
Layar laptop di atas meja kerja masih menyala meski sang pemilik sudah beberapa kali menguap. Anne harus menahan rasa kantuknya karena ada beberapa berkas yang harus ia selesaikan hari ini. Ia pun sedang memantau laporan dari pembangunan pariwisata di Bandung.
"Padahal ini masih jam delapan, tapi kenapa ngantuk banget sih!" gerutu Anne setelah beberapa kali menguap.
Brak!
Pintu ruang kerja terbuka lebar tatkala Anne menutup mulutnya. Rasa kantuk itu hilang begitu saja saat melihat kehadiran Dara di sana diikuti Juna di belakangnya. Anne beranjak dari tempatnya saat ini, ia tahu jika putri sambungnya itu pasti sudah mengetahui semua yang terjadi.
"Dasar wanita licik!" umpat Dara ketika berdiri di hadapan Anne.
Plak!
"Sayang!" teriak Juna ketika melihat tindakan sang istri.
Sebuah tamparan mendarat begitu saja di pipi mulus itu. Anne segera menegakkan wajahnya meski ia harus merasakan betapa sakitnya tamparan dari putri sambungnya. Ia harus menahan sekuat tenaga agar air mata itu tetap bertahan di pelupuk mata.
"Ternyata ini wujud aslimu, hmmm!" hardik Dara seraya menatap mata Anne dengan kilatan amarah.
"Apa yang ada dipikiranmu? Apa yang kurang dari kami sehingga kamu tega melakukan semua ini? Di mana hati nuranimu, An!" Dara memaki Anne dengan napas yang menggebu.
"Dasar serakah!" sarkas Dara.
Anne tak mengucapkan sepatah katapun. Ia hanya bisa menatap Dara dengan mata yang berembun. Jujur saja, ia tidak mau menyeret Dara dalam masalah ini. Anne sangat menyayangi Dara karena hanya Dara yang tulus kepadanya.
"Tidak! Aku tidak serakah, Dar!" Akhirnya Anne menyangkal ucapan Dara, "Aku hanya mengambil apa yang seharusnya aku miliki!" ucap Anne dengan suara yang lembut.
"Aku tidak mau merampas semua yang sudah menjadi milikmu, Dar!" Tatapan mata Anne berubah menjadi sendu setelah mengatakan hal itu.
"Cih! Kamu pikir aku akan percaya begitu saja?" Dara bersedekap tanpa melepaskan tatapan matanya dari wajah cantik Anne.
Anne mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tidak tahan jika harus menghadapi Dara dalam peperangan ini. Sedikitpun Anne tidak mau menyeret Dara dalam masalah ini. Namun, satu hal yang dilupakan oleh Anne, jika Dara adalah darah daging om Rudi. Sudah pasti jika wanita yang kini berada di hadapannya itu terseret dalam masalah ini.
__ADS_1
"Dasar wanita murahan! Demi uang kamu mau menusuk sahabatmu sendiri! Kamu merelakan rumah tanggamu demi semua ini?" Dara kembali mengeluarkan kekesalannya.
"Belum cukupkah kamu menjadi istri ayahku? Kamu bisa hidup bebas dan bahagia tanpa harus menguasai hartanya!"
"Serakah!"
"Murahan!"
"Gak tahu diri!"
"Gak tahu diuntung!"
Dara terus mengumpat di hadapan Anne. Rasanya satu tamparan belum cukup untuk membalas rasa sakit yang ada di hatinya. Dara segera menghentikan teriakannya kala Juna menyentuh lengannya dengan lembut.
"Cukup, Dar! Cukup!" teriak Anne setelah mendengarkan semua luapan emosi Dara.
"Aku melakukan semua ini karena rasa sakit yang selama ini aku rasakan! Kamu belum pernah berada di posisiku, Dar!" ujar Anne seraya menatap Dara dengan kilatan amarah.
"Apa yang membuatmu seperti ini? Rasa sakit yang mana, An? Apakah rasa sakit karena kamu tidak bisa menikah dengan Bagus?" Dara kembali melontarkan pertanyaan monohok kepada Anne.
"Ada hal yang lebih besar, Dar! Kamu tidak akan sanggup mendengarkannya!" ujar Anne dengan rahang yang mengeras. Ia seakan sedang menahan beban berat yang ada di dalam diri.
"Katakan saja! Rasa sakitmu pasti tidak jauh dari uang dan harga diri!" ujar Dara seraya menatap Anne jengah.
Anne tidak tahan lagi untuk menyimpan semua rasa sakit yang bersarang di dalam hati. Ia segera meraih ponsel yang ada di atas meja untuk menghubungi seseorang.
"Di rumah ada Dara! Kami yang akan menemui Anda atau Anda yang datang ke rumah ini! Dara butuh penjelasan dan saya akan menjelaskan semuanya jika Anda hadir di antara kami!" ucap Anne saat panggilan tersebut terhubung dengan om Rudi.
Anne meletakkan ponselnya kembali setelah mendapatkan jawaban dari sang suami. Semua rahasia yang tersimpan rapi selama ini, mungkin akan terkuak malam ini.
"Duduklah dulu! Isi tenagamu sebelum mendengar kenyataan pahit setelah ini!" ucap Anne seraya menatap Dara, "pastikan kandungan istrimu baik-baik saja, Jun! Aku tidak mau dia kenapa-napa," lanjut Anne seraya menatap wajah Juna sekilas.
__ADS_1
"Cih! Najis! Gak usah sok perhatian kepadaku!" ujar Dara setelah duduk di sofa yang ada di sana.
Ketiga orang yang ada di ruang keluarga hanya diam. Mereka sedang menunggu kedatangan om Rudi agar semua masalah yang terjadi saat ini cepat selesai. Keheningan yang sempat terasa di ruang kerja itu sirna begitu saja ketika pintu ruangan ini terbuka. Sosok yang ditunggu akhirnya tiba di sana.
"Papi," Dara beranjak dari tempatnya. Ia berjalan menuju tempat om Rudi berdiri saat ini, "Papi sehat 'kan? Papi tinggal di mana?" Dara menghambur ke dalam pelukan ayahnya.
"Tenanglah! Papi sangat sehat," ucap om Rudi setelah mengurai tubuh putrinya, "kamu tidak usah khawatir, Papi tinggal di tempat yang aman," ucap om Rudi seraya tersenyum manis.
Setelah melihat kondisi ayahnya baik-baik saja, Dara segera mengalihkan pandangan ke tempat Anne berada saat ini. Ia seakan ingin menerkam wanita yang sedang duduk di balik meja kerja itu— Wanita yang sedang termenung dengan tatapan mata kosong.
"Sekarang jelaskan pada kami, apa kesalahan Papi hingga kamu menjadi seperti ini!" cecar Dara seraya menatap Anne.
Anne berdiri dari tempat duduknya saat ini. Ia pindah posisi di depan meja kerja dan mendaratkan pinggulnya di tepi meja. Tangannya bersedekap dan tatapan matanya pun terarah kepada pria dengan tatapan teduh itu.
"Aku melakukan semua ini karena ayahmu yang mengambil semua harta orang tuaku!" ujar Anne seraya menunjuk om Rudi dengan tangan kanannya.
Om Rudi menggeleng pelan setelah mendengar ucapan Anne. Beliau sepertinya tidak terima atas tuduhan yang dilayangkan oleh sang istri. Sepeserpun pria matang itu tidak pernah merasakan harta sahabatnya sendiri.
"Tidak! Aku tidak pernah melakukan semua itu! Bohong!" sangkal om Rudi seraya menatap Anne penuh arti.
"Apa Anda pikir saya akan percaya dengan jawaban Anda? Saya adalah saksi nyata atas apa yang terjadi enam belas tahun yang lalu, Tuan Rudianto Baskoro!" ujar Anne dengan rahang yang mengeras.
"Anda adalah penyebab atas meninggalnya orang tua saya—" Anne mengehentikan ucapannya saat om Rudi mulai menginterupsi.
"Ayahmu meninggal karena bunuh diri, An!" jawab om Rudi dengan tatapan penuh arti.
Kalimat yang diucapkan om Rudi berhasil membuat Anne tertawa lepas. Ia seakan sedang menertawakan kenyataan pahit yang sudah lama tersimpan dengan rapi.
"Ya, Ayah saya memang bunuh diri! Tapi Anda yang membuatnya seperti itu!" ujar Anne dengan sorot mata yang dipenuhi kilatan amarah, "asal kamu tahu, Dar! Ayahmu adalah seorang pembunuh! Dia tega membunuh sahabatnya sendiri yang tak lain adalah ayahku!" ujar Anne dengan suara yang bergetar.
...🌹Selamat Membaca 🌹...
__ADS_1
...Waduh waduh😢apalagi ini😣mari kita tarik secara perlahan benang kusutnya🤭...
...🌷🌷🌷🌷🌷...