
Beberapa berkas tertumpuk rapi di meja kerja Anne saat ini. Ia harus mempelajari berkas-berkas tersebut di hari pertama kerja. Tentu saja, dengan bantuan sekertaris umum om Rudi yang bernama Risa. Anne dibimbing Risa dari awal sampai paham dengan berkas-berkas penting om Rudi.
"Nah, ini adalah schedule pak Rudi untuk besok. Tugasmu adalah mempelajari bahan rapat yang sudah saya siapkan, jadi, besok kamu harus menemani pak Rudi rapat di luar kantor dengan koleganya," ucap Risa seraya membukakan bahan rapat yang ada di map merah.
"Apakah saya perlu mencatat hasil rapat?" tanya Anne tanpa menatap Risa, ia sibuk membaca grafik yang tertulis di kertas tersebut.
"Tentu, karena pak Rudi biasanya minta resume selama rapat, bersiaplah mendengar dan menulis cepat agar tidak sampai lupa," ujar Risa dengan tutur kata yang lembut.
Risa sangat telaten saat membimbing Anne dalam mempelajari semua berkas yang sudah ia siapkan. Risa semakin respect karena Anne begitu tanggap saat dirinya menerangkan beberapa poin penting yang dirasa sulit.
"Anne, kamu dipanggil pak Rudi ke ruangan!" ucap Pras yang berdiri di pintu ruang kerja Anne dan Risa.
"Tutup dulu berkasnya, silahkan kamu ke ruangan pak Rudi," ucap Risa diiringi senyum yang sangat manis.
Anne segera beranjak dari tempatnya saat ini. Ia mengayun langkah menuju ruangan om Rudi yang sangat dekat dengan ruangannya. Segera ia membuka pintu tersebut dan masuk untuk menemui pria yang menjadi bosnya saat ini.
"Selamat pagi, Pak." Anne membungkukkan tubuhnya setelah menyapa Pria yang duduk di kursi kerjanya.
Om Rudi hanya tersenyum tipis melihat sikap formal yang ditunjukkan oleh sang istri. Penampilan Anne saat ini membuatnya terlihat lebih dewasa. Om Rudi masih diam sambil mengamati penampilan sang istri saat ini.
"Sekar, kamu benar-benar hidup kembali," ucap om Rudi dalam hatinya. Pikiran itu mulai berkelana jauh, menembus masa lalu yang pernah ada.
Om Rudi menggeleng pelan setelah sadar nama siapa yang baru beliau sebut itu, "astaga! Ingat! Dia adalah Anne, istrimu! Bukan Sekar!" Om Rudi memaki dirinya sendiri. Beliau mencoba menghapus sosok ibunya Anne yang masih melekat dalam ingatan.
"Pak! Bapak!" Anne semakin mendekat ke tempat om Rudi berada, "ada apa ya, Bapak memanggil saya?" tanya Anne masih dengan sikap yang formal karena ia tahu ini adalah lingkup kantor.
__ADS_1
"Kemarilah, Sayang!" ujar om Rudi seraya menatap Anne penuh arti.
Anne mengernyitkan keningnya setelah mendengar perintah itu dari sang suami. Tanpa banyak protes sedikitpun ia berjalan mendekat ke tempat om Rudi berada. Ia segera duduk di atas paha itu saat melihat om Rudi menepuk pahanya.
"Bagaimana nanti jika ada yang masuk ke ruangan ini?" tanya Anne seraya menatap om Rudi, ia terlihat panik karena takut ada yang melihatnya saat ini.
"Kamu tenang saja," ucap om Rudi seraya menarik gagang laci, beliau mengambil sesuatu dari sana, "Tekan tombol merah di remote ini dan tombol silang di remote yang lebih kecil!" ujar om Rudi setelah mengeluarkan dua remote control dari laci tersebut.
Anne segera mengikuti perintah dari om Rudi, ia tidak tahu apa fungsi kedua remote control itu, "ini remote apa sih?" Anne mengedarkan pandangan untuk mencari perubahan yang terjadi dalam ruangan itu.
"Ini adalah remote kunci pintu otomatis dan yang lebih kecil untuk mengontrol CCTV di ruangan ini, karena kamu sudah menekan tombol silang, maka CCTV tidak bisa merekam apapun di ruangan ini." Om Rudi tersenyum penuh arti.
"Bagaimana pekerjaan pagi ini? Apa kamu dibimbing Risa dengan baik?" tanya om Rudi seraya menatap wajah sang istri dengan lekat.
Suara telepon kantor berhasil menghentikan obrolan mesra sepasang suami istri itu. Pras memberitahu om Rudi jika klien yang ingin bekerja sama sudah hadir di perusahaan untuk menandatangani kontrak kerja sama.
"Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk bermesraan." Om Rudi merapikan kancing kemeja Anne yang sempat terlepas, "Ambillah berkas kontrak kerja sama dengan PT. ARB yang sudah disiapkan Risa! Setelah itu ikutlah denganku bersama pras ke ruang pertemuan," ujar om Rudi seraya membantu Anne turun dari pangkuannya.
Setelah merapikan penampilannya, Anne bergegas keluar dari ruangan tersebut. Ia segera menemui Risa sesuai perintah dari om Rudi, tidak lupa Anne bertanya kepada Risa apa saja yang harus ia lakukan nanti.
"Good luck, Anne!" Risa mengacungkan jempolnya sebelum Anne keluar dari ruang bersekat kaca itu.
Wajah cantik itu terus mengembangkan senyum yang sangat manis. Berjalan di belakang om Rudi dengan anggun. Anne benar-benar terlihat profesional saat di kantor. Ia berjalan tegak di belakang sang suami sebagai seorang sekretaris.
Setelah sampai di ruang pertemuan, Anne melakukan tugasnya seperti yang sudah dijelaskan oleh Risa. Ia mencatat setiap poin penting yang terjadi sebelum penandatanganan berkas kontrak yang dipelajari oleh klien om Rudi.
__ADS_1
Pertemuan tersebut menghabiskan waktu selama kurang lebih satu jam. Ada beberapa hal yang selain masalah kontrak yang mereka bahas. Om Rudi terus mengamati mata klien yang sedang berbicara di hadapannya itu.
"An, kembalilah ke ruanganmu! Pelajari berkas-berkas yang sudah disiapkan Risa, biar Pras saja yang menemani saya di sini," ucap om Rudi seraya menatap Anne penuh arti.
Keadaan ruang pertemuan mendadak sunyi kala om Rudi mulai menginterupsi. Klien yang seumuran dengan beliau itu terus menatap kepergian Anne dari ruangan. Pria tersebut mengembangkan senyum saat Anne pamit pergi dari ruangan tersebut dengan diiringi senyum yang sangat manis.
"Fresh graduate, ya, Pak?" tanya klien om Rudi setelah Anne benar-benar keluar dari ruangan tersebut.
"Iya, Pak! Dia pun baru bekerja hari ini," jawab om Rudi dengan ekspresi wajah yang berbeda, "baiklah, mari kita lanjutkan pembahasan kontraknya," ucap om Rudi seraya membuka lembaran selanjutnya.
Pras tersenyum tipis melihat ekspresi wajah bosnya. Ia tahu bahwa om Rudi cemburu karena klien yang ada di hadapannya menatap seorang istri yang sedang menyamar jadi sekretaris itu. Pras hanya tidak menyangka saja, di balik berkuasanya pria yang sedang duduk tenang itu ternyata masih menyimpan rasa cemburu yang besar kepada pasangannya.
"Terima kasih, Pak Rudi, atas kerjasama ini," ucap klien tersebut setelah pertemuan selesai, mereka saling berjabat tangan dengan diiringi senyum tipis.
"Sama-sama, Pak Darma. Semoga kerja sama ini sesuai harapan kita," ucap om Rudi seraya menepuk bahu kliennya itu.
Om Rudi dan Pras mengantar pak Darma sampai masuk ke dalam lift. Tatapan om Rudi mendadak menjadi dingin setelah kepergian pria seumuran dengannya itu. Setelah mengamati raut wajah bosnya saat ini, Pras segera membuka ponselnya.
"Saya sudah menghubungi orang-orang kita untuk mengawasi dia, Pak!" ujar Pras setelah menyimpan ponselnya ke dalam saku. Ia sudah paham apa yang harus dilakukan hanya dengan melihat ekspresi wajah om Rudi.
...🌹Selamat membaca🌹...
...Kuy sedekah gift atau vote🤭...
...🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1