Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Ngidamnya Dara,


__ADS_3

"Mas, buruan mandi!" ujar Anne seraya menyingkirkan tangan om Rudi dari perutnya.


"Nanti saja! Aku masih pengen seperti ini." Om Rudi semakin mengeratkan dekapannya di tubuh sang istri.


Anne berdecak kesal melihat tingkah suaminya itu. Malam telah hadir setelah bola raksasa berwarna jingga tenggelam. Tidak lama setelah ini, waktu makan malam akan tiba. Namun, sepasang suami istri itu masih bergelung di bawah selimut. Mereka enggan beranjak dari sana sejak selesai melakukan pertempuran.


"Ayolah, Mas! Kita bisa melanjutkan nanti malam! Sekarang ada Dara di rumah ini," bujuk Anne seraya menatap wajah om Rudi yang ada di sisinya.


"Nanti malam boleh nengok dedek lagi?" Om Rudi memastikan ucapan Anne.


Anne mengangguk pelan sebagai jawabannya. Ia kembali menghempaskan tangan om Rudi dan segera mengubah posisi. Anne meraih pakaian yang ada di atas bantalnya, ia harus segera bersiap agar Dara dan Juna tidak menunggu terlalu lama.


"Aku mau mandi dulu," pamit Anne sebelum berlalu dari sisi om Rudi.


Hampir satu jam sepasang suami istri itu bersiap di dalam kamar. Tanpa mengeringkan rambut terlebih dahulu, om Rudi segera keluar dari kamar untuk menyusul Anne. Beliau mengayun langkah sampai di tangga dan ternyata sang istri masih di sana.


"Hati-hati, Sayang," ucap om Rudi setelah sampai di sisi Anne.


Satu persatu anak tangga telah mereka lalui. Kini, mereka berdua telah sampai di ruang keluarga. Suara gelak tawa Dara terdengar hingga di ruang keluarga. Hal itu membuat Anne dan om Rudi penasaran.


"Apanya yang lucu?" tanya om Rudi setelah sampai di ruang makan.


Kehadiran om Rudi dan Anne di sana berhasil membuat Juna bungkam. Begitupun Dara, wanita yang sebentar lagi akan melahirkan itu segera membungkam mulutnya.


"Wah, pasti ada cerita lucu ini! Kasih tahu dong, Dar!" ujar Anne setelah duduk di kursinya.


Dara menggeleng pelan saat menatap Anne yang duduk berhadapan dengannya, "rahasia, An!" ujar Dara setelah berhasil menahan tawanya.


"Sudahlah, mari kita mulai makan malamnya," sela om Rudi seraya membalikkan piringnya.

__ADS_1


Makan malam bersama pada akhirnya dimulai. Keempat anggota keluarga tersebut begitu menikmati suasana dan hidangan yang tersaji di sana. Momen ini jarang sekali dilakukan, karena Dara sudah memiliki rumah di Bandung. Om Rudi tak henti mengembangkan senyum ketika melihat putrinya makan dengan lahap. Sungguh, beliau tidak pernah menyangka jika Dara sudah tumbuh sebesar ini. Sebentar lagi, putrinya itu akan menjadi seorang ibu.


"Ayo, kita pindah ke ruang keluarga," ajak om Rudi setelah semuanya selesai makan.


Semua anggota keluarga itu pindah ke ruang keluarga. Dara memilih duduk di sisi Anne. Kedua wanita itu sama-sama memiliki perut yang besar. Hal itu membuat om Rudi tersenyum simpul melihat pemandangan yang tak jauh dari beliau.


"Emm, Pi, sebenarnya kami ingin menyampaikan sesuatu," ucap Juna untuk mengawali obrolan bersama mertuanya.


"Oh, ya, silahkan, Nak!" Om Rudi mengalihkan pandangannya ke arah Juna.


Melihat respon sang mertua, membuat Juna tersenyum kecut. Ia mengusap tengkuknya saat merangkai kata yang akan terucap. Ia terlihat salah tingkah, sesekali Juna menatap sang istri, memberikan kode agar Dara membantunya.


"Emm, sebenarnya ... itu, Pi"—Juna menghentikan ucapannya karena tidak enak hati—"kedatangan kami ke sini selain mengunjungi Papi, ada satu hal lagi yang diinginkan oleh Dara," ucap Juna.


"Baiklah, katakan saja! Tidak usah sungkan." Om Rudi penasaran apa kiranya yang diinginkan oleh Dara.


Juna tersenyum kecut setelah om Rudi mengalihkan pandangan ke arahnya. Ia tak kunjung bicara karena tidak enak hati untuk mengatakan semua ini.


"Dara ingin tidur bersama Anne!" ujar Dara seraya menatap om Rudi. Ia terpaksa mengatakan itu saat suaminya tak kunjung menyampaikan keinginannya kepada om Rudi.


Semua mata tertuju ke arahnya. Anne dan om Rudi tak melepaskan pandangan dari wajahnya, sementara Juna menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya. Mungkin, pria tampan itu malu kepada om Rudi.


"Maksudnya bagaimana, Dar?" tanya om Rudi. Pria matang itu belum paham bagaimana maksud putrinya.


Dara beranjak dari tempatnya, ia duduk di sisi om Rudi seraya menampilkan senyum tipis, "jadi begini, Pi. Emm ... beberapa hari belakangan ini, Dara mempunyai keinginan yang tidak bisa dihilangkan. Dara sudah mencoba untuk melupakan keinginan itu, akan tetapi realitanya, keinginan itu semakin menggebu, Pi," jelas Dara seraya menatap ayahnya.


"Memangnya apa sih, Dar, yang kamu inginkan? Jangan berbelit!" tanya om Rudi.


"Dara ingin tidur bersama Anne, Pi! Untuk beberapa hari ke depan! Dara ingin merasakan kembali saat-saat kami bersama dulu!" Akhirnya, dengan berat hati Dara mengungkapkan dengan jelas apa keinginannya.

__ADS_1


Anne terbelalak setelah mendengarkan penjelasan dari Dara. Ia tidak menyangka jika Dara menginginkan hal itu. Anne mengulum senyum tatkala melihat ekspresi wajah sang suami, pasti pria matang itu masih shock setelah mendengar permintaan putrinya sendiri.


"Hmmmm! Pasti bingung kan ya! He ... he ... he ... pasti gak bisa tidur tuh si Papi!" batin Anne dengan diiringi senyum smirk.


"Apa gak ada keinginan selain itu, Dar? Misal liburan ke Eropa atau ke Amerika gitu?" tanya om Rudi sekali lagi.


Dara menggeleng pelan dengan sorot mata sendu. Ia tahu jika permintaannya terlalu berat. Ia sudah menerka jika ayahnya pasti keberatan jika membiarkan Anne tidur bersamanya.


"Boleh, ya, Pi?" Dara memastikan keputusan ayahnya, "memangnya Papi mau punya cucu ileran? Dara ini sedang ngidam loh, Pi!" bujuk Dara agar mendapat persetujuan dari ayahnya.


Juna hanya bisa menundukkan kepalanya setelah mendengar sang istri mengatakan hal itu. Ia malu dan tidak enak hati kepada mertuanya, karena ia pun merasakan hal yang sama jika sampai keinginan Dara terpenuhi.


"Mas, udah, gak papa! Kasihan Dara 'kan!" Kali ini Anne ikut membujuk sang suami, "toh, ini tidak akan berlangsung lama," lanjutnya seraya menatap om Rudi penuh arti.


Keheningan terasa di dalam ruang keluarga. Om Rudi masih diam seraya menatap Dara dan Anne bergantian. Sungguh, beliau sangat berat jika harus tidur seorang diri, akan tetapi beliau pun tidak boleh egois kepada Dara.


"Baiklah! Kamu boleh tidur bersama Mami mu, akan tetapi bagaimana dengan suamimu?" tanya om Rudi.


"Dara nanti akan mengajak Anne tidur di kamar Anne yang lama. Juna sama Papi tidur di kamar masing-masing! Bagaimana?" Dara menaik-turunkan satu alisnya saat menatap om Rudi.


"Ya, ya, ya, terserah kamu saja!" Om Rudi hanya bisa pasrah dengan situasi ini.


Setelah mendapatkan persetujuan dari ayahnya, Dara segera mengajak Anne pergi ke kamar tersebut. Ia membiarkan Juna dan om Rudi berada di ruang keluarga. Tentu saja, dengan senang hati, Anne mengikuti Dara pergi ke kamar yang dimaksud. Sementara om Rudi dan Juna hanya bisa diam sambil menatap punggung kedua wanita tersebut.


"Gagal maning! Gagal maning! Ronde kedua gak jadi main! Alamat tongkat sakti bakal nganggur!" gerutu om Rudi dalam hati.


...🌹Selamat membaca🌹...


...Selamat hari minggu gaess🤭...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2