Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Persiapan menjelang melahirkan,


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian.


Sang mentari baru saja beranjak dari peristirahatan. Senyumnya yang indah memberikan kehangatan kepada setiap insan yang sedang memulai aktivitas di pagi hari. Sama hal nya dengan Anne, wanita berbadan dua itu sedang menghabiskan waktu di taman yang ada di halaman rumah. Ia baru saja selesai jalan kaki mengelilingi halaman rumahnya yang luas. Anne harus banyak bergerak agar otot perutnya tidak mengalami kram, karena sebentar lagi ia akan melahirkan.


"Minum dulu, Sayang," ucap om Rudi seraya menyerahkan satu botol air mineral.


"Terima kasih, Mas," ucap Anne dengan diiringi senyum yang manis.


Sepasang suami istri itu menghabiskan hari minggu pagi di taman yang asri itu. Om Rudi tak henti mengusap perut buncit sang istri dengan gerakan yang lembut. Pria matang itu sudah tidak sabar lagi untuk menyambut kehadiran sang buah hati. Tinggal menghitung hari saja, mereka akan bertemu.


"Sayang, aku tidak sabar ingin bertemu dengan dia," ucap om Rudi seraya menatap Anne dengan diiringi senyum yang manis.


"Sebentar lagi, Mas. Sabar," ucap Anne dengan diiringi senyum yang sangat manis.


Om Rudi mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi sang istri. Rasanya, ingin sekali beliau menarik pipi bakpao itu. Berat badan Anne naik drastis selama hamil anak kedua, tubuhnya menjadi lebih sintal dari sebelumnya.


"Oh ya, Mas, Apartment atas namaku kan jarang kita tempati. Lebih baik Mas jual saja lah daripada gak terpakai," ucap Anne seraya menatap om Rudi penuh arti.


"Aku gak setuju jika apartment itu dijual!" sergah om Rudi tanpa berpikir panjang, "kita tidak perlu menjual aset apapun, Sayang. Perusahaan di sini masih baik-baik saja. Mas gak masalah meskipun kehilangan saham di Jepang." Om Rudi menenangkan sang istri agar tidak memikirkan masalah yang sudah berlalu itu.


Ya, penurunan ekonomi keluarga yang dimaksud om Rudi bukanlah kehilangan semua kekayaan. Pria matang itu hanya kehilangan saham yang ditanam di salah satu perusahaan di Jepang. Semua itu tidak mempengaruhi semua perusahaan yang berada di Indonesia. Mungkin, pengaruh yang dimaksud adalah pengaruh pendapatan om Rudi saja setiap bulannya.

__ADS_1


"Kamu tidak usah khawatir. Justru setelah ini, Mas bisa menemanimu setiap hari, tanpa harus pergi ke Jepang. Semua perusahaan di sini bisa di handle dari rumah," ucap om Rudi sambil menepuk paha sang istri dengan pelan.


Anne merebahkan kepalanya di bahu tersebut. Tujuannya meminta om Rudi agar menjual apartment tersebut, hanya untuk meringankan beban om Rudi. Anne tidak mau semua masalah yang terjadi di Jepang sampai membuat suaminya setres hingga berujung sakit. Lagi pula apartment itu pun jarang sekali dipakai.


"Sampai kapanpun apartment itu tidak akan Mas jual, di sana banyak sekali kenangan kita," ucap om Rudi seraya membelai rambut Anne dengan gerakan lembut.


...♦️♦️♦️♦️♦️...


Malam telah datang setelah sang mentari menyerahkan kuasanya kepada waktu. Gemerlap bintang mulai bertaburan menghiasi gelapnya malam. Bulan sepertinya malu untuk menampakkan wujudnya yang belum sempurna.


Makan malam telah usai sejak beberapa puluh menit yang lalu. Sepasang suami istri itu pun memutuskan naik ke lantai dua menuju kamar. Malam ini, rencananya Anne akan berkemas, apa saja yang perlu dibawa saat melahirkan nanti. Ia sengaja tidak mau mempersiapkan semua ini terlalu jauh dari perkiraan kelahiran buah hatinya. Ia seperti trauma dengan kejadian saat hamil pertama.


"Kamu duduk di sini saja, Mas ambil kopernya sebentar," ucap om Rudi setelah Anne duduk di sofa yang ada di walk in closet.


"Mas, sekalian ambil perlengkapannya, ya!" titah Anne seraya menatap om Rudi, lantas ia pun menunjuk dan menyebutkan setiap keperluan yang harus diambil oleh om Rudi.


"Terima kasih, Mas," ucap Anne setelah om Rudi membawa koper beserta keranjang berisi keperluan bayi.


"Sekalian Mas ambilkan keperluanmu, ya," ujar om Rudi setelah meletakkan keranjang tersebut di sofa yang ada sisi sang istri.


Anne segera mengemas segala perlengkapan bayi yang sudah disiapkan om Rudi ke dalam koper. Ia sibuk melipat pakaian, bedong, popok dan beberapa barang lainnya. Setelah selesai menyiapkan semua perlengkapan bayi nya, kini, giliran Anne mengemas perlengkapannya.

__ADS_1


"Mas! Kenapa nyiapin ini? Aku tuh mau melahirkan, bukan ke pantai!" ujar Anne seraya mengangkat satu set underwear sexy atau sejenis bik!ni.


"Lah memangnya kenapa? Itu bagus loh!" tanya om Rudi dengan entengnya.


Anne menepuk jidat melihat kelakuan suaminya itu. Ia tidak habis pikir saja, kenapa bisa pria matang seperti om Rudi sekonyol itu, "aduh! Mas ini gimana coba! Mana bisa wanita melahirkan pakai seperti itu! Masa Mas gak tahu sih, wanita setelah melahirkan itu mengalami fase nifas?" cecar Anne tanpa melepaskan pandangan dari wajah suaminya.


Anne beranjak dari sofa untuk mengambil perlengkapannya sendiri. Ia sudah membeli beberapa pakaian yang akan digunakan nanti. Segera ia membuka pintu almari untuk mengambil pakaian yang tersimpan di deretan paling atas.


"Nah, ini baru benar!" Anne menunjukkan underwear yang baru saja ia ambil.


"Jangan pakai yang model begitu, Sayang! Mas gak suka! Itu kurang menarik!" sergah om Rudi saat melihat barang yang ditunjukkan oleh Anne.


Anne berdecak kesal setelah melihat respon suaminya itu. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa wanita melahirkan harus tampil sexy. Ia tak menghiraukan om Rudi yang terus berkomentar tentang barang yang dibawa oleh Anne.


"Mas! Untuk apa tampil sexy jika barangnya tidak bisa dipakai! Ingat, ya! Mas itu harus puasa seperti dulu! Gak boleh pegang-pegang ataupun mancing-mancing!" Anne memberi peringatan kepada suaminya.


"Memangnya kenapa kalau mancing-mancing? Kamu takut gak tahan, ya!" Om Rudi sengaja menggoda Anne.


"Ih, gak salah tuh!" kilah Anne tanpa menatap om Rudi, "Awas saja, kalau sampai Mas macam-macam, aku akan balik ke rumah sakit! Aku mau jahit semua jalannya, biar Mas gak bisa masuk!" ancam Anne dengan mata yang melebar sempurna.


Bukannya takut, om Rudi malah tergelak. Pria matang itu sampai mengeluarkan air mata karena tak kuasa menahan tawanya. Beliau membayangkan bagaimana jika jalan kenikmatan itu benar-benar dijahit semuanya. Sungguh, malam ini om Rudi tak bisa menahan tawa karena ancaman konyol sang istri.

__ADS_1


"Sayang, nanti jangan lupa request ke dokternya. Kalau sampai dijahit, tolong, kamu bilang, jahitannya yang rapi. Jangan lupa dibordir sekalian," ujar om Rudi di sela-sela gelak tawanya.


...🌹Selamat membaca🌹...


__ADS_2