
"Papi! Turunkan saya!" teriak Anne saat om Rudi membopong tubuhnya yang polos keluar dari ruangan gym.
Anne malu dan takut ada yang melihat tubuhnya yang molek. Ia menggeliat dan berusaha melepaskan diri dari sang suami. Namun, sekuat apapun Anne meronta, om Rudi pun semakin kuat mengeratkan tangannya agar Anne tidak jatuh.
Byuur ....
Om Rudi tersenyum tipis setelah melempar tubuh sang istri ke dalam kolam renang. Tak berselang lama, beliau pun segera menyusul ke dalam kolam renang itu. Mungkin beliau akan melanjutkan kegiatan panas itu di kolam tersebut. Permainan pertama berhasil dimenangkan oleh om Rudi. Beliau berhasil membuat Anne tidak berdaya dan kini, sepertinya ... akan ada permainan kedua, entah gaya apa lagi yang dipakai om Rudi untuk membalaskan dendamnya kepada sang istri. Tentu ini adalah dendam yang tak jauh dari kegiatan ranjang.
"Papi!" teriak Anne setelah kepalanya muncul di permukaan. Bibirnya mengerucut sempurna karena kesal dengan sang suami, "dingin, Pi, kalau renang gak pakai baju!" protes Anne saat om Rudi berada di hadapannya.
"Gak bakal dingin, Sayang! Kan ada Papi!" ucap Om Rudi dengan santainya.
Kedua tangan om Rudi begitu mahir melakukan tugas-tugasnya. Menyentuh setiap bagian tubuh yang bisa membuat Anne bergetar tak karuan. Ini adalah yang pertama kalinya bagi Anne. Menuntaskan hasrat di dalam kolam renang. Sayapnya mungkin saja bisa patah karena berkali-kali dipakai untuk terbang menembus nirwana.
"Papi! Stop, Pi!" Anne menginterupsi, "Kita lanjutkan di kamar saja," ucapnya dengan suara yang sangat lirih.
"Baiklah, Sayang," ucap om Rudi sebelum mengangkat tubuh sang istri ke tepi kolam renang.
Sepasang suami istri itu masuk kembali ke dalam ruang gym untuk memakai pakaian yang berserakan di lantai. Anne kembali memakai mengikat tali peignoir di perutnya sebelum mengikuti langkah sang suami.
Keadaan rumah yang sepi membuat sepasang suami istri itu berjalan dengan santainya. Entah saat ini para ART sedang berkumpul di mana, yang pasti mereka berdua tidak bertemu dengan satu ART pun.
Ranjang king size di kamar utama kembali menjadi saksi betapa tangguhnya pria matang yang sedang berkuasa saat ini. Om Rudi terus melancarkan serangannya walau sang istri terlihat tidak berdaya. Wajahnya menyeringai kala mendengar kalimat yang diucapkan oleh Anne.
"Saya mengaku kalah, Pi! Ampun, Pi!" ucap Anne di sela-sela lenguhannya, "Papi memang hebat! Akhiri semua ini, Pi!" lanjut Anne dengan sorot mata penuh harap.
__ADS_1
Senyum penuh kemenangan terbit dari bibir om Rudi setelah mendengar pengakuan dari sang istri. Pengakuan menjadi suami hebat sangat dibutuhkan oleh om Rudi karena dengan begitu, beliau tidak akan lagi dibully oleh Anne. Membuat Anne terbang berkali-kali dalam satu kali permainan adalah tujuan om Rudi saat ini. Semua saran yang beliau dapat saat berkonsultasi dengan seorang pakar seksologi beberapa minggu yang lalu ternyata membuahkan hasil. Om Rudi akhirnya bisa membuat Anne tidak berdaya tanpa rasa encok setelahnya.
"Apa lagi?" tanya om Rudi setelah merebahkan diri di sisi Anne. Beliau mencoba mengartikan tatapan mata sang istri.
Anne mengacungkan dua jempolnya seraya tersenyum penuh arti. Tidak lama setelah itu, ia memejamkan mata karena rasa lelah mulai melanda diri. Tidur adalah pilihan yang tepat untuk mengembalikan energi yang hilang dari tubuhnya.
...♦️♦️♦️♦️♦️...
Detik demi detik telah berlalu, matahari sudah berada pada puncak tertinggi sebelum turun beberapa jam ke depan. Tidur nyenyak om Rudi mulai terusik kala merasakan para cacing di dalam perutnya sedang berdemonstrasi. Om Rudi merasakan kebas di lengannya karena ternyata Anne masih tidur pulas dalam dekapan hangat beliau. Lengan itu dipakai bantal oleh sang istri.
"Sayang, bangun yuk! Kita belum makan sejak tadi pagi," ucap om Rudi seraya menepuk lengan Anne beberapa kali.
"Masih ngantuk, Pi!" Anne bergumam dengan mata yang masih terpejam.
"Nanti setelah makan, kamu bisa tidur lagi! Sekarang mari kita bangun, oke!" bujuk om Rudi seraya melepaskan tangannya dari kepala Anne.
"Astaga! Aku lelah sekali!" ujar Anne saat meregangkan otot-otot tubuhnya.
"Itu aki-aki gak bisa disepelehkan! Boleh juga tenaganya! Duh capek!" keluh Anne setelah duduk bersandar di headboard ranjang, "tapi enak juga sih servis nya!" Anne terkekeh setelah mengakui kehebatan sang suami.
Beberapa menit kemudian, Anne turun dari ranjang setelah melihat pintu kamar mandi terbuka. Anne meringis kesakitan setelah berdiri di tepi ranjang. Area hutan gundul terasa ngilu dan kakinya pun bergetar. Anne seperti kehilangan seluruh tenaga hingga membuatnya kesulitan berjalan.
"Papi ... bantu saya ke kamar mandi, Pi!" ucap Anne dengan manjanya.
"Kamu kenapa? Sakit?" tanya om Rudi setelah menghampiri sang istri yang duduk kembali di tepi ranjang.
__ADS_1
"Saya gak kuat jalan, Pi." Anne menengadahkan kepala agar bisa menatap sang suami.
Om Rudi segera membantu Anne berdiri dari tepi ranjang. Beliau memapah tubuh itu sampai ke kamar mandi. Om Rudi pun mengisi bathup dengan air hangat agar sang istri berendam di sana, mungkin dengan berendam otot-otot ditubuhnya akan kembali normal.
"Makasih, Papi Sayang," ucap Anne setelah melihat sang suami menyiapkan bathup untuknya.
"Sama-sama, Sayang," jawab om Rudi sebelum meninggalkan Anne seorang diri di dalam kamar mandi.
Setelah membantu Anne di kamar mandi. Om Rudi bergegas masuk ke dalam walk in closet untuk mencari pakaian santai. Hampir sepuluh menit, om Rudi menghabiskan waktu di ruangan tersebut untuk merapikan diri.
Om Rudi bergegas keluar dari kamar, beliau mengayun langkah menuju ruang makan untuk mencari bi Sari agar menyiapkan makan siang. Om Rudi menginstruksi ART nya itu agar membawakan dua porsi makan siang ke dalam kamar saja, karena mungkin setelah ini Anne enggan turun ke lantai satu.
"Biar saya yang membawa masuk!" ujar om Rudi setelah beliau dan bi Sari sampai di depan kamar. Om Rudi pun membawa nampan berisi makan siang itu ke dalam kamar karena Tidak mungkin bukan, jika ART nya itu melihat ranjang yang masih berantakan.
Setelah berada berendam selama dua puluh menit, pada akhirnya Anne memutuskan untuk mengakhiri kegiatan ini. Ia harus membilas tubuhnya di bawah guyuran shower sebelum keluar dari kamar mandi. Bathrobe putih yang sudah disiapkan di sana, telah membalut tubuhnya.
"Wah ...." Mata indah itu berbinar saat melihat sang suami sudah menyiapkan makan siang di meja yang ada di depan sofa panjang itu.
"Sini, makan dulu! Nanti saja ganti bajunya," titah om Rudi seraya menepuk sofa yang ada di sisinya.
Mungkin karena merasa kelaparan, Anne tidak menolak hal itu. Padahal biasanya Anne tidak mau sarapan jika belum selesai bersiap, tapi tidak untuk kali ini. Meski masih memakai bathrobe dan handuk kecil yang melilit rambutnya, Anne tetap menikmati makan siang itu tanpa mengeluh ataupun menolak.
"Pi, nanti malam jalan-jalan, yuk! Udah lama loh, kita enggak jalan bareng di mall," ucap Anne setelah menghabiskan satu suap makanannya, "gak boleh nolak!" ujar Anne seraya menatap wajah sang suami dengan intens.
...🌷Selamat membaca🌷...
__ADS_1
...Duh, gegara ikut tenggelam di novel ini ... othor sampai mimpi jadi Anne waktu kelar nulis bab sebelumnya😂duh pesona om Rudi sampai masuk ke dalam mimpi othor😂🤭...
...🌷🌷🌷🌷...