Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Happy birthday, Anne.


__ADS_3

Tiga bulan kemudian,


Hidup tetap berjalan meski tidak sesuai dengan rencana kita. Sang Pemilik Jagat telah membuat skenario dengan begitu apik untuk kelangsungan kehidupan di bumi. Mau tidak mau kita harus menjalani setiap proses yang terjadi di setiap waktu.


Waktu telah membawa semua insan pada persimpangan. Meniti jalan yang berbeda demi mencapai tujuan hidup. Waktu tidak pernah ingkar karena selalu berputar sesuai dengan Sang Pengendali. Kenangan-kenangan telah ditinggalkan waktu di setiap persimpangan—entah itu bahagia ataupun luka.


Hidup yang normal telah dilalui Anne dan om Rudi sejak pulang dari jepang tiga bulan yang lalu. Selama dalam kurun waktu ini, sepasang suami istri itu tidur dalam kamar yang sama tanpa rasa was-was lagi. Terkadang sikap jail om Rudi saat di ruang makan atau di ruangan lain yang ada di rumah ini, mengundang rasa curiga beberapa ART yang pernah melihat mereka berdua bukan layaknya seorang ayah dan anak.


"Bu Una, sebenarnya Tuan dan Nona Anne itu ada hubungan apa ya? Saya lihat mereka berdua sepertinya mesra begitu," tanya bi Sari setelah berada di dalam paviliun karena jam makan malam telah usai.


"Saya juga tidak tahu, Sar! Saya tidak mau memikirkan hal itu, karena itu bukan urusan saya," jawab bu Una tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.


"Iya juga ya, Bu! Kenapa juga saya memikirkan urusan Tuan," tukas bi Sari dan setelah itu beliau fokus pada layar televisi seperti bu Una.


Sementara itu, di dalam ruang kerja, Anne sedang sibuk membantu om Rudi membaca proposal persetujuan. Bekerja selama beberapa bulan sebagai sekretaris plus-plus, membuat Anne paham bagaimana dunia bisnis berjalan. Ia diajari langsung oleh pemilik perusahaan yang tak lain adalah suaminya sendiri, Rudianto Baskoro.


"Pi, kenapa Papi menerima proposal pembangunan mini market? Bukannya ini termasuk proyek kecil?" tanya Anne tanpa mengalihkan pandangan dari map merah yang sedang ia baca itu.


"Papi tidak terlalu memilih itu proyek besar atau kecil, karena bagi Papi, semua proyek itu sama saja. Proyek kecil pun pasti ada untungnya meski tidak banyak." Om Rudi menatap sang istri sekilas dan setelah itu beliau kembali meninjau proposal yang belum selesai dipelajari itu.


Semua pekerjaan telah selesai diperiksa tepat di saat pukul sebelas malam. Om Rudi menyuruh Anne pergi ke kamar terlebih dahulu karena masih ada beberapa hal yang harus beliau periksa.

__ADS_1


"Papi buruan nyusul, ya! Awas saja kalau sampai lembur! Ingat! Asam aurat!" Anne mewanti-wanti sang suami agar menjaga kesehatannya.


"Iya ... iya! Bawel banget sih!" protes om Rudi sebelum Anne berlalu dari ruang kerja.


Beberapa puluh menit kemudian, om Rudi beranjak dari tempatnya. Beliau segera keluar dari ruang tamu dan mengayun langkah menuruni satu persatu anak tangga menuju dapur. Beliau membuka kulkas untuk mengambil sesuatu yang akan diberikan kepada Anne setelah ini.


Kue ulang tahun berlapis coklat ukuran sedang dengan lilis angka dua puluh tiga, akhirnya keluar dari lemari pendingin itu. Ya, tepat saat jam dua belas malam nanti adalah ulang tahun Anne yang ke dua puluh tiga. Om Rudi menarik laci dapur untuk mengambil korek api untuk menyalakan lilin itu saat tiba di depan kamar nanti. Tak lupa beliau merogoh saku celananya untuk memastikan kotak cincin berlian itu ada di dalam sana, karena itulah yang akan menjadi hadiah spesial untuk Anne.


Setelah segala persiapan telah lengkap. Om Rudi kembali menapaki satu persatu anak tangga menuju lantai dua, karena sebentar lagi jarum pendek jam akan sampai di angka dua belas. Beliau menyalakan lilin tersebut sebelum membuka pintu kamar.


"Happy birthday, Istriku ...." ucap om Rudi setelah sampai di dalam kamar.


Apa yang dilakukan om Rudi saat ini berhasil membuat Anne terhenyak dari tepi ranjang. Ia meletakkan ponselnya di sembarang tempat dan segera menghampiri om Rudi yang berdiri di dekat sofa. Anne terharu melihat apa yang sudah dilakukan oleh pria matang itu. Kejutan sederhana ini berhasil membuat bulir air matanya lolos begitu saja.


Anne tidak bisa berkata apapun saat ini. Hanya air mata kebahagiaan yang menjadi alat untuk mengungkapkan semua rasa yang membuncah dalam dada. Segera ia menutup mata untuk berdoa sesuai dengan yang dititahkan oleh om Rudi.


"Terima kasih, Pi," ucap Anne setelah meniup lilin yang ada di atas kue ulang tahun itu. Om Rudi meletakkan kue tersebut di atas meja, lalu beliau mengambil sesuatu yang ada dalam saku celananya.


Anne membekap mulutnya setelah kotak beludru berwarna merah maroon itu terbuka. Ia tidak percaya jika akan mendapatkan cincin berlian yang begitu indah sebagai hadiah ulang tahunnya. Air mata kembali menggenang di pelupuk mata saat om Rudi menyematkan cincin itu di jari manisnya.


"Ini adalah hadiah ulang tahun untukmu, Sayang! Semoga kamu suka," ucap om Rudi setelahnya.

__ADS_1


"Terima kasih, Pi! Saya suka dengan hadiahnya," ucap Anne dengan mata yang berbinar.


Anne segera menghambur ke dalam pelukan hangat sang suami. Ia tak henti mengucapkan terima kasih atas kejutan sederhana yang membuatnya bahagia. Anne menengadahkan kepalanya agar bisa menatap wajah tampan itu.


"Papi ingat dengan ulang tahun saya?" tanya Anne dengan diiringi senyum manis.


"Tentu saja! Papi tidak akan melupakan semua tentang kamu, Sayang," jawab om Rudi seraya menyentuh rahang sang istri dengan satu tangannya.


Anne tak henti mengembangkan senyumnya, kebahagiaan yang ia dapatkan seakan tidak pernah pudar. Hatinya berbunga-bunga seperti seseorang yang baru merasakan jatuh cinta. Nyatanya pesona pria matang ini selalu membuatnya tak berdaya. Kehangatan yang diberikan oleh sang suami mungkin saja berhasil melelehkan perasaan yang pernah membeku.


"Apakah malam ini tidak ada perayaan lain, Pi?" tanya Anne dengan tatapan yang menggoda.


"Haruskah kita merayakan dengan cara yang lain?" Om Rudi malah bertanya balik.


"Tentu! Saya menunggu kejutan lain dari Papi yang emmm ... itu ... apa ya, itu loh!" Anne bermanja-manja dalam dekapan pria berumur hampir setengah abad itu.


Tanpa banyak bicara om Rudi mengangkat tubuh itu. Beliau membawa Anne ke atas ranjang yang akan dijadikan medan tempur untuk merayakan hari ulang tahun. Mungkin setelah ini Anne akan meniup lilin lain—bukan lilin berwarna putih atau pun lilin angka, melainkan lilin super jumbo yang bisa melelehkan cairan dari dalam.


"Come on, Mas Rudi!" Anne mengerlingkan matanya seraya memberi kode kepada sang suami agar segera naik ke atas ranjang. Sikapnya yang genit berhasil membuat om Rudi menjadi gemas.


...🌹Selamat membaca 🌹...

__ADS_1


...Siap-siap masuk konflik pertama yee maaak🤭...


...🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2