
Tubuh yang lelah serta mata yang sayu tidak dihiraukan lagi oleh Dara. Ia menghabiskan waktu di ruang monitoring untuk melihat segala hal yang sudah pernah terjadi. Air mata itu terus berjatuhan setiap melihat apa saja yang sudah terjadi di belakangnya. Hanya air mata yang mewakili perasaan yang sedang membaur menjadi satu—sedih, marah dan tentunya kecewa.
Langit gelap perlahan pudar karena siluet kuning mulai hadir di cakrawala timur. Setelah melihat waktu yang ada di arlojinya, Dara segera beranjak dari kursi yang ia duduki semalam suntuk. Ia harus melihat langsung, Anne keluar dari kamar ayahnya. Ini adalah waktu yang tepat untuk membongkar semua kebohongan yang menyelimuti keluarga ini.
Dara berdiri sambil bersedekap di depan pintu dengan jarak beberapa meter saja untuk menunggu kedua insan yang berada di kamar utama. Saat ini penunjuk waktu berada di angka enam pagi, pasti penghuni kamar tersebut segera keluar untuk mulai melakukan aktifitas.
Handle pintu mulai ditarik dari dalam kamar. Dara mulai mengatur napasnya yang memburu karena amarah yang berkobar dalam diri. Ingin rasanya ia menyerang dua insan yang sudah menghabiskan malam di dalam kamar itu. Tinggal menunggu beberapa detik saja Dara sudah melihat sahabat yang selama ini dianggapnya sebagai saudara itu keluar dari kamar itu.
"Dasar Papi mesum!" Kalimat itulah yang pertama kali di dengar oleh Dara saat pintu mulai terbuka. Tubuhnya mulai tegak saat melihat punggung Anne. Sahabatnya itu masih belum tahu bahwa ada dirinya yang sudah siap menerkam dari belakang.
Setelah puas tertawa, Anne membalikkan tubuh— Tubuhnya ambruk begitu saja di depan pintu tersebut saat melihat gadis dengan penampilan kacau berdiri tak jauh dari tempatnya saat ini. Anne shock melihat kehadiran Dara yang tak pernah disangka sebelumnya. Napasnya terengah karena degup jantung yang tak beraturan.
"Dar ... Dara! Dara!" Hanya itu yang bisa Anne katakan saat pandangan matanya bersirobok dengan mata yang sedang menyiratkan amarah yang begitu besar.
"Kenapa? Terkejut ya?" Dara mulai melangkahkan kakinya mendekat ke tubuh yang ambruk dilantai itu.
"Bangun!" teriak Dara setelah menghentikan langkahnya tepat di depan Anne.
Om Rudi segera keluar dari kamar saat mendengar suara putrinya. Beliau berjalan dari walk-in closet seraya mengancingkan kemeja lengan panjang berwarna navy itu. Perasaannya mulai tidak enak karena takut sesuatu hal terjadi.
"Dara!" ujar om Rudi setelah berdiri di ambang pintu. Beliau benar-benar terkejut melihat kehadiran putrinya di sana.
"Jadi seperti ini perbuatan kalian berdua?" tanya Dara dengan mata yang melebar sempurna.
"Ini tidak seperti yang kamu lihat, Nak!" ucap om Rudi sebelum membantu Anne berdiri dari tempatnya.
__ADS_1
Tidak ada kata yang sanggup keluar dari bibir keluh itu. Anne hanya bisa tertunduk karena tidak punya keberanian untuk menatap wajah merah yang sedang menahan amarah. Pada akhirnya, boom waktu meledak sebelum waktunya.
"Kenapa kamu hanya tertunduk! Tegakkan kepalamu! Aku ingin melihat wajahmu yang hina itu!" ujar Dara dengan suara yang lantang, "Tatap mataku!" teriak Dara lagi.
Perlahan, Anne menegakkan kepalanya. Wajah cantik itu basah karena bulir air mata yang tak henti menetes. Dengan tenaga yang masih tersisa, Anne memberanikan diri menatap wajah putri sambungnya itu dan ....
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi mulus Anne sebagai kado menyakitkan di hari ulang tahunnya. Anne meraba pipinya yang terasa panas itu. Air matanya semakin menganak sungai karena merasakan sakit yang teramat sakit.
"Apa belum cukup menjual diri di Om-Om yang dulu itu, sehingga kamu menggoda Papi, heh? Serendah itukah dirimu hingga merelakan hubungan baik kita rusak karena uang?" cecar Dara dengan nada yang berapi-api.
Dara sangat kecewa karena kepercayaannya sudah dihancurkan. Rasanya jika memaki saja tidak cukup untuk melampiaskan semua amarah yang ada dalam dirinya. Melihat langsung ayahnya tidur bersama sahabatnya sendiri terasa sangat menyakitkan dari segalanya.
"Cih! Najis!" umpat Dara dengan tatapan yang tak beralih dari wajah itu.
"Apalagi yang harus dijelaskan? Kamu ingin membela diri dengan mengatakan jika Papi yang menggodamu? Basi!" Dara masih belum puas memaki Anne yang terlihat sangat kacau itu.
Om Rudi masih diam membisu. Beliau mendengarkan setiap umpatan putrinya. Om Rudi tengah memikirkan cara untuk meredam amarah putrinya. Sungguh, ini benar-benar diluar dugaan beliau.
"Rekaman CCTV di rumah ini sudah menjelaskan semua yang terjadi! Lalu untuk apa kamu mengelak? Drama apalagi yang ingin kamu mainkan? Belum puaskah kamu mempermainkan ketakutanku dengan drama kuntilanak! Ya! Sekarang aku tahu! Bukan kuntilanak yang ada dalam kamarmu tapi ayahku sendiri! Sialan kamu, An!" umpat Dara seraya berusaha menarik rambut Anne.
Om Rudi tidak tinggal diam, beliau segera mencekal pergelangan tangan putrinya karena beliau pun tidak mau jika Anne terluka lagi. Segera Om Rudi menggeser tubuh sang istri agar berlindung di balik tubuhnya.
"Dara! Cukup!" ujar om Rudi tanpa melepas tangan putrinya, "Hentikan semua ini!" Om Rudi menatap wajah putrinya dengan lekat.
__ADS_1
Dara tersenyum getir melihat ayahnya membela Anne. Ia menggeleng pelan karena tidak percaya atas apa yang terjadi saat ini. Dara tertawa lepas setelah melihat situasi yang terjadi saat ini.
"Jadi, Papi ingin membela wanita murahan ini?" ujar Dara seraya menatap mata ayahnya.
"Cukup!" ujar om Rudi dengan suara yang tegas.
Tanpa mengucap sepatah katapun, Om Rudi menarik tangan putrinya menjauh dari kamar. Beliau membawa Dara menuju ruang kerjanya.
"Mari kita selesaikan semuanya di ruang kerja!" ujar om Rudi, "Anne, ikutlah ke ruang kerja!" titah om Rudi.
Setelah mereka bertiga sampai di ruang kerja, om Rudi membawa Dara duduk di sofa panjang yang ada di ruangan tersebut. Sementara Anne, duduk di sofa yang sama dengan Dara, akan tetapi ia memilih menjauh dari gadis yang sedang memancarkan amarah itu. Ia duduk di ujung sofa tanpa berani mengangkat kepala yang tertunduk itu. Setelah dirasa keadaan lebih kondusif, om Rudi berjalan menuju meja kerjanya. Beliau menarik salah satu laci yang ada di sana untuk mengambil sesuatu yang tersimpan rapi di laci tersebut. Om Rudi segera kembali ke tempat anak dan istrinya berada dengan membawa kotak persegi panjang. Beliau duduk di sofa tunggal yang ada di dekat putrinya.
"Sebelumnya Papi ingin minta maaf karena menyembunyikan semua ini dari kamu, Nak!" ucap om Rudi seraya menatap Dara, "Papi memang salah karena tidak memberitahumu sejak awal." Om Rudi tidak melepaskan pandangannya dari wajah putrinya.
Dara hanya diam sambil menunggu penjelasan yang akan diucapkan oleh ayahnya itu. Suaranya pun rasanya sudah habis dipakai untuk memaki sahabatnya sendiri. Namun, kilat amarah masih terpancar dengan jelas dari sorot matanya.
"Sebenarnya, Papi dan Anne sudah menikah tepat sebelum Ningrum menghembuskan napas terakhirnya. Semua yang terjadi bukanlah salah Anne karena Papi yang meminta dia untuk menikah dengan Papi. Dia bukan wanita murahan tapi dia adalah istri sah Papi!" ucap om Rudi seraya menunjukkan surat nikah yang tersimpan di kotak persegi panjang itu.
...🌹Selamat membaca 🌹...
...Huh!! Anne yang dilabrak, aku yang deg deg pyar😔...
...🌷🌷🌷🌷🌷...
Hallo bestie😍Yang suka cerita velakor dan hot jeletot, kuy mampir di karya othor yang sudah tamat🤭Rasakan sendiri sensasinya😎
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...