
Kelopak mata yang tertutup rapat akhirnya terbuka setelah tertutup cukup lama. Anne mengerjap pelan setelah mendengar ada dua orang yang sedang berbicara di sisinya. Anne menaikkan satu alisnya ketika melihat seorang wanita dan seorang pria sedang tersenyum ke arahnya.
"Saya di rumah sakit?" Anne bergumam setelah mengamati semua yang ada di sekelilingnya, "kenapa saya dirawat di sini, Sus?" Anne bingung dan lupa kerjadian sebelum hari ini. Ia menatap wanita berpakaian perawat itu dengan penuh tanda tanya.
"Bagaimana kondisi Nyonya saat ini?" tanya dokter tersebut seraya menatap Anne, "apa Nyonya merasa mual pagi ini?" lanjut dokter tersebut.
Anne menggeleng pelan, tubuhnya terasa lebih baik dari sebelumnya. Ia tidak merasakan mual seperti beberapa hari ini, "saya baik-baik saja, dok," ucap Anne dengan suara yang lirih.
Dokter itu pun kembali memeriksa kondisi Anne. Beliau mengajukan beberapa pertanyaan terkait dengan kehamilan Anne. Setelah beberapa menit melakukan pemeriksaan pada akhirnya kedua tenaga medis tersebut pamit keluar dari ruangan ini.
"Kok bisa ya, aku tidur nyenyak dan nyaman," gumam Anne setelah pintu ruangannya tertutup, "sudah lama aku tidak tidur nyenyak seperti tadi malam," lanjutnya.
Anne menggeliatkan tubuhnya karena terasa kaku dan lelah. Ia mengendus bantal yang ia tempati karena mencium aroma khas yang tidak pernah bisa ia lupakan.
"Apakah orang itu ada di sini tadi malam?" gumam Anne setelah berhasil duduk bersila di atas ranjangnya.
Anne termenung dalam suasana sunyi sepi yang terasa di ruangan ini. Ada rasa rindu yang menyapa hati, rindu akan kehangatan yang selama ini ia rasakan. Tanpa sadar, Anne mengusap perutnya beberapa kali sambil bergumam, "Aku rindu Papi."
Tatapan matanya menerawang jauh kala memori indah hadir dalam angan. Namun, tak lama kemudian, Anne menepis semua itu. Ia menggeleng pelan setelah sadar dari lamunan gila yang hadir pagi ini.
"Tidak! Aku tidak merindukan dia!" Anne menggeleng pelan saat menyangkal perasaannya sendiri.
Tatapan matanya tertuju ke arah pintu ruangan yang terbuka. Anne mengembangkan senyum ketika melihat Risa masuk ke dalam ruangannya. Setidaknya masih ada orang yang perduli dengan keadaannya saat ini.
"Selamat pagi, An," sapa Risa setelah berdiri di sisi bed Anne. Ia meletakkan beberapa map berisi berkas terlebih dahulu sebelum kembali ke tempat Anne berada.
"Pagi, Bu," jawab Anne dengan diiringi senyum yang sangat manis.
Risa mendorong meja portable, di mana makanan Anne sudah disiapkan pihak rumah sakit. Ia membantu Anne membuka tutup makanan dan setelah itu duduk di kursi untuk penunggu pasien.
__ADS_1
"Bagaimana kabar proyek di Bandung, Bu?" tanya Anne setelah selesai menghabiskan makanannya.
"Pak Pras sejak kemarin sore ada di sana. Pagi ini kantor terasa sepi, An," keluh Risa dengan wajah yang tertekuk.
"Cie, rindu pak Pras ya, Bu?" Anne malah menggoda sekretarisnya.
"Apaan sih! Kagak lah!" sergah Risa dengan wajah yang bersemu merah.
"Ngaku saja lah, Bu. Bu Risa suka 'kan sama pak Pras?" Anne menaik-turunkan alisnya seraya menatap Risa.
Apa yang diucapkan Anne, berhasil membuat Risa semakin salah tingkah. Ia membuang muka ke arah lain karena malu di hadapan Anne, "Sudahlah! Ini ada proposal penting yang membutuhkan tanda tanganmu," kilah Risa seraya meraih map yang ada di atas meja
Kedua wanita tersebut pada akhirnya membahas pekerjaan. Anne terlihat serius mempelajari beberapa proposal proyek baru. Namun, tidak lama setelah itu, kepalanya terasa pening dan berat.
"Bu, saya kok jadi pusing ya setelah membaca semua ini," gumam Anne setelah menyelesaikan satu proposal.
"Kalau begitu tidak usah dilanjutkan! Kamu istirahat saja," ucap Risa. Ia merasa bersalah melihat kondisi Anne saat ini.
"Hati-hati, Bu," ucap Anne sebelum Risa berlalu.
...♦️♦️♦️♦️♦️...
Makan malam untuk Anne telah siap di atas meja portabel. Petugas rumah sakit yang mengantar makanan membantu Anne dengan mendekatkan meja tersebut di tempat Anne berada saat ini.
"Terima kasih," ucap Anne sebelum petugas gizi berlalu dari kamarnya.
Anne menatap makanan yang tersaji di hadapannya. Selera makannya tiba-tiba saja hilang padahal beberapa menit yang lalu Anne merasa lapar.
"Aku kok tiba-tiba pengen makan ditemani dia, sih!" gerutu Anne setelah sadar apa yang membuatnya kehilangan selera makan.
__ADS_1
Anne menghela napasnya, ia berusaha keras melawan semua rasa yang hadir dalam hatinya. Ia berusaha melupakan setiap sentuhan, kehangatan dan kelembutan yang selama ini ia rasakan.
"Ahh nyebelin banget sih!" Anne kesal sendiri karena gagal membohongi perasaannya. Ia benar-benar rindu dengan om Rudi.
Anne segera meraih ponselnya. Ia membuka galeri untuk melihat beberapa video yang tersimpan di sana. Senyum tipis mengembang begitu saja saat menemukan video kebersamaannya dengan om Rudi saat liburan. Tangannya tiba-tiba saja menyentuh perut yang ada di balik piyama itu. Ia pun mengusap perut tersebut beberapa kali.
Wajah om Rudi yang ada di dalam video sepertinya menjadi mood booster untuk Anne. Ia kembali merasakan lapar setelah mengamati wajah tampan sang suami.
"Apa mungkin ini yang disebut ngidam?" gumam Anne setelah selesai menghabiskan makanannya.
Anne membaca artikel yang ada di internet terkait masalah ibu hamil dan ngidam. Ia mencari informasi tentang hamil muda dan segala kondisi yang dialami wanita hamil di trimester pertama.
"Setelah ini aku harus bagaimana? Aku benar-benar bingung!"
"Aku membenci dia! Aku tidak mau bersama dia lagi! Akan tetapi bagaimana nasib anakku nanti. Anakku tidak bersalah,"
"Aku belum yakin bisa bahagia seperti dulu. Bekas luka itu masih menyakitkan! Dia terlalu dalam menggores luka di hatiku,"
"Semuanya terasa begitu membingungkan! Mungkinkah setelah ini perjuanganku akan sia-sia?"
Bulir air mata membasahi pipi ketika membayangkan rasanya berjuang seorang diri di saat hamil besar. Mungkin kah ia sanggup memimpin perusahaan dengan kondisi hamil besar nanti?
"Aku harus bisa! Aku tidak boleh lemah!" Anne menyemangati dirinya sendiri agar menjadi lebih kuat lagi.
Cukup lama Anne termenung di tempatnya. Ia kembali merebahkan diri karena merasakan kantuk yang begitu hebat. Sepertinya, obat yang diberikan dokter mengandung obat tidur. Dalam kondisi seperti saat ini, Anne benar-benar rindu dengan pelukan hangat om Rudi. Ia meremas ujung bantal untuk melepaskan segala rasa yang ada di dalam diri. Sungguh, Anne tersiksa dalam rindu yang membelenggu hati. Rindu kepada sosok yang sudah menjauh dari hidupnya.
"Papi, anakmu rindu, Pi! Bukan aku!" gumam Anne dalam kesadaran yang sudah hilang separuh. Kelopak matanya perlahan tertutup karena tidak bisa menahan serangan rasa kantuk.
...🌹Selamat membaca🌹...
__ADS_1
...Rindu tapi gengsi nih😂...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...