunyikan sesuatu dari Anne. Ia selalu mengalihkan pembicaraan saat Anne membahas suami atau ayahnya. Setelah selesai makan malam, kedua wanita tersebut pindah ke ruang keluarga.
__ADS_1
"An, kapan kamu belanja kebutuhan bayi?" tanya Dara setelah menurunkan Kiran di atas karpet. Ia memberi Kiran beberapa mainan agar putrinya tenang.
"Entahlah, kalau udah masuk sembilan bulan saja lah," jawab Anne.
Obrolan seputar kehamilan dan bayi terdengar di sana. Anne terus bertanya kepada Dara tentang bagaimana cara merawat bayi. Anne pun menceritakan bagaimana kondisinya saat ini.
"Apa yang kamu rasakan saat ini, An?" tanya Dara seraya mengusap perut buncit tersebut.
"Punggungku akhir-akhir ini sering sakit, Dar," keluh Anne dengan diiringi helaian napas yang berat.
Obrolan hangat itu harus terhenti ketika suara pintu utama terbuka. Dara beranjak dari tempatnya untuk melihat siapa yang datang tanpa mengetuk pintu. Dara membekap mulutnya saat melihat kedua pria yang sangat berarti dalam hidupnya ada di sana.
Anne terkesiap setelah mendengar Dara memanggil om Rudi. Ia semakin terkejut ketika melihat sosok yang dirindukan selama beberapa hari ini, ada di sana. Padahal, beberapa waktu yang lalu, om Rudi memberi kabar jika masih di Jepang.
"Mas!" Anne menatap om Rudi yang sedang berjalan ke arahnya. Sementara Juna berdiri di samping Dara setelah mengangkat tubuh putrinya dari atas karpet.
"Tenanglah!" ucap om Rudi seraya mengusap bahu sang istri.
Om Rudi memberikan kode agar Anne duduk kembali di sofa. Beliau tersenyum tipis untuk menutupi kegundahan hati. Om Rudi duduk di atas karpet seraya memijat kaki sang istri.
"Mas, ada apa?" tanya Anne setelah melihat sorot mata suaminya.
__ADS_1
"Kenapa Mas sudah pulang? Terus kenapa pulangnya sama Juna?" Anne mencecar suaminya karena tidak tahu apa-apa.
"Jun! Dar!" ujar Anne seraya menatap sepasang suami istri itu bergantian. Ia sedang mencari penjelasan atas semua yang terjadi, "kenapa kalian diam saja? Apa yang sedang kalian tutupi?" Anne terlihat seperti orang bodoh.
Om Rudi mengubah posisinya. Beliau duduk di atas sofa tepat di samping sang istri. Pria matang itu sedang menyimpan sebuah beban yang beliau dapatkan saat berada di Jepang. Om Rudi meminta bantuan kepada Juna, agar menjemput beliau di Jepang. Ketiga orang tersebut sengaja menyembunyikan semua ini dari Anne, agar tidak menjadi beban.
"Sayang, tenanglah! Jangan berpikir buruk dulu," ucap om Rudi seraya mengusap rambut hitam tersebut.
"Bagaimana bisa aku berpikir positif, jika kalian bertiga hanya diam saja!" ujar Anne dengan suara yang bergetar.
"Baiklah, aku akan memberitahumu," ucap om Rudi seraya menggenggam tangan Anne, "ada masalah di Jepang ...." Om Rudi menghentikan ucapannya. Beliau sedang merangkai kata yang tepat agar istrinya bisa menerima semua ini.
Saat itu sesampainya di Jepang, om Rudi disambut dengan masalah besar. Kolega yang selama ini beliau percaya untuk mengawasi saham besar yang beliau tanam di sana, ternyata tega menipu beliau. Untung saja, om Rudi pergi ke sana ditemani Pimoy dan anak buahnya. Om Rudi tidak sampai terluka meski harus kehilangan semua sahamnya.
"Aku minta maaf, karena sudah melepaskan saham di sana. Mungkin, setelah ini perekonomian kita akan mengalami penurunan. Jika aku tidak menyerahkan semua sahamnya, aku harus melawan mereka dan bertaruh nyawa," ucap om Rudi seraya menatap Anne penuh arti.
Tangis Anne pecah begitu saja setelah mendengar semua itu. Firasatnya telah terbukti kebenarannya. Ia mengamati keadaan fisik suaminya, tidak ada luka satu pun di tubuh tersebut.
"Aku tidak perduli, Mas! Biarkan saja saham kita di Jepang dirampas orang lain, asal Mas pulang dengan selamat. Setelah ini jangan pergi jauh-jauh, ya, Mas!" ucap Anne setelah menghambur ke dalam dekapan hangat suaminya.
...🌹Selamat Membaca🌹...
__ADS_1