Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Kamu Ngompol?


__ADS_3

"An! Kira-kira kalau aku pengen ke salon gimana ya caranya?" tanya Dara ketika mengamati riak air kolam renang yang ada di hadapannya.


"Sementara kita di rumah saja lah, Dar! Tunggu sampai Papimu luluh," ucap Anne, karena ia sendiri bingung harus menjawab apa.


Memberitahu Dara tentang kartu ajaib pemberian om Rudi sepertinya bukan jalan keluar yang baik. Lebih baik diam, mengikuti apa yang diinginkan oleh om Rudi saja daripada harus membuka kepingan puzzel yang tertata rapi.


"Tapi sejak kapan ya Papi mengawasi aku?" Dara mengalihkan pandangan ke samping agar bisa menatap Anne yang sedang mengayun kakinya di kolam renang.


"Entahlah, Dar! Papimu bisa melakukan apapun karena beliau mempunyai kekuasaan!" jawab Anne dengan tatapan lurus ke depan, "sekarang yang aku khawatirkan adalah masalah lain, Dar." Anne terlihat resah ketika mengatakan hal itu.


"Katakan! Apa itu!" Dara mendesak Anne agar segera menjawab pertanyaannya.


"Aku khawatir papimu tahu, jika Juna kuliah di Jepang juga," ucap Anne yang membuat Dara membelalakkan mata.


"Astaga! Kenapa aku tidak memikirkan hal itu?" Dara menggigit jarinya, "ini gawat, An! Aduh! Bodoh banget sih aku!" Dara menepuk keningnya beberapa kali.


Anne justru tersenyum melihat jawaban Dara. Ia heran saja bagaimana bisa darah daging seorang Rudianto Baskoro se lengah ini. Anne tidak habis pikir melihat kelakuan Dara selama ini, sangat berbanding terbalik dengan sang ayah. Mungkin Dara tidak mewarisi kecerdikan om Rudi atau mungkin saja ia dibutakan oleh cinta. Sungguh, Anne ingin sekali tertawa keras saat ini.


"Dar, lebih baik kamu berendam di kolam ini deh! Biar isi kepalamu tidak terkontaminasi virus bucin!" ujar Anne seraya mengulum senyum.


Setelah mengucapkan hal itu, Anne turun ke dalam kolam renang. Ia memutari kolam renang itu beberapa kali. Namun, Dara tak kunjung menyusulnya, sahabatnya itu masih termenung di sisi kolam renang.


"Buruan turun! Kita balapan!" ujar Anne saat mendekat ke tepi kolam. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Anne menarik kaki Dara agar gadis itu tercebur di kolam renang.


"Anne!" teriak Dara setelah kepalanya muncul dari kolam renang.


Kedua gadis itu pada akhirnya menghabiskan sore dengan bersenang-senang di dalam kolam renang. Suara gelak tawa keduanya memecah kesunyian halaman belakang rumah megah tersebut.


Sementara itu, di balik jendela kaca salah satu ruangan yang ada di lantai dua, om Rudi mengembangkan senyumnya karena melihat kedekatan di antara Anne dan Dara. Beliau rela menunda pekerjaanya terlebih dahulu karena ingin mengamati apa saja yang dilakukan istri dan putrinya. Om Rudi mulai resah tatkala melihat Anne naik ke tepi kolam renang. Beliau melihat dengan jelas kain berenda merah jambu yang tercetak dari tangtop putih yang dipakai oleh Anne.


"Dia begitu menggoda petang ini!" gumam om Rudi tanpa mengedipkan mata.

__ADS_1


...****************...


Cahaya rembulan tengah terhalang awan hitam yang sedang berkuasa. Langit menjadi redup karena bintang tak menampakkan keindahannya. Malam telah larut, angin berhembus mesra menambah syahdunya malam ini.


Melangkah gontai serta menahan rasa kantuk yang melanda kedua mata indah itu, pada akhirnya Anne sampai di depan kamarnya. Ia sempat tidur di kamar Dara setelah menonton drama korea terbaru.


"Duh! Kenapa hari ini aku lelah banget, ya!" gerutu Anne setelah merebahkan diri di ranjang.


Namun, baru saja kelopak mata itu tertutup rapat, kini harus kembali terbuka setelah mendengar suara pintu yang terbuka. Ia mengalihkan pandangan untuk melihat siapa yang datang.


"Ngapain, Om?" tanya Anne seraya menatap pria yang berdiri di sisi ranjang.


"Tidurlah!" jawab om Rudi setelah duduk bersandar di sisi Anne.


"Pintunya sudah dikunci?" tanya Anne penuh arti.


"Sudah!" Om Rudi menatap Anne, "sini mendekat!" titahnya.


"Saya lelah, Om! Gak usah ngapa-ngapain ya," keluh Anne seraya menatap wajah om Rudi.


Anne berdecak mendengar hal itu, tapi memang benar, ia kalah tenaga dengan pria berusia hampir lima puluh tahun itu. Tenaganya seakan tidak pernah habis walau melakukan 'itu' setiap hari.


"Oke, malam ini, saya akan memberi kamu dispensasi," ucap om Rudi yang membuat Anne tersenyum penuh kemenangan.


Anne mengusap lengan om Rudi dengan diiringi senyum yang sangat manis. Namun, tidak lama setelah itu, senyum itu pudar begitu saja kala mendengar kelanjutan dari pernyataan om Rudi,


"kamu cukup diam dan menerima, biarkan Om yang bekerja malam ini."


Rencana tidur nyenyak hilang begitu saja kala jadwal penanaman bibit tidak bisa ditunda. Pada akhirnya, kegiatan itu kembali terulang dan dilakukan untuk pertama kalinya di kamar ini. Anne harus menahan suara lenguhannya agar tidak menimbulkan kecurigaan.


"Lepaskan saja! Jangan ditahan! Tidak ada yang bisa mendengar suaramu, Sayang," ujar om Rudi di sela-sela kegiatannya.

__ADS_1


Mendengar hal itu, lenguhan Anne lolos begitu saja. Ia mengekspresikan apa yang sedang ia rasakan saat ini. Hal itu membuat om Rudi tersenyum penuh arti, gairah pun semakin berkobar. Malam panjang kembali dirasakan sepasang suami istri tersebut dengan penyatuan yang tidak tahu kapan selesainya.


****


Tubuh Anne terguncang beberapa kali, Suara Dara terdengar nyaring di kamar itu. Anne berusaha keras untuk membuka kelopak mata yang masih berat untuk terbuka. Kulit mulus itu terasa dingin karena selimut tebal yang menutupi tubuhnya dibuka oleh Dara.


"An! Kamu ngompol ya?" tanya Dara dengan suara yang lantang ketika melihat tempat yang ada di sisi Anne basah.


"Hah? Apa, Dar?" Anne terkejut mendengar pertanyaan itu. Seketika, matanya terbuka lebar ketika teringat jika dirinya tadi malam tidur tanpa memakai pakaian.


Anne terhenyak, ia segera duduk di ranjang. Kedua manik hitam itu langsung mengamati tubuhnya. Ternyata, ia sudah berpakaian lengkap. Setelah itu pandangannya beralih ke lantai untuk memastikan tidak ada tissu bekas yang dipakai tadi malam.


"An? Kamu ini kenapa?" Dara menjadi bingung ketika melihat Anne seperti orang linglung, "kamu ngompol, ya?" sekali lagi Dara memastikan sprei putih yang basah itu.


"Ngompol?" Anne meyakinkan pertanyaan dari Dara dan setelah itu, pandangannya beralih ke samping.


Mata sayup itu semakin terbelalak ketika melihat bercak lendir sisa pergulatan bersama om Rudi. Pagi ini, Anne dipaksa memutar otak untuk mencari alasan yang tepat.


"Dar! Jangan bilang-bilang ya, kalau aku ngompol!" Anne terpaksa mengakui hal memalukan itu.


Dara tergelak ketika melihat ekspresi wajah Anne saat mengakui kesalahannya. Bahkan, gadis itu tidak curiga sama sekali ketika melihat bercak yang tercetak di sprei putih itu.


"Ya ampun, Anne! Kamu udah gede masih ngompol aja!" sarkas Dara di sela-sela gelak tawanya.


"Dar! Please!" Anne mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Ia harus berlagak malu di hadapan Dara demi kelancaran drama yang sedang terjadi.


"Buruan keluar! Aku mau ke kamar mandi! Aku gak mau ya, kalau kamu sampai melihat celanaku yang basah!" ujar Anne seraya menatap Dara.


Dara sangat bahagia pagi ini ketika melihat wajah Anne yang merona karena menahan malu. Setelah mendapat lemparan bantal dari Anne, akhirnya Dara bersedia keluar dari kamar tersebut. Anne bernapas lega setelah putri sambungnya itu keluar dari kamar.


"Aduh! Bodoh banget sih aku!" Anne menepuk keningnya, "untung aja Dara gak curiga!" Anne menghembuskan napasnya kasar.

__ADS_1


...🌹Selamat Membaca🌹...


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2