
"Aduh, Mas! Sakit banget ini!" keluh Anne tanpa melepaskan cengkraman tangannya dari lengan om Rudi.
Om Rudi hanya bisa meringis saat merasakan sakit di lengannya. Beliau tidak berani untuk mengeluh ataupun protes di saat seperti ini. Ya, Anne sebentar lagi akan melahirkan, ia mulai merasakan kontraksi sejak kemarin malam atau lebih tepatnya tiga hari setelah ia mempersiapkan perlengkapan bayi kala itu. Mungkin, pagi ini bayi yang sudah ditunggu itu akan segera melihat keindahan dunia.
"Kamu harus kuat, Sayang. Sebentar lagi kita akan melihat anak kita," ucap om Rudi tanpa menghentikan usapan tangannya di perut buncit sang istri.
Anne sudah masuk di pembukaan tujuh. Ia sudah dipindahkan dari ruang rawat inap ke ruang bersalin. Hanya ada om Rudi yang menemani Anne di rumah sakit, karena Dara dan Juna baru berangkat dari Bandung pagi ini.
"Ayo Moms, semangat! Sebentar lagi perjuangan Moms akan sampai," ucap dokter Martha yang baru saja tiba di ruang bersalin. Beliau memeriksa kondisi Anne saat ini.
Satu jam kemudian, Anne tiba di puncak perjuangan setelah berusaha keras menahan rasa sakit ketika mengalami pembukaan tujuh hingga sempurna. Suara napas dan teriakan Anne menggema dalam ruangan tersebut. Ia terus mencengkram tangan om Rudi. Bahkan, rambut pria matang itu tak luput dari sasaran.
"Semangat, Moms! Semangat! Ayo bayinya kurang sebentar lagi keluar!" teriak bidan dan perawat pendamping dokter Martha.
Anne mengatur napas sebelum perjuangan terakhir ini selesai. Ia berjuang sekuat tenaga, bertaruh nyawa, antara hidup dan mati demi melahirkan buah hati yang selama ini dinanti.
"Alhamdulillah!" ujar om Rudi ketika mendengar suara tangisan bayi di dalam ruang bersalin itu. Air mata terus mengalir dari pelupuk mata pria matang itu, "terima kasih, Sayang. Terima kasih." Om Rudi mendaratkan kecupan mesra di kening Anne yang sedang terengah-engah.
"Selamat ya Moms dan Daddy. Jagoan kecilnya sudah lahir dengan selamat dan tidak kurang dari apapun nih," ucap bidan yang sedang menggendong bayi Anne.
Om Rudi beranjak dari tempatnya setelah bidan tersebut memberikan intruksi agar ikut bersamanya. Beliau meninggalkan Anne di ruang bersalin bersama dokter Martha dan perawat yang bertugas. Mungkin, om Rudi menuju ruangan bayi untuk melihat putranya.
...💠💠💠💠💠💠...
Langit jingga terlukis indah di cakrawala barat, bola raksasa berwarna orange terlihat jelas di sana. Mungkin sebentar lagi, langit akan berubah menjadi gelap, karena sang penguasa sinar akan kembali ke tempatnya.
Anne membuka kelopak matanya setelah mendengar suara gaduh di dalam kamarnya. Tidur pulas itu harus terganggu karena suara Dara yang membaur menjadi satu dengan suara Kiran dan om Rudi.
__ADS_1
"Kamu sudah datang, Dar?" tanya Anne setelah kesadarannya pulih.
"Ya, satu jam yang lalu, An," ucap Dara tanpa mengalihkan pandangan box bayi yang tak jauh dari bed pasien.
"An, siapa sih nama adikku ini? Dari tadi Papi gak mau memberitahuku nih! Katanya rahasia!" keluh Dara seraya menatap om Rudi sinis.
Om Rudi terkekeh setelah melihat tatapan sinis putrinya sendiri. Beliau kembali fokus kepada Kiran yang sedang asyik di atas pangkuannya. Memang benar, om Rudi sengaja merahasiakan nama jagoan kecilnya itu dari Dara.
"Jadi, anak kita belum diberi nama, Mas?" tanya Anne seraya menatap om Rudi.
"Belum, aku sengaja menunggu kamu bangun saja, daripada salah ngasih nama," jawab om Rudi seraya mengulum senyum.
Setelah melahirkan, Anne sempat menggendong putranya untuk belajar memberikan ASI eksklusif. Namun, tidak lama setelah itu, Anne mengeluh pusing dan lemas. Bidan yang mengawasinya, memutuskan untuk mengakhiri proses belajar meny*sui itu, agar Anne istirahat terlebih dahulu.
"Duh, kasian banget ya anakku," ucap Anne seraya menghela napasnya, "Dar, bawa dia kesini dong! Aku pengen liat dia lagi," ucap Anne setelah mengatur posisi bed pasien yang ia tempati dengan remote control.
Dara segera mengangkat tubuh adiknya itu dari box bayi. Ia membawa bayi yang sedang tidur pulas dalam bedong itu, ke tempat Anne berada. Ia merasa gemas ketika melihat pipi bakpao adiknya itu.
"Jangan, dong, Kak!" ucap Anne dengan diiringi senyum yang manis.
Anne mengecup pipi putranya itu. Ada perasaan cinta yang begitu besar dalam hatinya ketika melihat buah cinta yang selama ini dinanti. Mata indah itu, mulai berembun saat tatapan Anne tertuju pada wajah mungil itu.
"Mami akan memberi kamu nama, Gavin Kwan Baskoro," ucap Anne tanpa mengalihkan pandangan dari objek menggemaskan itu, "kamu bisa memanggil adikmu 'Gavin', Dar." Anne mengalihkan pandangannya ke arah Dara.
"Wah, nama yang sangat bagus!" Dara tersenyum manis setelah mendengar nama yang disebutkan Anne.
"Gitu aja pakai rahasia segala!" ujar Dara dengan nada ketus seraya setelah mengalihkan pandangan ke arah ayahnya.
__ADS_1
Om Rudi kembali mengulum senyum setelah melihat ekspresi wajah putrinya. Beliau mengangkat Kiran dari pangkuan dan berjalan menuju tempat sang istri berada. Sementara Kiran berada dalam gendongan beliau.
"Kiran mau adik kecil?" tanya om Rudi seraya menunjuk putranya.
"No!" Kiran menggeleng cepat setelah mendengar pertanyaan itu. Meski belum bisa bicara lancar, Kiran paham jika diajak komunikasi.
"Hmmm! Seharusnya, bapaknya harus mendengar sendiri tuh jawaban putrinya! Biar gak minta nambah anak mulu!" gerutu Dara setelah melihat respon putrinya.
"Memangnya Juna kemana? Aku baru ngeuh kalau tidak ada dia di sini," tanya Anne.
"Masih cari makanan di bawah," jawab Dara.
Suara tangisan Gavin tiba-tiba terdengar di dalam ruangan itu. Secepat mungkin Anne membuka kancing kemejanya untuk memberikan ASI kepada putranya itu. Ia lupa jika ASI nya belum bisa keluar dengan lancar. Alhasil, suara Gavin semakin terdengar kencang.
"Aduh gimana ini!" Anne terlihat bingung saat menghadapi situasi ini.
"Kasih susu formula aja dulu! Itu yang ada di nakas, yang tadi diberikan suster!" ujar Dara seraya menunjuk nakas yang ada di sisi bed Anne. Ia segera mengambil botol susu tersebut.
Susah payah Anne dan Dara menenangkan Gavin. Bayi yang belum genap berusia satu hari itu, terus menggeliat dalam dekapan hangat ibunya. Setelah merasakan susu formula tersebut, suara tangis itu perlahan mulai reda.
"Duh! Kecil-kecil udah bikin orang panik!" gerutu Dara setelah duduk kembali di atas bed yang ditempati Anne.
Om Rudi hanya diam di tempatnya bersama Kiran. Beliau mengamati kedua wanita yang ada di hadapannya itu saat menenangkan Gavin. Beliau tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak mengerti tentang urusan bayi. Lagipula beliau sendiri harus menjaga Kiran agar tidak jatuh dari bed tersebut.
"Ya Tuhan, terima kasih telah memberikan kebahagiaan yang lengkap dalam rumah tangga kami." Om Rudi bergumam dalam hati dengan diiringi tersenyum tipis, setelah mengamati satu persatu anggota keluarganya.
...🌹Selamat membaca 🌹...
__ADS_1
...Onty online, yuk tengok GavinðŸ¤...
...🌹🌹🌹🌹🌹...