
Hari yang dinanti Dara akhirnya tiba. Ruang tamu dipenuhi banyak dekorasi bunga-bunga berbagai warna. Beberapa lampu berwarna beda pun semakin membuat dekorasi itu nampak indah. Persiapan penyambutan keluarga Juna telah selesai. Pagi ini prosesi lamaran Dara dan Juna akan berlangsung sederhana. Tidak banyak tamu undangan yang datang atau lebih tepatnya ini adalah acara private.
"Mi, telfon Juna dong! Dia udah sampai mana," ucap Dara tanpa menatap Anne, karena saat ini ia sedang di make-up oleh MUA terkenal di Jakarta selatan.
"Oke, aku telfon dulu!" Anne beranjak dari tempatnya saat ini untuk mengambil ponsel Dara yang ada di dekat bantal.
Om Rudi tidak menginginkan acara megah dan mewah untuk acara resmi ini. Beliau tidak mau menyinggung keluarga calon besannya. Acara cukup dihadiri beberapa keluarga untuk menyambut kedatangan Juna beserta orang tuanya. Untuk saat ini, yang terpenting adalah hubungan resmi Dara dan kekasihnya itu.
"Juna sampai di sini sekitar satu jam lagi," ucap Anne setelah panggilan telfon bersama Juna terputus.
Degup jantung Dara semakin tak beraturan. Ia gugup karena akan bertemu dengan keluarga besar sang kekasih. Takut dan was-was, itulah yang dirasakan Dara saat ini meski kedua orang tua kekasihnya sudah menerimanya sejak dulu.
"Mi, aku kok semakin nervous ya," keluh Dara saat merasakan telapak tangannya menjadi basah karena keringat dingin.
"Gak usah membayangkan yang aneh-aneh dulu," tutur Anne, padahal ia sendiri belum pernah merasakan bagaimana rasanya dilamar orang terkasih.
Anne menghela napas setelah mengingat perjalanannya hingga di posisi ini. Perasaan bahagia saat menerima lamaran dari sang kekasih pun tidak pernah ia rasakan. Statusnya begitu cepat berubah tanpa proses menegangkan seperti yang dirasakan Dara saat ini.
"Tidak ada yang perlu disesali," gumam Anne dalam hati.
Detik demi detik telah berlalu, tamu yang ditunggu pada akhirnya sampai. Ada empat mobil yang terparkir di halaman luas rumah bergaya america itu. Juna terlihat gagah dengan kemeja batik lengan panjang, tentu motifnya pun sama dengan bawahan yang dipakai Dara.
Om Rudi dan Anne menyambut kedatangan calon besannya. Ada beberapa kerabat om Rudi yang ikut menyambut tamu dari Bandung itu, mereka semua masuk ke dalam ruang tamu yang sudah di dekorasi dengan indah.
__ADS_1
"Panggilkan Dara, Sayang," bisik om Rudi setelah semua tamu undangan duduk di ruang tamu.
Anne mengayun langkah menuju ruang keluarga, di mana Dara berada saat ini. Putri sambungnya itu terlihat sangat cantik dan anggun dengan balutan kebaya modern berwarna salem.
"Mici! Aku takut!" keluh Dara saat berjalan menuju ruang tamu bersama Anne.
Pandangan Juna tak lepas dari sosok bidadari cantik yang sedang berkeliling untuk bersalaman dengan anggota keluarganya. Juna mengembangkan senyumnya saat Dara sampai di hadapannya. Bunga-bunga cinta bermekar indah di hati kedua insan yang sedang di mabuk cinta itu.
Prosesi lamaran akhirnya dimulai setelah Dara duduk di antara om Rudi dan Anne. Satu persatu rangkaian acara telah dilaksanakan dengan panduan MC yang bertugas. Kini, tibalah acara tukar cincin dimulai, sebelum acara seserahan.
Cincin yang sangat indah itu akhirnya tersemat di jari manis Dara. Semua orang tersenyum melihat kedua sejoli yang bersanding dengan ekspresi bahagia itu. Anne sampai menitikkan air mata karena terharu melihat putri sambungnya akhirnya menemukan tambatan hati.
Acara seserahan telah selesai, kini tibalah acara pembicaraan antara kedua keluarga tersebut. Ayah Juna sepertinya ingin menyampaikan sesuatu terlebih dahulu.
"Pak Rudi, saya memiliki sebuah permintaan yang harus Bapak pertimbangkan. Namun, sebelum saya mengutarakan permintaan itu, saya minta maaf terlebih dahulu, apabila permintaan saya memberatkan keluarga Bapak," ucap pak Arif—ayah Juna.
"Bagaimana kalau anak-anak kita nikahkan sekalian mumpung pulang. Saya sebagai orang tua sangat khawatir, mengingat di Jepang tidak ada yang mengawasi anak-anak kita. Saya takut mereka berdua khilaf dan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi, pergaulan jaman sekarang sangat memprihatinkan dan begitu bebas. Menurut Pak Rudi bagaimana?" Pak Arif menatap calon besannya dengan intens, beliau sangat berharap jika permintaannya ini disetujui.
Permintaan yang disampaikan oleh pak Arif berhasil membuat Dara dan Juna terkejut. Mereka saling pandang karena tidak percaya jika akan dinikahkan secepat itu. Lagi pula tidak ada persiapan apapun sebelumnya.
"Maaf, Yah, Juna menyela pembicaraan ini. Juna hanya ingin menyampaikan jika kampus Juna saat ini melarang pernikahan sebelum lulus kuliah. Juna harap ayah dan om Rudi mempertimbangkan terlebih dahulu," ucap Juna seraya menatap kedua pria yang sedang berpikir itu.
Suasana di dalam ruangan tamu mendadak hening. Kedua keluarga itu sedang memikirkan jalan keluar atas kerisauan ini. Om Rudi sangat setuju dengan pendapat pak Arif. Memang benar, kedua anak muda itu harus disah kan terlebih dahulu, agar tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.
__ADS_1
"Begini saja, Pak Arif. Jika memang Nak Juna tidak boleh menikah selama menempuh pendidikan S2 nya, maka lebih baik anak-anak kita ini dinikahkan secara agama saja atau nikah siri. Setidaknya ada ikatan resmi meski itu secara agama," ucap om Rudi dengan pandangan yang tak lepas dari wajah besannya.
Pak Arif sepertinya setuju dengan keputusan om Rudi. Nikah siri tidak akan merubah status Juna secara resmi. Menikahkan mereka secara agama sepertinya menjadi jalan keluar untuk hubungan kedua sejoli itu.
"Bagaimana, Jun? Apakah kamu setuju?" tanya pak Arif seraya mengalihkan pandangan ke arah putranya.
Juna belum bisa menjawab pertanyaan itu. Ia masih diam dengan kepala yang tertunduk. Mungkin, saat ini ia sedang memikirkan rencana dadakan ini dengan matang. Namun, tidak lama setelah itu Juna menegakkan kepalanya, ia menatap om Rudi dengan intens.
"Saya bersedia untuk dinikahkan secara siri saat ini juga. Namun, saya ingin minta waktu untuk bertanya kepada Dara." Juna mengalihkan pandangannya ke samping. Ia menatap sang kekasih dengan diiringi senyum manis.
"Bagaimana, Dar? Apakah kamu bersedia menikah siri denganku hari ini? Di dalam dompetku saat ini hanya ada uang tunai sebanyak satu juta rupiah. Apakah kamu mau menerima mahar dengan uang yang aku miliki saat ini?" tanya Juna tanpa ragu. Ia tahu uang satu juta tidak ada apa-apanya bagi Dara. Namun, sebagai seorang pria, ia harus berkata sejujurnya.
Dara tertegun mendengar pertanyaan itu, ia tidak mempermasalahkan nominal maharnya sama sekali. Semua ini benar-benar di luar dugaannya. Ada rasa bahagia, takut dan gugup yang membaur menjadi satu dalam dirinya saat ini. Sikap yang ditunjukkan Juna benar-benar membuatnya semakin jatuh cinta berkali-kali.
"Aku bersedia menikah denganmu saat ini. Tapi aku tidak mau menerima semua mahar itu. Berikan aku mahar uang tunai sejumlah lima ratus ribu rupiah saja." Dara menatap Juna dengan mata yang berembun karena rasa yang membuncah di dada.
...🌹Selamat membaca🌹...
...Aduh, Dara dan Juna sweet banget sih ah!! othor kok baperrr😍...
➖➖➖➖➖➖❤️❤️❤️❤️➖➖➖➖➖➖
Hallo sayangkuh ... ada rekomendasi karya keren nih untuk kalian😍 Pokoknya kalian wajib baca karya dari author Emmarisma dengan judul Gara-gara Nafkah. Kuy buruan otw ke karyanya😎
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...