
Semburat warna jingga menghiasi cakrawala barat. Sang raja sinar sebentar lagi akan kembali ke singgasananya. Persimpangan waktu akan dimulai saat langit berubah menjadi redup seiring dengan pudarnya warna jingga.
Setelah membelah jalanan yang padat selama hampir satu jam, pada akhirnya pak Botak sampai di halaman luas rumah megah om Rudi saat langit berubah menjadi gelap. Anne dan Om Rudi pun segera keluar dari mobil, kedatangan mereka disambut oleh beberapa ART dan tukang kebun yang bekerja di sana.
Setelah ngobrol beberapa menit dengan para pekerja yang mengkhawatirkan kondisinya, om Rudi pamit masuk ke dalam rumah. Sama halnya seperti Anne, ia pun pamit kepada para pekerja yang masih berdiri di teras dengan diiringi senyum tipis. Anne mengekor di belakang sang suami menapaki satu persatu anak tangga menuju lantai dua.
Anne pun tetap mengikuti om Rudi sampai masuk ke dalam kamarnya, karena ia harus meletakkan beberapa barang penting dan obat-obatan untuk om Rudi di sana. Tak lupa Anne menyiapkan obat yang harus diminum nanti setelah makan malam.
"Sekarang Papi istirahat dulu. Saya mau ke kamar dulu," pamit Anne setelah menyelesaikan tugasnya.
"Memang mau ngapain ke kamarmu?" tanya om Rudi saat Anne mulai menjauh dari tempat tidurnya.
"Mau istirahat lah, Pi! Mau mandi dan ganti baju juga," jawab Anne, "nanti saya kabari kesini kalau makan malamnya sudah siap, oke?" Anne mengacungkan jempolnya sebelum pergi.
Anne menghentikan langkahnya di depan kamar, Ia mengurungkan niatnya masuk ke dalam kamar saat teringat jika belum memberitahu bi Sari selaku ART yang biasa masak untuk keluarga ini, tentang makanan apa saja yang boleh dikonsumsi om Rudi. Ia kembali menapaki satu persatu anak tangga menuju lantai dasar untuk menemui bi Sari di dapur.
"Bi Sari, ada yang mau saya bicarakan dengan Bibi," ucap Anne setelah sampai di dapur.
"Iya, Non. Sebentar saya matikan dulu kompornya," jawab bi Sari sebelum Anne berlalu dari dapur.
Anne menunggu bi Sari di ruang makan. Ia mengeluarkan kertas pemberian dari rumah sakit yang tersimpan di dalam tasnya. Kertas berisi beberapa makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi untuk om Rudi.
"Ada apa, Non?" tanya bi Sari setelah sampai di ruang makan.
"Bi, ini adalah daftar makanan untuk om Rudi dari rumah sakit ...." Anne menjelaskan apa saja yang tertulis di sana dengan rinci.
__ADS_1
Bi Sari mendengarkan penjelasan Anne sambil manggut-manggut tanda mengerti. Beliau baru mengerti jika majikannya ternyata terkena asam urat.
"Ada lagi yang belum bi Sari mengerti?" tanya Anne seraya menatap bi Sari.
"Tidak, Non! Saya sudah paham," ucap bi Sari.
Setelah pembicaraan berakhir, Anne segera mengayun langkah menuju kamarnya. Ia harus membersihkan diri sebelum tiba saatnya makan malam. Anne tertegun setelah masuk ke dalam kamarnya, ia melihat ada dua koper besar di sana.
"Ini barang-barang siapa?" tanya Anne setelah mendekat ke tempat koper tersebut berada. Ia menaikkan salah satu koper itu ke atas ranjang.
Rasa penasaran membuat Anne segera membuka koper tersebut. Ia terkejut ketika melihat mini dress yang biasa ia pakai saat di apartment baru yang sudah lama tidak pernah ia tempati itu.
"Kalau ini mini dress semua, berarti yang satunya lagi ..." Anne mengalihkan pandangannya ke arah koper tersebut sambil menerka isinya.
"Lingerie?" Anne bergumam setelah mengingat apa saja yang tersimpan di almari apartment.
"Tunggu! Siapa kira-kira yang membereskan semua ini?" Anne berkacak pinggang sambil menerka siapa yang mengemas pakaiannya.
Anne segera keluar dari kamarnya setelah menemukan satu orang yang mungkin melakukan semua ini. Ia mengayun langkah menuju kamar om Rudi untuk bertanya kejelasannya.
"Ada apa?" tanya om Rudi ketika Anne tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Siapa yang mengemas pakaian saya di apartment, Pi?" tanya Anne tanpa basa-basi, "apakah pak Pras yang melakukannya?" Anne memastikan praduganya.
Om Rudi menaikkan satu alisnya ketika Anne menyebut nama asistennya. Mana mungkin beliau menyuruh seorang pria untuk mengemas pakaian sexy wanitanya itu.
__ADS_1
"Papi memang memerintahkan Pras tapi yang melakukan pasti bukan dia! Entah dia menyuruh siapa, Papi tidak tahu," jawab om Rudi dengan kedua tangan yang bersedekap.
"Oh ya sudah! Saya pikir pak Pras yang melakukannya. Saya kan hanya takut pak Pras jadi membayangkan ...." Anne menghentikan ucapannya saat suaminya menginterupsi.
"Jangan dilanjutkan!" ujar om Rudi seraya turun dari ranjang, "Saya tidak suka siapapun membayangkan keindahan tubuhmu, Sayang!" lanjut om Rudi setelah berdiri di hadapan Anne.
Anne mengembangkan senyumnya ketika mendengarkan ucapan om Rudi. Entah mengapa, ia mulai suka ketika om Rudi menunjukkan sikapnya yang posesif. Anne segera mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami dengan diiringi senyum yang sangat manis.
"Suamiku kenapa posesif banget sih!" Anne tak melepaskan pandangannya dari wajah sang suami, "Lagi pula tidak ada yang berani merebut saya dari Papi, apalagi pak Pras! Mungkin dia akan berpikir ribuan kali jika ingin membayangkan saya," ucap Anne dengan suara yang sangat lirih dan lembut.
Satu sudut bibir om Rudi tertarik ke dalam saat mendengarkan jawaban sang istri. Beliau melingkarkan kedua tangannya di pinggul Anne dengan erat. Berada di rumah sakit selama tiga hari membuat beliau rindu mendengarkan lenguhan sexy sang istri saat berada dalam kungkungannya.
"Eit! No, no, no! Saya belum mandi!" Anne menjauhkan wajahnya tatkala om Rudi mulai mengikis jarak di antara mereka berdua.
Segera Anne melepaskan diri dari dekapan om Rudi. Ia berlari menuju pintu kamar dan segera keluar dari sana sebelum mendapatkan serangan dari sang suami. Ia harus bersiap karena sebentar lagi waktu makan malam telah tiba.
Beberapa puluh menit kemudian, Anne telah selesai bersiap di kamarnya. Ia segera turun menuju lantai satu karena om Rudi ternyata sudah menunggunya di ruang makan.
"Malam, Pi," sapa Anne setelah duduk di dekat om Rudi.
"Malam, Sayang," ucap om Rudi yang berhasil mendapat pelototan dari Anne.
Om Rudi membekap mulutnya dengan ekspresi wajah yang sama sekali tidak merasa bersalah. Padahal Anne sudah memberikan kode bahwa mereka berada di rumah utama bukan di apartment. Anne hanya ingin om Rudi menjaga sikap agar tidak ada yang mencurigai hubungan mereka.
"Eh, eh, eh! No, Pi! Dilarang makan udang!" Anne mencegah tangan om Rudi yang sedang mengambil udang asam manis yang tersaji di meja makan, "itu udang asam manis untuk saya! Papi pakai lauk ayam saja!" ujar Anne seraya melayangkan tatapan tajam ke arah om Rudi.
__ADS_1
...🌹Selamat Membaca 🌹...
...🌷🌷🌷🌷🌷...