
"Ada apa?" Akhirnya Anne memberanikan diri untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu. Ia harus memberi umpan kepada Bagus, agar situasi ini segera berakhir.
Bagus mengembangkan senyumnya setelah mendengar pertanyaan dari Anne. Ia menarik napasnya dalam, seperti banyak beban berat yang sedang dipikul. Bukannya menjawab, Bagus malah sibuk menatap wajah cantik Anne.
"Apakah kamu benar-benar bahagia, An?" tanya Bagus tanpa melepaskan pandangan dari wajah Anne.
Anne tertegun setelah mendengar pertanyaan itu. Ia mengerutkan keningnya saat beradu pandang dengan Bagus. Ia heran saja kenapa Bagus bertanya seperti itu, "Ya, seperti yang kamu lihat. Aku sangat bahagia," jawab Anne dengan yakin.
Bagus menganggukkan kepala beberapa kali setelah mendengar jawaban Anne. Ia pun melihat sendiri tidak rasa apapun dari sorot mata mantan kekasihnya itu. Mungkin, sudah saatnya Bagus terbebas dari cinta yang membelenggu hatinya selama ini.
"Boleh aku bercerita tentang hidupku setelah kejadian di Hotel santika?" tanya Bagus seraya menatap Anne dengan lekat.
Hotel Santika, tentu saja Anne tidak lupa dengan tempat itu. Ia mengukir kenangan terakhir bersama Bagus di sana kala itu. Sepertinya ia harus memberikan izin kepada Bagus agar bisa mendengar cerita dari mantan kekasihnya.
"Katakan saja!" jawab Anne dengan suara yang lirih.
Tatapan mata pria tampan itu, lurus ke depan. Ia tidak lagi beradu pandang dengan Anne. Bagus mulai menceritakan apa saja yang dialaminya sejak kejadian saat itu. Semua kehancuran hidupnya tak luput dari pendengaran Anne. Setiap kisah yang disampaikan Bagus ternyata berhasil membuat hati Anne dipenuhi rasa bersalah. Sungguh, ia tidak pernah menyangka jika sampai saat ini, Bagus masih menyimpan rasa yang begitu besar untuknya, meski ia sendiri sudah memiliki seorang istri yaitu, tante Marlina.
"Aku minta maaf, Gus, karena aku tidak tahu semua itu. Aku tahu pasti kamu sakit hati, akan tetapi aku tidak tahu jika kamu menyimpan semua rasa itu hingga saat ini." ujar Anne dengan suara yang bergetar.
__ADS_1
"Ya, aku tidak pernah menyalahkanmu, An. Maka dari itu aku datang langsung kesini, aku hanya ingin mendengar pernyataan langsung darimu!" ucap Bagus dengan sorot mata yang berubah menjadi sendu.
"Mungkin aku terlalu naif selama ini. Aku memegang semua ucapanmu kala itu. Jujur saja selama ini aku sangat berharap kamu kembali kepadaku dengan membawa cinta yang dulu pernah kamu ucapkan. Bukti yang kamu berikan begitu berarti padaku, hingga aku kesulitan melupakan dan menerima kenyataan, jika kamu adalah milik orang, An,"
"Kamu tidak tahu, jika selama ini aku sering mengawasimu. Aku sering menatapmu dari jauh. Aku benar-benar gila karena ungkapan cinta darimu kala itu. Apalagi, setelah aku tahu, jika kamu tak kunjung hamil. Aku membuat kesimpulan jika kamu mempunyai niat berpisah dari suamimu."
"Hingga aku mendengar kabar dari istriku, jika kamu sudah melahirkan. Dari situ aku sadar, jika kita tidak ditakdirkan untuk bersatu,"
Bagus menundukkan kepalanya setelah mengeluarkan semua beban di hati. Rasanya, ia tidak tahu harus mengatakan apalagi di hadapan Anne saat ini.
Anne tercengang setelah mendengar pangkuan mantan kekasihnya itu. Sungguh, ia tidak pernah menyangka jika Bagus masih terbelenggu dengan bukti cinta yang dulu pernah ia serahkan di Hotel Santika. Anne tidak pernah berpikir sampai sejauh itu, jika bagus akan terikat dengan semua kenangan manis itu. Apa yang sudah terjadi di masa lalu, benar-benar telah berubah. Tak sedikitpun Anne memiliki perasaan cinta kepada Bagus. Ia sudah melabuhkan cinta, jiwa dan raganya kepada om Rudi.
Bagus menegakkan kepalanya setelah mendengar jawaban dari Anne. Ia menatap manik hitam itu dengan lekat, mencari sesuatu yang mungkin bisa ia temukan. Namun, semua itu salah besar. Sedalam apapun Bagus menyelami manik hitam itu, pada kenyataannya ia tidak menemukan apapun lagi untuk dirinya.
"Katakan padaku jika kamu tidak mencintaiku, An! Katakan padaku jika kamu sudah bahagia dengan suamimu!" ujar Bagus dengan suara yang tegas.
"Kenapa? Kenapa aku harus mengatakan semua itu? Bukankah kamu sudah melihat sendiri, jika aku sangat bahagia dengan pernikahanku, Gus?" Anne menatap Bagus dengan sorot mata yang tidak bisa diartikan.
"Karena kamu yang mengawalinya, An! Kamu yang dulu membuktikan cintamu kepadaku! Sekarang katakan jika memang kamu tidak mencintaiku! Bertahun-tahun, aku seperti terhipnotis dengan sugesti darimu," ujar Bagus seraya menatap Anne.
__ADS_1
Sekali lagi Anne tercengang setelah mendengarkan pengakuan dari Bagus. Ia tidak pernah menyangka jika mantan kekasihnya itu, terbawa arus hingga sejauh ini. Ya, Anne harus mengakhiri semua ini, agar Bagus segera melupakannya.
"Seperti yang kamu lihat saat ini, Gus. Aku sudah memiliki putra. Aku sangat bahagia dengan pernikahan ini. Satu-satunya pria yang aku cintai hanya suamiku. Bahkan, nama mu sudah sudah tidak ada lagi di sini. Aku tahu, semua ini tidak adil untukmu, akan tetapi, kamu harus sadar, jika kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Kamu harus mencintai wanita yang menjadi istrimu."
"Tolong lupakan aku, Gus! Aku benar-benar minta maaf karena menjadi penyebab hancurnya hidupmu. Aku harap, setelah ini kamu bisa hidup normal tanpa bayang-bayang cinta dariku."
Anne beradu pandang cukup lama dengan Bagus setelah mengatakan semua itu. Tatapan mata itu segera beralih ketika suara tangis Gavin mulai menggema di dalam ruangan tersebut. Anne sibuk menenangkan putranya itu, ia tahu, jika Gavin saat ini butuh ASI. Namun, Anne sungkan karena ada Bagus di hadapannya.
"Tenangkan anakmu! Aku akan keluar," ucap Bagus setelah melihat keresahan di wajah Anne.
Bagus segera keluar dari ruangan tersebut agar Anne bisa melakukan kewajibannya kepada Gavin. Ia keluar dari ruangan tersebut dengan segenggam pernyataan dari Anne. Kini, Bagus bertekad untuk menata masa depannya. Ia harus merelakan Anne hidup bahagia bersama keluarga kecilnya. Langkah tersebut harus terhenti ketika sampai di ruang tunggu yang ada di depan meja resepsionis gedung VVIP itu. Bagus melihat tante Marlina dan om Rudi duduk di sana.
"Terima kasih sudah memberikan saya waktu," ucap Bagus setelah duduk di samping tante Marlina.
Om Rudi menatap suami temannya itu. Ada rasa kasihan kepada Bagus, setelah beliau tahu apa saja yang sudah terjadi kepada pria muda itu. Tentu saja, tante Marlina lah yang memberitahu bagaimana sebenarnya kehidupan Bagus.
"Ya. Sama-sama. Saya harap setelah ini, kamu bisa melupakan istriku. Saya minta maaf karena sudah mengambil Anne darimu." ujar om Rudi seraya menatap Bagus penuh arti.
...🌹Selamat membaca🌹...
__ADS_1