Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Hamil?


__ADS_3

Waktu terus berjalan, meninggalkan segala kenangan yang terjadi. Semua fakta telah terkuak bersamaan dengan hati yang semakin terluka. Dara, Anne dan om Rudi, ketiganya sama-sama terluka karena memori di masa lalu terungkap kebenarannya. Mereka bertiga kembali menjalani hari dengan kegiatan masing-masing. Sampai saat ini Dara belum mau bertemu dengan om Rudi atau pun Anne. Wanita berbadan dua itu sudah kembali ke Bandung setelah keluar dari rumah sakit.


Kejadian menegangkan di ruang kerja kala itu telah berlalu. Hampir satu minggu pasca kejadian itu kondisi tubuh Anne kurang baik. Tenaganya terkuras untuk memikirkan masalah pribadi dan pekerjaan di kantor. Beberapa hari ini ia terus mual dan muntah, tubuhnya pun menjadi lemas dan lunglai.


"Bu Risa, obat untuk menurunkan asam lambung yang mujarab obat apa, ya? Sudah satu minggu ini asam lambung saya naik terus. Padahal saya sudah minum obat," tanya Anne kepada Risa yang baru saja selesai membantunya menyiapkan laporan keuangan.


"Coba ke dokter aja, siapa tahu kondisimu membutuhkan bantuan medis," ucap Risa seraya menatap Anne yang sedang duduk bersandar di kursinya.


Risa prihatin melihat kondisi Anne. Ia terlihat pucat walau wajahnya sudah dipoles dengan make-up. Risa khawatir terjadi sesuatu kepada Anne, mengingat akhir-akhir ini sepertinya banyak masalah yang dihadapi atasan barunya itu.


Kedua wanita itu mengalihkan pandangan ke arah pintu setelah mendengar ketukan beberapa kali. Beberapa detik kemudian, Pras muncul dibalik pintu. Ekspresi wajahnya terlihat tidak baik-baik saja, seperti ada sesuatu hal yang genting.


"Selamat siang," ucap Pras setelah berdiri di sisi Risa, "saya ada kabar kurang baik, Bu," ucap Pras seraya menatap Anne intens.


"Katakan!" ujar Anne seraya memijat pangkal hidungnya. Kepala itu semakin berdenyut, padahal Pras belum menyampaikan kabar tersebut.


"Proyek pariwisata di Bandung sementara dihentikan, Bu. Kepala lapangan membuat keputusan sepihak karena tidak bisa bertindak. Warga demo dan menuntut kompensasi yang lebih besar. Sepertinya ada yang sengaja mempengaruhi warga." Pras menjelaskan semua yang terjadi dengan proyek yang ditangani oleh Anne.


Anne berdiri dari kursinya, ia berlari menuju kamar mandi sambil membekap mulutnya. Padahal, Pras belum selesai menyampaikan berita buruk itu. Tentu hal itu membuat Risa dan Pras menjadi bingung, mereka saling pandang seperti sedang menyampaikan pesan lewat sorot mata.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Pras segera merogoh ponsel yang ada di saku celana. Tangannya sibuk mengetik di layar pipih itu, entah Pria itu sedang mengetik apa.


"Pak Pras, bagaimana ini? Anne sepertinya butuh istirahat," gumam Risa setelah mendengar suara Anne di kamar mandi.


"Kita lihat saja perkembangannya," jawab Pras dengan sikap yang tenang.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Anne keluar dari kamar mandi. Ia duduk kembali di kursi kerjanya dan mencoba fokus pada kabar yang baru saja disampaikan oleh Pras.


"Begini saja, saya setuju jika proyek tersebut berhenti sementara. Setidaknya saya butuh waktu untuk memikirkan jalan keluarnya, tolong katakan kepada kepala lapangan, jika saya akan menemuinya setelah kondisi saya lebih baik," ucap Anne tanpa mengalihkan pandangan dari asistennya.


"Baik, Bu," ucap Pras sebelum berlalu dari ruangan tersebut.


Anne dan Risa melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Anne berusaha fokus meski kondisinya semakin tidak memungkinkan untuk bekerja. Rasanya, ingin segera beristirahat di kamar sambil memeluk guling. Namun, sebagai pemimpin perusahaan ia harus bersikap profesional. Ia harus bisa melawan semua rasa sakit yang mendera.


...♦️♦️♦️♦️♦️...


Warna gelap telah menggulung langit cerah yang berhiaskan awan. Hamparan bintang mulai hadir untuk menghiasi malam tanpa cahaya rembulan. Penunjuk waktu sudah berada di angka sembilan akan tetapi Anne masih sibuk dengan ponselnya di ruang keluarga.


"Kira-kira aku minta bantuan pengacara siapa ya, kalau pengacara perusahaan tidak mungkin, jelas mereka akan membela dia!" gumam Anne setelah meletakkan ponselnya di atas meja.


"Maaf, Nya, mengganggu waktunya sebentar," ucap bi Sari setelah berada di sisi sofa yang ditempati oleh Anne.


"Ada apa, Bi?" tanya Anne seraya berdiri dari tempatnya saat ini.


"Susu yang biasa Nyonya minum setiap malam sudah habis. Saya sudah mencari di beberapa supermarket ternyata kosong," ucap bi Sari seraya menatap Anne, "obat yang diberikan pak Rudi pun tinggal satu kapsul saja," ucap bi Sari.


"Obat? Obat apa, Bi?" Anne terkejut mendengar laporan dari asisten rumah tangganya.


"Itu loh, Nya, obat yang biasa dicampur di dalam susu Nyonya." Bi Sari bersikap biasa di hadapan Anne, "Tadi saya sudah membeli susu wanita sebelum hamil yang serupa, tapi saya takut nanti Nyonya tidak suka," keluh bi Sari.


"Apa? Susu wanita sebelum hamil?" Anne semakin bingung dengan apa yang disampaikan oleh bi Sari.

__ADS_1


"Iya, Nya. Kan setiap malam saya membuatkan Nyonya susu itu. Saya diberitahu pak Rudi tentang takarannya sebelum beliau pergi dari rumah ini dan kebetulan sekarang stoknya sudah habis," ucap bi Sari.


Anne tercengang mendengar pengakuan asisten rumah tangganya. Tangannya otomatis meraba perutnya yang masih rata. Pikirannya mulai mengingat kapan terakhir ia berhubungan dengan om Rudi. Ia pun berusaha mengingat kapan pertama kali mengkonsumsi susu tersebut dan semua itu berhasil membuat mata Anne terbelalak sempurna.


"Apakah masih ada bungkus susu yang diberikan pak Rudi?" tanya Anne setelah semua memori itu terkumpul.


"Ada, Nya," jawab bi Sari.


Tanpa menunda lagi, Anne mengikuti langkah bi Sari ke dapur. Ia harus melihat langsung, susu apa yang sebenarnya ia konsumsi beberapa waktu terakhir ini. Anne membekap mulutnya setelah membaca merk, kegunaan dan efek samping yang tertulis di kotak susu itu.


"Mana obatnya, Bi?" Anne mengalihkan pandangannya ke samping.


Anne mengernyitkan keningnya setelah menerima obat yang ada di dalam botol bening. Kapsul berwarna merah itu membuatnya sangat penasaran. Setelah memberitahu bi Sari agar tidak membuatkannya susu, Anne segera pergi dari dapur dengan membawa kotak susu dan obat tersebut.


"Aku harus memastikan semua ini ke dokter kandungan," ucap Anne setelah sampai di dalam kamar. Ia meletakkan kedua barang tersebut di atas nakas.


Anne merebahkan diri di atas ranjang. Tangannya tak henti membelai perut rata itu. Pikiran melayang jauh sambil mengingat kapan terakhir datang bulan. Anne mengubah posisinya, ia duduk bersandar di kepala ranjang seraya meraih ponsel untuk melihat kalender yang ada di sana. Bulir air mata mengalir begitu saja ketika Anne menyadari kondisi tubuhnya beberapa hari ini. Air mata itu semakin mengalir deras tatkala Anne tahu bahwa dirinya terlambat datang bulan.


"Ya Tuhan, mungkinkah aku hamil?" gumam Anne di sela-sela tangisnya.


...🌹Selamat membaca🌹...


...Maap yee telat up, dari pagi othor sakit gigi😭...


...🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2