Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Pertengkaran suami istri!


__ADS_3

Rapat pemegang saham dadakan dilaksanakan pagi ini. Anne yang akan memimpin rapat besar tersebut karena om Rudi masih ada di Surabaya. Sudah dua hari ini pria matang itu berada di Surabaya bersama Pras.


"Pagi ini, saya yang akan memimpin rapat, karena mulai hari ini Saham terbesar dan seluruh aset pak Rudi sudah diserahkan kepada saya." Anne menatap satu persatu pemegang saham yang berada di tempat masing-masing.


Semua orang terkejut mendengar ucapan Anne. Mereka tidak percaya jika om Rudi dengan mudahnya melakukan semua itu. Pria tangguh itu tidak mungkin menyerahkan semua asetnya kepada sang istri.


"Kami belum percaya. Karena tidak mungkin semua ini mendadak berubah hanya dalam waktu sekejap!" Salah satu pemegang saham protes karena tidak terima dengan semua ini. Tentu sebagian dari mereka ada yang khawatir dengan kemajuan perusahaan ini jika Anne yang menjadi pemimpinnya.


"Bu Risa, tolong tunjukkan semua berkas yang sudah ditandatangani pak Rudi," ucap Anne dengan sikap yang tenang.


Semua yang hadir di sana tidak bisa berkata apa-apa lagi karena semua bukti yang ditunjukkan Anne sangat kuat. Mereka semua melihat tanda tangan om Rudi di atas materai. Rapat yang dipimpin Anne berjalan lancar hingga semua bahan rapat telah dibahas. Semua orang mendadak bingung dengan situasi yang terjadi di perusahaan ini.


"Rapat saya nyatakan selesai. Terima kasih karena Bapak-bapak sudah bersedia hadir dalam rapat dadakan ini," ucap Anne dengan diiringi senyum yang sangat manis.


Risa hanya bisa mengikuti langkah Anne keluar dari ruangan tersebut. Ia tidak berani membantah wanita yang sedang berjalan di hadapannya itu. Ia tidak pernah menyangka jika sosok lembut yang selama ini dikenalnya ternyata sangat licik.


"Bu Risa, tolong siapkan berkas dari pembangunan real estate yang baru disetujui kemarin," ucap Anne setelah berhenti di depan ruangan nomor satu di gedung raksasa ini.


"Baik, Bu," ucap Risa seraya menganggukkan kepalanya.


Anne membuka ruangan luas itu dengan diiringi senyum penuh arti. Ia menatap meja kerja yang biasa ditempati oleh om Rudi. Kini, bukan nama Rudianto Baskoro yang ada di atas meja tersebut, melainkan Anne Malila Soedrajat.

__ADS_1


Anne mengayun langkah menuju tempat kebesaran pemilik perusahaan ini. Ia mendaratkan tubuhnya dengan senyum penuh kemenangan di atas kursi kerja berwarna hitam itu. Duduk bersandar seraya bersedekap, pandangannya mengelilingi se isi ruangan ini.


"Jadi begini rasanya duduk di kursi ini menjadi seperti Rudianto Baskoro? Mempunyai wewenang untuk memerintah seseorang dengan uang? Hmmm ...." Anne menghela napasnya.


Tidak ada pekerjaan apapun yang ia periksa saat ini. Anne hanya berdiam diri di kursi tersebut seraya menatap foto usang yang ada di tangannya. Sebuah foto yang selalu tersimpan di dalam tasnya, karena hanya itulah yang bisa menguatkan Anne selama beberapa tahun ini. Foto keluarga di saat dirinya masih kecil. Senyum manis bu Sekar dan pak Wahyu lah yang membuat Anne bisa berada hingga di titik ini.


"Papa! Akhirnya Anne bisa melalui ini semua, Pa!" gumam Anne dengan suara yang bergetar.


Namun, tidak lama setelah itu ... Anne terhenyak dari tempat duduknya saat ini karena terkejut mendengar suara pintu yang dibuka dengan keras. Ia tersenyum smirk tatkala melihat siapa yang hadir di depan meja kerja itu.


"Apa-apaan ini!" teriak om Rudi dengan rahang yang mengeras. Wajah pria matang itu bersemu merah karena menahan amarah yang ada di dalam hati.


"Bisakah Anda bersikap lebih sopan, Pak! Saya adalah pemilik baru perusahaan ini. Bapak bisa melihat nama yang ada di meja ini 'kan?" Anne berdiri dari tempatnya.


"Jelaskan padaku, Anne! Kenapa kamu melakukan semua ini!" tanya om Rudi tanpa melepaskan pandangannya dari wajah cantik sang istri.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan, Pak!" jawab Anne dengan sikap yang sangat tenang, "Bapak sendiri yang sudah menandatangani surat peralihan semua aset Bapak! Termasuk rumah, apartment, uang, mobil dan segala yang Bapak miliki!" Anne menyeringai di hadapan pria matang itu.


"Tapi tenang saja! Saya tidak akan mengusik ketenangan Dara. Saya pun akan melindungi dia karena hanya dia yang memiliki perasaan iba kepada saya!" ujar Anne dengan mata yang melebar sempurna.


Om Rudi berkacak pinggang mendengar penuturan itu. Beliau terlihat frustasi dengan keadaan ini. Apalagi, saat mendengarkan semua rencana yang sudah disusun Anne bersama asistennya sendiri.

__ADS_1


"Jadi kalian berdua bekerja sama untuk merebut apa yang saya miliki?" tanya om Rudi seraya menatap Anne dan Pras bergantian.


"Maafkan saya, Pak! Saya terpaksa melakukan semua ini!" Pras menundukkan kepala karena takut melihat wajah penuh amarah itu.


"Kurang ajar!" Om Rudi mendaratkan bogem mentah ke wajah asistennya itu, "enyahlah dari ruangan ini!" teriak om Rudi setelah puas membuat pras tersungkur di lantai.


Kini pria matang itu berdiri di hadapan sang istri. Napasnya memburu karena api yang berkobar di dalam diri. Apalagi saat melihat sang istri tersenyum smirk di hadapannya. Wanita cantik itu seakan sedang menantangnya.


"Jadi ini lah wujud aslimu, Anne? Katakan padaku! Apa alasanmu melakukan semua ini!" Tubuh om Rudi maju satu langkah.


"Ya! Ini lah saya, wanita penuh luka yang Anda ajari bermain drama!" Anne menatap tajam manik hitam om Rudi, "saya melakukan semua ini karena saya ingin merebut apa yang seharusnya menjadi hak saya, Tuan Rudi!" Anne menepuk dadanya beberapa kali.


Kedua mata itu saling bersirobok. Keduanya sama-sama memancarkan amarah yang besar. Perdebatan panjang tak dapat terelakkan. Anne hanya tersenyum sinis melihat sang suami yang tidak terima dengan apa yang sudah terjadi.


"Anda tidak perlu membuang tenaga dengan mengucapkan semua itu!" pungkas Anne setelah lelah mendengarkan om Rudi mengeluarkan emosinya, "Lebih baik Anda pergi dari sini! Jangan lupa bawa koper Anda yang sudah saya siapkan di dalam mobil hitam kesayangan Anda itu! Mulai hari ini Anda tidak berhak menempati rumah megah itu! Saya sebagai pemilik yang baru melarang keras Anda menginjakkan kaki di sana!" ujar Anne seraya mengarahkan jari telunjuknya ke arah om Rudi.


Om Rudi menggeleng pelan mendengar hal itu. Beliau tidak percaya jika selama ini, apa yang dilakukan Anne hanyalah sebuah drama untuk menjatuhkan beliau. Om Rudi berkacak pinggang dan setelah itu satu tangannya mengusap wajahnya dengan kasar.


"Katakan padaku, Anne! Sebelum aku pergi dari hadapanmu, aku ingin memastikan satu hal!" ujar om Rudi seraya menatap wajah Anne dengan lekat, "Apakah selama kita menjalani pernikahan ini, kamu tidak memiliki perasaan sedikitpun kepada saya? Jawablah dengan jujur!" Pertanyaan om Rudi berhasil membuat Anne mengalihkan pandangannya ke arah lain.


...🌹Selamat membaca🌹...

__ADS_1


...Huh!! Kita mulai masuk konflik puncak😁ingat!! tidak ada pelakor ataupun pebinor! Nanti Akan Da kejutan dari othor untuk kalian deh 😂...


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2