Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Pengakuan om Rudi,


__ADS_3

"Ngebut, Say!" ujar Dara yang ada di kursi belakang. Ia terus berusaha membangunkan Anne yang terlentang dengan kepala yang ada di atas pangkuannya.


Jujur saja, Dara sangat khawatir dengan kondisi Anne saat ini. Air mata penyesalan rasanya tidak bisa dihentikan lagi—Dara benar-benar menyesal karena membiarkan Anne merasakan udara malam kota Bunkyo. Apalagi saat melihat wajah pucat sahabatnya itu, sungguh, hatinya merasa teriris. Ia takut jika sampai ayahnya mengetahui semua ini.


"An, bangun, An!" Dara menepuk pipi Anne beberapa kali.


Setelah membelah jalanan selama beberapa puluh menit. Pada akhirnya, Juna menghentikan mobilnya setelah sampai di depan IGD. Ia segera keluar dari mobil dan bergegas membantu Dara mengeluarkan Anne dari mobil. Terlihat seorang suster mendorong brankar saat Juna berteriak minta tolong.


Juna dan Dara menunggu di depan IGD setelah seorang suster membawa Anne masuk untuk melakukan pemeriksaan. Mereka berdua tidak diperkenankan masuk ke dalam sana saat dokter melakukan pemeriksaan.


"Aku takut, Say! Aku takut terjadi sesuatu kepada Anne." Dara menangis dalam dekapan Juna.


"Tenang! Anne pasti baik-baik saja!" Juna berusaha menenangkan Dara agar tidak khawatir lagi.


Cukup lama mereka menunggu karena mungkin di dalam sana dokter melakukan pengecekan secara lengkap. Dara semakin tidak tenang, ia mondar-mandir di depan pintu IGD. Wajah polos tanpa make up itu tidak dihiraukan lagi olehnya.


"Say, kamu tidak ke kampus?" tanya Dara setelah menatap Juna.


"Sayang! Sekarang hari jumat, so ... tidak ada jam pelajaran di kampus," ucap Juna dengan pandangan yang tak lepas dari wajah sang kekasih.


Setelah menunggu selama satu jam lebih, pada akhirnya seorang suster membuka pintu IGD dan memanggil keluarga pasien bernama Anne Malila. Suster tersebut memperbolehkan Dara masuk untuk bertemu dokter, karena ada perihal penting yang harus dijelaskan mengenai kondisi Anne saat ini.


Dara terlihat gusar karena Anne belum sadarkan diri sampai saat ini. Dokter pun tidak mengizinkan Anne untuk rawat jalan karena Anne harus dirawat secara intensif di ICU. Hasil pemeriksaan medis menyatakan jika trombosit Anne turun drastis di bawah seratus, kondisi ini bisa membahayakan keselamatan pasien. Apalagi, ditambah dengan asam lambung yang naik, dokter menduga jika asam lambung tersebut efek karena pasien sedang mengalami tekanan atau setres. Jadi, kesimpulannya Anne membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit ini.


Tanpa berpikir panjang, Dara pun menandatangani surat pertanggungjawaban pasien. Ia semakin khawatir setelah mendengar penjelasan itu, air mata tak henti menetes saat melihat dua orang suster mendorong brankar yang ditempati Anne keluar dari gedung IGD.

__ADS_1


***


Dara terus menangis saat melihat Anne dari kaca di ruang ICU, di mana Anne berada saat ini. Ia menyesal karena menjadi penyebab kondisi Anne saat ini. Tangannya terus menggenggam tangan Juna yang ada di sisinya saat ini, seakan ia sedang mencari kekuatan untuk bertahan.


"Dara!"


Sepasang kekasih itu segera mengalihkan pandangan saat mendengar suara yang sangat familiar itu ada di belakangnya. Keduanya shock saat melihat kehadiran pria yang tidak pernah disangka sebelumnya.


"Papi!" ujar Dara dengan napas yang memburu. Ketakutannya semakin bertambah saat melihat sorot mata sang ayah.


Om Rudi mengayun langkah mendekat ke tempat Dara berada. Beliau hanya ingin tahu bagaimana kondisi sang istri saat ini, jujur saja sejak mendapatkan kabar jika Anne nekat berada di teras rumah Dara, om Rudi merasa khawatir. Detik itu juga om Rudi menyuruh Pras untuk mempersiapkan penerbangan ke Jepang, bagaimanapun itu caranya.


"Kenapa dia di rawat di ICU, Dar?" tanya om Rudi setelah melihat kondisi sang istri, beliau menatap putrinya itu dengan sorot mata yang menakutkan.


Tanpa ragu, Dara menceritakan kejadian sebelum Anne jatuh pingsan. Dara semakin takut saat melihat ekspresi wajah tak bersahabat ayahnya.


Om Rudi mengusap wajahnya kasar setelah mendengar permintaan maaf dari putrinya. Sungguh, beliau sendiri tidak tahu harus bagaimana. Segera beliau meraih tubuh sang putri ke dalam dekapannya, dibelainya rambut itu dengan penuh kasih sayang.


"Jangan diulangi lagi." Hanya itu saja yang mampu diucapkan oleh ayah satu anak itu, karena tidak mungkin jika beliau meluapkan emosi kepada putrinya.


Setelah melihat keadaan yang terjadi saat ini, Juna memutuskan pamit pulang dari rumah sakit. Mungkin, Dara butuh waktu untuk berbicara dengan ayahnya mengenai segala hal yang terjadi akhir-akhir ini.


"Hati-hati," ucap Dara saat Juna berpamitan.


Setelah kepergian sang kekasih, Dara mengajak ayahnya duduk di ruang tunggu. Banyak hal yang harus ia bicarakan dengan ayahnya itu mengenai pernikahan tersembunyi bersama Anne.

__ADS_1


"Pi, kenapa Papi melakukan semua ini kepada Dara dan Anne? Tidak adakah wanita selain Anne?" tanya Dara dengan tatapan lurus ke depan.


"Apakah kamu setuju jika Papi menikah dengan wanita lain, misalnya ... tante Rosa?" Om Rudi bertanya balik seraya menatap putrinya.


Tentu Dara tidak bisa menjawab semua itu, ia hanya diam karena tentu jawabannya adalah tidak. Ia tidak mau memiliki ibu tiri yang akan mengambil perhatian ayahnya.


"Lalu kenapa Papi menikahi Anne? Apa alasannya, Pi?" tanya Dara lagi, "apakah Papi sudah melupakan Mami? Atau bahkan, nama Mami sudah tidak ada lagi di hati Papi?" Dara menatap om Rudi dengan intens.


Om Rudi menghembuskan napasnya kasar, beliau menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi itu. Kepalanya menengadah, menatap langit-langit ruang tunggu sambil merangkai jawaban yang bisa diterima oleh putrinya.


"Nak, sampai kapanpun, masih ada nama Mami mu di bagian lain dari ruang yang ada di hati Papi. Mami mu meninggal dunia sejak kamu masih kecil. Sekarang kamu sudah dewasa, coba kamu bayangkan bagaimana kebutuhan batin Papi tanpa adanya Mami? Papi ini pria normal, papi pun membutuhkan teman hidup. Apalagi nanti setelah kamu menikah, Papi akan sendirian tinggal di rumah megah kita." Om Rudi mencoba memberikan pengertian kepada putrinya itu.


"Selama ini Papi hanya bermain-main dengan beberapa wanita, karena Papi tidak mau menyakiti kamu dengan menikahi wanita lain. Namun, setelah Anne datang ke rumah kita, hati Papi mulai tersentuh kembali, Papi ingin memiliki dia bukan sebagai anak tapi sebagai istri. Maka dari itu saat ada kesempatan Papi langsung menikahi dia," ucap om Rudi dengan pandangan yang tak lepas dari putrinya.


Dara menghela napasnya setelah mendengar hal itu, ia mencoba mencerna setiap kata yang diucapkan oleh ayahnya. Ada perasaan tidak rela jika ayahnya membagi cintanya dengan wanita lain, tapi membayangkan ayahnya hidup sendiri setelah ia menikah nanti, ia pun menjadi tidak tega. Dara gusar dalam menghadapi situasi ini.


"Papi yakin hanya itu alasannya? Apa tidak ada alasan lain yang membuat Papi menikahi Anne?" Dara masih penasaran dengan alasan yang sesungguhnya.


Om Rudi hanya diam setelah mendengar pertanyaan itu. Beliau sedang menimbang, apakah beliau perlu menceritakan alasan yang sesungguhnya saat dulu menikahi Anne, akan tetapi beliau ragu karena Dara belum tentu menerima alsan itu.


"Karena Papi tidak percaya dengan pria lain yang akan menjadi suaminya Anne. Papi tidak mau kejadian di masa lalu terulang lagi. Cukup tante Sekar yang meninggal karena kecerobohan papanya Anne. Papi tidak mau hal itu sampai terjadi kepada Anne!" ujar om Rudi dengan pandangan lurus ke depan. Beliau kembali teringat cinta segitiga dalam persahabatan beliau dulu.


"Papi hanya ingin Anne hidup layak dan bahagia dalam perlindungan Papi!" lanjut om Rudi setelah menguasai emosi yang sempat hadir dalam hati karena kenangan di masa lalu.


...🌹Selamat membaca🌹...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2