
"Mami!" teriak Dara saat membuka kelopak matanya. Napasnya terengah setelah mimpi bertemu dengan almarhum ibunya.
Dara duduk bersandar di headboard ranjang, ia memijat pelipisnya karena merasakan pusing. Mimpi yang dialaminya seperti nyata, dekapan hangat seorang ibu bisa dia rasakan hanya lewat mimpi saja.
"Duh! Pakai habis segala!" gerutu Dara ketika melihat gelas yang ada di nakas kosong. Biasanya selalu tersedia air minum di sana.
Mau tidak mau, Dara harus mengambil air minum di dapur. Tenggorokan yang kering membuatnya bergegas turun dari ranjang. Ia membawa gelas kosong tersebut keluar dari kamar. Suasana lantai dua yang temaram membuat tubuhnya meremang karena teringat hantu yang dijelaskan oleh mami Mona.
Dara menghentikan langkahnya ketika mendengar suara handle pintu kamar Anne ditarik dari dalam. Ia mengurungkan niatnya turun ke dapur karena ingin mampir ke kamar Anne terlebih dahulu. Namun, langkahnya harus terhenti tatkala melihat siapa yang baru saja keluar dari kamar sahabatnya itu. Padahal saat ini seharusnya semua orang sedang tidur nyenyak.
"Papi!"
Om Rudi terpaku setelah menutup pintu kamar Anne dengan hati-hati. Beliau bahkan belum berani membalikkan tubuh karena mendengar suara Dara di balik tubuhnya.
Jantung om Rudi seakan berhenti berdetak karena kehadiran putrinya di sana. Beliau segera membalikkan tubuh dan menyembunyikan rasa gugupnya dengan sikap yang tenang.
"Ngapain Papi keluar dari kamarnya Anne?" tanya Dara dengan tatapan tajamnya.
"Oh, gak ada apa-apa, Dar! Emmm ...." Om Rudi sedang mencari alasan yang tepat agar putrinya percaya, "tadi Papi hanya memastikan di kamar Anne tidak ada apa-apa, karena tadi waktu Papi di ruang kerja, Papi mendengar suara wanita menangis," ucap om Rudi dengan sikap yang sangat tenang.
Kebetulan, ruang kerja om Rudi memang bersebelahan dengan kamar Anne. Mungkin alasan yang diucapkan om Rudi sedikit masuk akal. Kecerdikannya ternyata dipakai untuk mengelabuhi putrinya sendiri.
"Terus?" Dara masih memang wajah curiga.
"Ternyata tidak ada siapapun yang menangis, Anne tidur pulas," ucap om Rudi punuh arti, "Coba kamu lihat!" om Rudi membuka kembali pintu tersebut.
Dara segera masuk ke kamar tersebut. Ia melihat Anne tertidur pulas di balik selimut tebal itu. Untuk mengurangi rasa curiga yang bersarang di hati, Dara membuka selimut tersebut. Kedua manik hitamnya tidak menemukan apapun untuk dicurigai. Anne tidur memakai piyama yang rapi dan tidak ada tanda-tanda jika sahabatnya itu berbuat macam-macam dengan ayahnya.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa 'kan?" Om Rudi membuyarkan pikiran Dara.
"Hmmm ...." Dara berlalu begitu saja dari sisi ranjang Anne. Ia keluar dari kamar tersebut diikuti dengan om Rudi.
"Papi yakin mendengar suara wanita menangis di kamarnya Anne?" Sekali lagi, Dara memastikan praduga ayahnya.
"Ya. Bahkan, suaranya sangat keras, Dar!" Om Rudi terlihat sangat meyakinkan saat ini, "tangisannya terdengar pilu, maka dari itu ... Papi ingin memastikan sendiri jika tidak terjadi apa-apa kepada Anne," lanjut om Rudi tanpa gugup dan ragu.
Dara tertegun mendengar penjelasan om Rudi. Pikirannya mulai teringat kuntilanak yang pernah disebutkan oleh mami Mona kala itu. Praduga tentang hadirnya setan itu lagi membuat tubuh Dara meremang.
"Memangnya kamu mau kemana? Kenapa sudah bangun?" tanya om Rudi setelah melihat putrinya hanya diam saja.
"Dara mau ambil minum, Pi. Tadi Dara mimpi ketemu Mami, eh pas bangun haus banget tapi air minum Dara habis," ucap Dara seraya menunjukkan gelas kosong yang ada dalam genggaman tangannya.
"Mami?" Om Rudi terkejut mendengar hal itu, "Lebih baik besok pagi kita ke makam Mami, sudah lama 'kan kita tidak pergi ke sana," ucap om Rudi seraya mengusap rambut putrinya dengan penuh kasih.
"Itu bisa diatur." Om Rudi mengembangkan senyumnya, "Mari Papi antar ke dapur!" ucap om Rudi seraya merengkuh pundak Dara.
Sepertinya, om Rudi berhasil mengikis kecurigaan Dara. Beliau selamat karena mengalihkan pikiran Dara untuk bernostalgia bersama almarhum istrinya yang tidak lain adalah ibunya Dara. Om Rudi pun menemani Dara di dapur sampai selesai, menunjukkan sedikit perhatian sepertinya bisa menaklukkan keadaan yang sempat menegangkan.
****
Sang fajar telah hadir di cakrawala barat, tanda segala aktifitas sebentar lagi dimulai. Anne baru saja selesai membersihkan diri di kamar mandi, handuk putih kecil melilit rambutnya yang basah. Ia segera duduk di meja rias setelah mengambil ponsel yang ada di tempat tidur.
Tangan itu tiba-tiba saja gemetar dan terasa dingin. Rasanya, tangan itu tak mampu membawa ponsel yang ada dalam genggaman. Irama jantung Anne berdetak tak beraturan setelah membaca pesan yang dikirim sang suami beberapa jam yang lalu.
"Ya Tuhan! Apa yang harus aku katakan!" ujar Anne setelah meletakkan ponsel di atas meja rias. Ia tertunduk dengan kedua tangan yang menopang kepalanya di sana.
__ADS_1
Suara handle pintu yang ditarik semakin membuat jantung Anne berdegup kencang. Sudah bisa dipastikan jika yang masuk adalah Dara. Sejenak, ia mengernyitkan keningnya setelah melihat penampilan Dara dari pantulan cermin. Sahabatnya itu memakai pakaian rapi lengkap dengan kerudung.
"Mau kemana, Dar?" tanya Anne setelah Dara menyandarkan pinggulnya di meja rias.
"Aku mau ke makam Mami sama Papi, kamu gak papa kan aku tinggal sebentar di rumah?," ucap Dara seraya menatap mata Anne.
"Iya gak papa, kamu pergi aja!" jawab Anne seraya menatap wajah cantik sahabatnya itu.
Dara hanya tersenyum tipis. Kedua manik hitamnya beralih untuk mengamati keadaan kamar Anne saat ini. Ia harus memastikan jika tidak ada apapun yang mencurigakan di kamar sahabatnya itu.
"Kenapa kamu membuang buket pemberian Bagus?" tanya Dara setelah melihat buket indah itu berakhir di tempat sampah.
Anne tertegun mendengar pertanyaan yang dilontarkan Dara, karena ia sendiri belum menyiapkan jawaban akan hal itu. Ia dipaksa memutar otak di saat belum sarapan seperti saat ini.
"Aku hanya tidak mau terlarut dalam kesedihan, Dar," jawab Anne dengan tatapan lurus ke depan.
Dara mengambil buket tersebut dari tong sampah. Ia menaikkan satu alisnya tatkala melihat banyaknya tisu yang ada di sana.
"Apa kamu tadi malam menangis bombay, An? Kok ya sampai menghabiskan tissu sebanyak itu!" tanya Dara tanpa menatap Anne.
Seketika Anne mengalihkan pandangan ke tong sampah. Benar saja, Ia pun melihat banyak tissu ada di sana. Ia bingung karena belum menyiapkan jawaban atas pertanyaan itu. Sungguh, ingin sekali Anne kabur dari kamar ini agar terbebas dari pertanyaan-pertanyaan yang membuat kepalanya pusing tujuh keliling.
"Iya, tadi malam aku sedih dan menangis bombai karena teringat Bagus. Rasanya begitu menyesakkan dada, Dar!" Mata indah Anne tiba-tiba saja berembun. Entah itu karena takut atau mungkin benar-benar sedih karena Bagus.
...🌹Selamat membaca🌹...
...Sabar ya, othor mau bikin Dara curiga dulu🤣...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...