
"Dar, nyalon, yuk!" ajak Anne setelah keluar dari gedung perpustakaan.
Pagi ini, Anne dan Dara harus ke kampus, masih ada urusan seputar persiapan yudisium yang belum selesai. Mereka berada di kampus sampai pukul sebelas siang.
"Tumben?" tanya Dara seraya memakai sepatunya.
"Udah lama gak nyalon! Rambut butuh perawatan, Bestie!" kelakar Anne yang sedang bersandar di pintu perpustakaan.
Tanpa menjawab, Dara segera merengkuh bahu sahabatnya itu. Mereka berjalan menyusuri koridor kampus dengan iringan gelak tawa yang renyah. Beberapa mahasiswa yang berpapasan pun sampai heran dibuatnya.
"An, Tangkap!" teriak Dara sebelum melempar kunci mobil kepada Anne.
Seperti biasa, setiap pulang kuliah, Anne lah yang mengendarai mobil. Kedua gadis cantik itu pun akhirnya masuk ke dalam mobil dan melenggang dari tempat parkir.
Setelah membelah jalanan beberapa puluh menit, pada akhirnya mobil yang dikendarai Anne sampai di depan salon kecantikan langganan mereka. Masuk dan segera reservasi, itulah yang dilakukan kedua gadis tersebut. Anne memilih beberapa perawatan dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Buset dah! Serius nih, kamu mau perawatan dari ujung rambut sampai ujung kaki?" Dara mengernyitkan keningnya setelah tahu paket apa saja yang diambil oleh Anne.
"Serius lah! Ini adalah cara untuk menghilangkan setres bagi wanita!" jawab Anne seraya menepuk bahu Dara dengan senyum manis.
Dara berdecak mendengar hal itu. Ia segera beranjak kala namanya sudah dipanggil untuk mengikuti terapis ke lantai dua, meninggalkan Anne seorang diri di lobby salon.
Ponsel anne bergetar karena ada pesan yang masuk. Kedua sudut bibir itu pun tertarik ke dalam saat melihat siapa yang mengirim pesan. Nama 'Om genit' terlihat jelas di layar ponsel itu. Anne menggerakkan bola matanya ke kiri dan ke kanan untuk memikirkan balasan yang tepat untuk suaminya itu.
Saya sedang di salon bersama Dara! Saya harap Om tidak marah jika saya menggesek kartu ajaib ini sampai habis!
Anne menyeringai setelah membalas pesan tersebut. Ia kembali menaruh ponsel di dalam tas bertepatan dengan terapis salon yang datang menghampirinya. Perawatan dari ujung rambut sampai ujung kaki akan segera dimulai.
__ADS_1
...****************...
Rembulan telah hadir di tengah gemerlapnya bintang. Kabut gelap menutupi sebagian bentuk sang dewi hingga sinarnya tak bisa berpijar. Suara hewan malam mulai terdengar menandakan malam telah larut. Segala aktifitas pun telah usai, kini, waktu istirahat telah tiba.
Setelah memastikan Dara tertidur pulas di kamarnya, Anne bergegas kembali ke kamarnya. Ia membuka almari untuk mencari pakaian yang sudah ia siapkan. Gaun malam berwarna biru muda dengan peignoir yang sama telah melekat di tubuh ramping itu. Anne duduk di depan meja rias untuk memoles wajahnya agar terlihat lebih cantik.
"Aku harus melawan semua rasa tidak nyaman dalam diriku agar orang-orang di sekitarku aman dari jangkauan om Rudi," Anne bergumam seraya mengoles blush on di pipi.
Anne menatap nanar pantulan wajahnya di cermin yang ada di hadapannya. Ia menyisir rambut pendek yang baru dirapikan tadi siang itu agar tidak berantakan. Aroma parfum pun mulai meyeruak di sana. Kini, Anne mulai mengayun langkah menuju kamar sang suami.
Anne mengendap-endap dalam suasana lantai dua yang temaram. Tanpa mengetuk pintu, ia membuka handle pintu tersebut dan langsung masuk begitu saja. Untuk pertama kalinya Anne masuk ke dalam kamar yang di dominasi warna abu-abu dengan beberapa ornamen yang menghiasi.
Kamar yang terasa nyaman itu sunyi sepi tak berpenghuni. Anne memberanikan diri untuk mencari sang pemilik kamar di kamar mandi dan ternyata tidak ada siapapun di sana. Namun, tubuh Anne tiba-tiba saja terpaku di depan kamar mandi tatkala merasakan hembusan napas hangat di bahunya.
"Ternyata kamu sudah berani masuk kamar suamimu, Sayang!" Terdengar suara lirih di dekat daun telinga itu.
Anne memejamkan mata sebelum membalikkan tubuhnya dan tak lama setelah itu, perlahan tubuh yang terbalut gaun malam berwarna biru laut itu mulai berpindah posisi.
"Dengan senang hati, kamar ini pun milikmu!" jawab om Rudi dengan raut wajah yang sangat berbeda dengan tadi pagi.
"Katakan, apa yang membawamu datang ke kamar ini?" Kedua manik hitam itu tak lepas dari wajah cantik sang istri.
Anne melepaskan kedua tangan om Rudi dari tubuhnya. Ia berjalan menuju ranjang dan mendaratkan tubuh di sana. Entah mengapa, dalam pandangan om Rudi, malam ini ... Anne terlihat begitu menggoda—baik dari segi penampilan ataupun dari gestur tubuhnya.
"Saya hanya ingin memberitahu, bahwa saya sudah siap ... emm ... itu ...." Anne terlihat salah tingkah saat berniat mengatakan jika dirinya sudah siap menjadi milik om Rudi sepenuhnya.
Om Rudi berkacak pinggang di tempatnya saat ini. Beliau menatap Anne dengan senyum penuh kemenangan. Tentu saja, beliau tahu apa yang ingin disampaikan oleh Anne, beliau paham betul dengan urusan seperti ini.
__ADS_1
"Tapi ada syaratnya!" ujar Anne ketika om Rudi mulai mengayun langkah ke arahnya.
"Syarat?" tanya om Rudi setelah duduk di samping sang istri.
Anne mengangguk pelan, jujur saja ia sangat gugup saat ini. Berdekatan dengan om Rudi dalam keadaan saat ini jauh berbeda rasanya dengan sebelumnya. Apalagi saat ini penampilannya terlihat begitu menggoda di mata sang suami.
"Katakan apa yang kamu inginkan!" titah om Rudi.
Anne beranjak dari sisi pria tersebut. Ia tersenyum penuh arti dengan pandangan yang tak lepas dari wajah sang suami. Bersikap menggoda jauh lebih penting saat ini untuk melunakkan hati pria matang yang sedang menatapnya itu.
"Syaratnya cukup mudah!" ujar Anne, "Saya tidak ingin melakukan hubungan itu di rumah ini ataupun di tempat yang bisa dijangkau oleh Dara!" ujar Anne hingga membuat om Rudi mengernyitkan keningnya.
"Apakah setiap melakukan hubungan itu kita perlu pergi ke tempat khusus? Bagaimana kalau tiba-tiba Om pengen melakukan di kamar ini?" tanya om Rudi dengan tatapan genit.
"Itu bisa kita lakukan nanti, saat saya sudah pro! Untuk saat ini saya masih noob, jadi ... saya ingin keadaan di sekitar benar-benar aman! Ya, misal Om beli apartment baru yang tidak diketahui oleh keluarga Om!" ujar Anne seraya membungkukkan tubuh di hadapan om Rudi.
Bukannya marah, om Rudi malah semakin gemas mendengar permintaan itu. Tanpa berpikir panjang, beliau menyanggupi syarat yang diajukan oleh sang istri dengan senang hati.
"Baiklah, itu syarat yang cukup mudah! Apa ada lagi?" tantang om Rudi.
"Tentu saja masih ada!" Anne tersenyum lebar setelahnya, "Saya tidak mau hamil dalam jangka waktu dekat ini, apalagi jika Dara belum bisa menerima saya sebagai istri Om, karena keadaan ini terlalu sulit untuk saya jalani," ucap Anne dengan sorot mata yang berubah menjadi sendu.
Setiap mengingat Dara, perasaan bersalah selalu datang. Bayang-bayang menakutkan kembali menghantui. Namun, sekuat tenaga Anne melawan hal itu. Banyak hal yang harus ia lakukan untuk menata kembali masa depannya yang sudah hancur berantakan.
"Baiklah, itu terserah padamu! Kita bisa konsultasi ke dokter jika kamu mau!" jawab om Rudi setelah berpikir sejenak.
...🌹Selamat Membaca🌹...
__ADS_1
...Maaf upnya telat🙏...
...🌷🌷🌷🌷🌷...