
Suara gelak tawa menggema di dalam ruang kerja yang megah milik owner perusahaan ini. Anne merebahkan diri di sofa panjang itu setelah panggilan bersama Dara berakhir.
"Aduh, Dara ... Dara!" gumam Anne setelah mengehentikan tawanya.
Langit telah berubah menjadi redup setelah melewati persimpangan waktu. Warna gelap pekat sebentar lagi akan hadir seiring dengan munculnya ribuan bintang. Namun, Anne masih berada di kantor untuk menunggu sang suami yang berada di ruang rapat bersama Pras. Rapat dadakan pemegang saham telah selesai sejak satu jam yang lalu akan tetapi om Rudi belum kembali dari ruangan tersebut.
"Ada apa dengan Dara?" Tiba-tiba saja terdengar suara yang sangat familiar itu di dalam ruangan tersebut.
"Papi!" Anne terkejut karena kehadiran om Rudi di sana.
Ekspresi wajah tak bersahabat terlukis di wajah om Rudi. Pria berusia empat puluh delapan tahun itu terlihat lelah dan kecewa. Entah apa yang sebenarnya sudah terjadi hingga wajah itu berat untuk menampilkan senyum manisnya.
"Ada apa dengan Dara?" tanya om Rudi sekali lagi.
"Oh, ini tadi dia nelfon saya. Dia tanya-tanya gitu, apa saja yang harus dilakukan sebelum malam pertama," ucap Anne seraya menatap om Rudi.
"Terus kamu memberitahu dia apa saja yang sudah kita lakukan?" tanya om Rudi seraya menatap Anne dengan lekat.
"Ya enggak, lah, Pi! Gila apa ya! saya hanya mengajarkan kepada Dara beberapa persiapan yang harus dia lakukan," sergah Anne.
Hembusan napas berat terdengar di sana, om Rudi menyandarkan tubuh di sofa tersebut. Kepalanya pun menengadah untuk menatap langit-langit ruangan.
"Ada apa sih, Pi?" tanya Anne. Ia penasaran saja apa kiranya yang membuat sang suami seperti itu.
"Gak ada apa-apa," jawab om Rudi seraya beranjak dari tempatnya saat ini, "ayo kita pulang!" Om Rudi mengulurkan tangannya kepada Anne.
Tanpa mendapat jawaban yang jelas dan pasti, pada akhirnya Anne pulang bersama sang suami. Ia bergelayut manja di lengan sang suami saat berjalan di lorong yang sepi. Semua karyawan sudah pulang sejak beberapa jam yang lalu. Anne membiarkan sang suami sibuk dengan pikirannya. Lebih baik diam daripada harus mendengar kata-kata pedas yang mungkin saja keluar dari bibir pria yang selalu berkata manis itu.
"Papi ... makan di luar yuk! Saya lapar!" ucap Anne setelah masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Kita makan di rumah saja, ya, Papi sedang tidak ingin berada di keramaian," sergah om Rudi.
"Ih, Papi! Saya ingin makan steak, Pi! Ayolah, Pi!" Rengekan manja terdengar di dalam mobil.
"Anne!" bentak om Rudi hingga membuat Anne termangu di sisinya. Bibirnya seperti terkunci kala mendengar bentakan sang suami.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Anne menjauhkan diri dari suaminya itu. Berada dekat dengan pria yang sedang menyimpan amarah nyatanya berhasil membuat hatinya perih. Ini adalah yang pertama bagi Anne—mendengar bentakan dari om Rudi.
Suasana di dalam mobil mendadak hening. Keduanya sama-sama terdiam dalam lamunan masing-masing. Bahkan, Anne tak sedikitpun menoleh ke arah sang suami. Sementara Om Rudi sedang mengirim pesan dengan seseorang setelah menatap sang istri sekilas.
Mobil hitam berselimut rasa dingin itu terus melaju membelah jalanan yang lumayan padat. Beberapa puluh menit kemudian, mobil tersebut sampai di halaman rumah megah bergaya america itu.
Anne bergegas keluar dari mobil tanpa menunggu om Rudi. Ia menapaki satu persatu anak tangga menuju teras rumah dan masuk ke dalam rumah begitu saja. Tak sedikitpun ia menoleh atau pun mengucap sepatah kata.
"Huuuh ...." Om Rudi menghela napasnya setelah melihat sikap sang istri. Kepalanya semakin pusing melihat sikap dingin Anne malam ini.
...♦️♦️♦️♦️♦️...
Segera Anne membuka ponselnya saat pintu kamar terbuka lebar. Ia sempat melirik sang suami yang sedang memungut barang-barangnya tanpa mengucap sepatah katapun. Anne mengalihkan pandangan ke arah lain tatkala om Rudi masuk ke dalam walk in closet.
"Dasar aki-aki labil! Enak aja bentak-bentak aku di depan pak Botak!" Anne menggerutu setelah mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, om Rudi keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai. Beliau keluar dari kamar itu tanpa menyapa sang istri. Mungkin sepasang suami istri itu sedang perang dingin malam ini.
"Awas aja kalau minta jatah! Gak bakal aku kasih!" Anne berkacak pinggang di tepi ranjang setelah pintu kamar tertutup kembali.
Anne memutuskan berendam di bathup dengan air hangat untuk melepaskan penat yang melanda tubuhnya. Rasa kesal masih terasa di hati karena sikap yang ditunjukkan sang suami. Suara itu masih terngiang di indera pendengarannya.
Setelah beberapa puluh menit berada di dalam kamar mandi. Pada akhirnya Anne keluar dengan bathrobe putih yang menutupi tubuhnya. Ia pun segera masuk ke dalam walk in closet. Piyama lengan panjang sengaja dipakai Anne saat ini. Sesuatu hal yang jarang sekali ia lakukan sejak memutuskan untuk menjadi istri sesungguhnya om Rudi.
__ADS_1
Setelah selesai memakai skincare malam, Anne segera keluar dari walk in closet. Namun, langkahnya harus terhenti kala matanya menangkap sesuatu di atas meja yang ada di depan sofa. Ia berjalan menuju sofa untuk memastikan benda apa yang ada di sana.
"Steak?" Anne menaikkan satu alisnya setelah membuka tudung kecil itu. Ada selembar kertas kecil yang ada di bawah piring.
Sebelum tidur, makanlah terlebih dahulu!
Anne meletakkan kembali kertas itu ke tempat asal. Kekesalan di hati membuat rasa lapar hilang seketika. Ia membiarkan steak itu berada di sana tanpa menyentuhnya walau hanya sedikit saja.
"Ngapain coba nyiapin steak di sini! Gak bakal aku makan!" ujar Anne setelah naik ke atas ranjang. Ia menata bantal dan tak lupa menaikkan selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya.
Detik demi detik telah berlalu. Malam pun semakin larut. Beberapa kali om Rudi menguap karena rasa kantuk mulai datang menghampiri. Masalah kecil yang ada di kantor membuat beliau harus begadang. Pada akhirnya om Rudi menyerah, beliau memutuskan kembali ke kamarnya untuk istirahat. Semoga di hari esok ada kabar baik dari Pras, begitulah harapan om Rudi.
Om Rudi tertegun tatkala masuk ke dalam kamar. Beliau melihat steak yang disiapkan bi Sari masih utuh. Om Rudi membuang napasnya kasar setelah melihat tubuh Anne yang tertutup selimut.
"Jadi, dia tidur tanpa makan?" gumam om Rudi setelah duduk di tepi ranjang. Beliau mengamati wajah sang istri yang sedang terlelap itu.
Cukup lama om Rudi menatap wajah tenang sang istri. Ada rasa bersalah yang hadir dalam hati pria matang itu setelah teringat apa yang beliau lakukan beberapa waktu yang lalu.
"Maafkan Papi, Sayang," gumam om Rudi sebelum beranjak dari tempatnya saat ini.
...🌷Selamat membaca 🌷...
...Ini bukan konflik ye mak emak😀Hanya pemanis saja😎...
➖➖➖➖➖➖♥️♥️♥️♥️➖➖➖➖➖
Selamat malam semua😎Kuy baca novel keren karya author Zafa dengan judul Putri Cantik Milik Tuan Reymond. Wajib baca ya Bestie😍
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...