Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Gelas bekasku!


__ADS_3

Dua minggu kemudian,


"An, bantuin mikir napa!" gerutu Dara setelah tidak menemukan ide apapun untuk disampaikan kepada ayahnya.


Anne mengalihkan pandangan sekilas ke arah Dara. Ia mengubah posisi duduknya saat ini, sesekali ia menatap layar ponsel yang ada dalam genggaman tangan kanannya. Ia sedang menunggu pesan dari orang yang setiap malam tidur bersamanya.


"Kamu yakin mau kuliah ke Jepang bersama Juna?" tanya Anne dengan pandangan yang tak lepas dari wajah sahabatnya itu.


"Iya lah! Aku yakin seyakin-yakinnya!" ujar Dara.


Anne mulai memikirkan alasan terbaik untuk Dara saat nanti meminta kuliah S2 di Jepang. Pasalnya om Rudi tidak setuju jika hidup berjauhan dari Dara sedangkan Dara ingin mengikuti sang kekasih menimba ilmu di negara asal doraemon itu.


"Otakku mendadak buntu, Dar!" Anne menggaruk rambutnya setelah tidak menemukan alasan yang tepat.


Dara membuang napasnya kasar setelah mendengar jawaban dari sahabatnya itu. Dara beranjak dari tempatnya untuk memesan minuman lagi karena jus apel miliknya telah habis. Kedua gadis cantik itu berada di cafetaria kampus.


Setelah kepergian Dara, pandangan Anne beralih ke layar ponsel yang ada dalam genggamannya. Ia tersenyum tipis ketika membaca pesan dari kontak yang diberi nama 'Om Genit'.


Bisakah kita bertemu di apartment, om ingin makan siang berdua denganmu,


Belum sempat Anne membalas pesan itu, Dara telah kembali dengan membawa segelas jus dan beberapa makanan ringan. Pandangan Anne tak lepas dari wajah cantik tanpa senyuman itu. Pikiran Anne mulai berkelana jauh untuk mencari cara agar bisa menemui om Rudi tanpa ketahuan Dara. Balasan pesan untuk om Rudi pun telah dikirim Anne setelah menemukan ide yang tepat.


"Eh, Dar! Aku ada ide yang menyenangkan buat kamu!" ujar Anne setelah menemukan jalan keluar atas situasi yang dihadapi kali ini.


"Apaan?" tanya Dara dengan ketus.


"Lebih baik kamu tanya ke Juna aja deh alasannya. Nah, berhubung kita udah selesai revisi dan di kampus gak ada kegiatan lagi, mending kamu ke Bandung sekarang! Samperin si Juna!" Anne mencondongkan tubuhnya ke depan, ia menjadi lebih dekat dengan Dara.


"Bagaimana?" Anne menaik-turunkan alisnya sambil menatap Dara penuh arti.


Wajah murung itu mendadak berubah ceria setelah mendengar usul dari Anne. Namun, tidak lama setelah itu ... Dara menghela napasnya karena teringat sesuatu hal.

__ADS_1


"Terus bagaimana caranya aku pergi kesana? Papi pasti bakal telefon mulu kalau kamu di rumah sedangkan aku enggak!" keluh Dara.


"Tenang saja! Aku tidak akan pulang sebelum kamu pulang, setelah ini aku ke bekasi saja sampai kamu memberi kabar jika kamu sudah kembali. Gampang 'kan?" Anne menyeringai di hadapan Dara.


Dara mulai mencerna rencana yang disampaikan oleh Anne. Ide cemerlang sahabatnya itu memang harus dilakukan saat ini. Lagi pula Dara juga sudah rindu dengan kekasihnya itu meski baru satu minggu yang lalu mereka bertemu.


"Kamu memang bisa diandalkan!" Dara beranjak dari tempatnya dengan kedua sudut bibir yang tak henti tersenyum, "Mari aku antar ke Bekasi!" ucap Dara.


Anne terlihat salah tingkah setelah mendengar tawaran dari Dara. Sekali lagi, ia harus mencari alasan agar Dara tidak mengantarnya ke Bekasi. Anne pun berdiri dari tempat duduknya saat ini.


"Aku berangkat sendiri saja, Dar! Lagi pula aku mau mampir ke supermarket dulu sebelum ke sana!" kilah Anne dengan ekspresi wajah yang meyakinkan, "Lebih baik kamu berangkat sekarang! Jangan sampai kamu terjebak macet!" tutur Anne seraya menepuk bahu Dara.


Kedua gadis itu akhirnya keluar dari gerbang kampus dengan tujuan yang berbeda. Anne berdiri di depan gerbang sampai mobil yang dikendarai Dara benar-benar menghilang dari pandangan.


"Maafkan aku, Dar!" gumam Anne dengan suara yang lirih. Rasa bersalah terus menghantui Anne saat dirinya terus membohongi Dara.


...****************...


Pintu lift Apartment milik om Rudi telah terbuka. Langkah demi langkah telah dilalui Anne hingga sampai di ruang tamu. Suasana di dalam sana terasa sunyi sepi karena mungkin om Rudi belum sampai di apartmentnya.


Berjalan menjauh dari kulkas, Anne berdiri di depan meja dapur untuk mengambil gelas yang tertata rapi di rak kaca dan ia mulai menuang minuman itu ke dalam gelas. Namun, belum sampai gelas itu terisi penuh, Anne segera meletakkan botol itu karena terkejut ada dua tangan yang melingkar di perutnya.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" suara bariton itu terdengar lirih di telinga Anne.


"Saya haus," jawab Anne tanpa berpaling ke samping. Ia segera meneguk minuman bersoda itu untuk menghilangkan dahaga.


Anne segera menjauhkan gelas itu dari bibirnya setelah om Rudi menghentikan tangannya. Anne menjadi bingung dibuatnya karen tiba-tiba saja om Rudi mengambil gelas itu dan membalikkan tubuhnya.


"Jangan diminum! Itu bekas gelas saya!" ujar Anne tatkala melihat om Rudi tiba-tiba meneguk minuman sisa itu.


"Tidak masalah! Di gelas ini ada bekas bibir istriku sendiri. Setidaknya aku bisa merasakan sisa bibirnya saat meneguk minuman bersoda ini," ucap om Rudi setelah meletakkan gelas tersebut di atas meja.

__ADS_1


Anne mengalihkan pandangannya ke arah lain setelah mendengar kalimat panjang yang diucapkan oleh om Rudi. Ia tahu jika jawaban itu adalah sebuah sindiran untuknya karena sampai saat ini belum menyerahkan diri sepenuhnya kepada suaminya itu.


"Saya masih butuh waktu, Om!" ucap Anne dengan kepala yang tertunduk.


"Jangan lama-lama, Sayang!" ucap om Rudi seraya menyentuh dagu Anne dengan lembut.


Om Rudi menuntun Anne duduk di meja makan karena beliau ingin makan siang lebih cepat dari biasanya. Sebelum sampai di sini, om Rudi membeli beberapa makanan dari salah satu restoran terkenal di kota ini.


"Kemana Dara?" tanya om Rudi sebelum menikmati makanan yang ada di piringnya.


"Yang pasti dia ada di tempat yang aman," jawab Anne tanpa berani menatap om Rudi.


"Kamu menyuruhnya pergi ke Bandung?" om Rudi mencoba menerka di mana keberadaan putrinya.


"Hanya itu yang bisa saya lakukan agar saya bisa menemani Om di sini." Kali ini Anne memberanikan diri menatap kedua mata om Rudi.


Ruang makan kembali hening karena keduanya tidak melanjutkan lagi obrolan tentang Dara. Suara dentingan sendok dan garpu mengiringi makan siang yang lebih cepat itu.


Beberapa puluh menit kemudian, makan siang telah selesai. Om Rudi mengajak Anne masuk ke dalam kamar untuk beristirahat meskipun penunjuk waktu masih berada di angka dua belas siang. Sepasang suami istri itu duduk bersandar di headboard ranjang sambil membahas hal-hal kecil yang bisa membuat Anne tersenyum.


"Kemarilah! Kamu pasti akan merasakan kenyamanan jika tidur di sini." Om Rudi menepuk pahanya—sebuah kode agar Anne segera merebahkan kepala di sana.


...🌹Selamat membaca🌹...


...FB: Titik Pujiningdyah || IG: @tie_tik...


...🌷🌷🌷🌷🌷...


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


Selamat menikmati akhir pekan wahai para bestie😍Nah, aku ada rekomendasi karya keren nih, cocok banget dah dibaca saat akhir pekan seperti ini. Kalian wajib kepoin karya super keren dari author Tita Dewahasta dengan judul Kembali ke masa SMA. Wah ... nostalgia nih judulnya😍

__ADS_1



...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2