Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Hal tak terduga!


__ADS_3

Siluet jingga telah hilang ditelan kegelapan. Sang dewi malam mulai menampakkan diri untuk menghiasi langit gelap tanpa bintang yang bertaburan. Mobil hitam itu perlahan keluar dari gerbang villa tepat di saat penunjuk waktu ada di angka tujuh.


Setelah menghabiskan hari minggu di Villa, om Rudi kembali membawa kedua gadisnya ke Jakarta. Sebenarnya, om Rudi pun masih betah berada di tempat nyaman dan menenangkan itu tapi keadaan memaksanya untuk kembali. Besok pagi beliau ada kegiatan di kantor—RPS.


Anne dan Dara tertidur pulas di tempat masing-masing. Mungkin keduanya lelah setelah bersenang-senang di villa tersebut. Sesekali om Rudi mencuri pandangan lewat spion dalam untuk menatap wajah tenang sang istri yang ada di kursi belakang.


Waktu terus berlalu begitu saja. Setelah melewati perjalanan panjang, pada akhirnya om Rudi berhasil membawa kedua gadis yang sangat beliau sayangi itu sampai di rumah dengan selamat. Mereka bertiga segera masuk ke dalam rumah. Menapaki satu persatu anak tangga hingga sampai di depan kamar masing-masing.


"Good night, An!" Dara melambaikan tangannya sebelum masuk ke dalam kamar. Gadis itu terlihat lunglai dan payah.


"Hmmm!" Anne pun segera membuka pintu kamarnya. Ia mengayun langkah menuju ranjang dan menghempaskan diri di sana.


Rasa lelah telah melanda sekujur tubuh Anne. Ia terlelap tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Rasanya ia tak sanggup lagi berjalan ke kamar mandi karena kakinya terasa berat, seperti menahan beban berpuluh-puluh kilo.


****


Aroma maskulin dan kehangatan tengah dirasakan oleh Anne. Ia semakin mengeratkan guling yang ada di dekapannya. Rasa nyaman menjalar di sekujur tubuhnya karena selimut hangat yang terasa di tubuh.


Anne mengerjap pelan kala merasakan hembusan napas hangat di rambutnya. Mata itu terbelalak saat mendapati dada bidang yang terbalut piyama di depan mata. Perlahan Anne mengurai tubuh, menengadahkan kepala untuk melihat apa yang ada.


"Hah! Sejak kapan ini orang masuk ke kamar?" gumam Anne dalam hati saat melihat wajah yang sedang terlelap itu.


Anne termangu, mengamati wajah itu dari dekat. Wajah dengan hiasan jenggot serta kumis itu ternyata terlihat menawan di saat seperti ini. Anne baru sadar jika suaminya ini memiliki pesona sendiri. Pikirannya mulai berkelana jauh membayangkan sosok itu saat muda dulu.

__ADS_1


Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saja tangan Anne terulur untuk menyentuh rahang kokoh itu. Ia menyentuh jenggot yang tumbuh di rahang tersebut beberapa kali. Tanpa disadari kedua sudut bibir Anne tertarik ke dalam, ia tersenyum tipis saat mengamati wajah tenang sang suami.


Anne segera menjauhkan tangannya saat teringat suatu hal. Ia mengurai tubuh dari dekapan sang suami dan segera turun dari ranjang. Buru-buru Anne mengayun langkah, mencari tas yang kemarin ia pakai ke puncak, di mana ada tespek yang tersimpan di sana.


Setelah mendapatkan alat tampung urin dan tespeknya, Anne bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Ia mengunci kamar mandi itu agar om Rudi tidak bisa menyusulnya. Gugup dan takut, itulah yang dirasakan Anne saat ini. Ia sudah tidak sabar untuk melihat hasil tes tersebut.


"Satu garis?" Anne bergumam dengan mata yang berembun, "Berarti ini negatif? Itu artinya aku tidak hamil benih dari Bagus?" Sekali lagi ia bergumam.


Lagi dan lagi, Anne meneteskan air matanya. Ia bahagia karena terhindar dari masalah yang besar. Segera ia membuang semua peralatan yang sudah terpakai ke dalam tong sampah. Anne segera membasuh wajah dan gosok gigi karena hari terlalu pagi jika mandi saat ini.


Setelah selesai melakukan rutinitas di dalam kamar mandi, Anne segera menarik handel pintu tersebut. Senyum yang sangat manis terlihat jelas di wajah cantik tanpa polesan make up itu. Namun, langkahnya harus terhenti saat melihat om Rudi berdiri dari ranjang king size tersebut. Anne gugup tatkala om Rudi berjalan ke arahnya.


"Bagaimana hasilnya, Sayang? Positif atau negatif?" tanya om Rudi tanpa basa-basi.


Tentu saja, hal itu membuat Anne terkejut bukan main. Irama jantungnya semakin berdetak lebih kencang ketika mendengar pertanyaan itu. Bahkan, bibirnya pun terasa keluh karena ketakutan yang menjalar dalam hati.


"Oh, kamu tidak tahu maksud pertanyaan suamimu ini, Sayang?" tanya om Rudi dengan seringai yang menakutkan, "baiklah, akan om perjelas pertanyaannya." Om Rudi bersedekap dengan pandangan yang tak lepas dari Anne.


Anne hanya bisa menelan ludah saat menatap kilat amarah yang terlihat dari kedua sorot mata tersebut. Anne semakin tercengang kala mendengar pertanyaan yang lolos dari bibir itu.


"Apakah kamu hamil anak mantan kekasihmu yang bernama Bagus itu?"


Deg. Anne hanya menggeleng pelan mendengar pertanyaan itu. Ia mulai bingung, berbagai pertanyaan mulai hadir dalam pikirannya. Bagaimana bisa om Rudi tahu tentang Bagus.

__ADS_1


"Kamu pasti bingung 'kan? Bagaimana bisa aku tahu nama pria yang masuk hotel Santika bersamamu kala itu?" Om Rudi mulai melangkah hingga membuat Anne reflek mundur sampai tubuhnya tertahan dinding samping kamar mandi.


"Katakan padaku dengan jujur! Apakah kegiatanmu malam itu membuahkan hasil di rahimmu?" Kali ini om Rudi bertanya dengan kata-kata yang kasar kepada Anne.


Anne hanya menggelengkan kepala sebagai jawabannya. Ia semakin bingung dari mana asalnya om Rudi bisa tahu dengan jelas jika dirinya pernah menghabiskan malam bersama Bagus.


"Saya ... saya tidak hamil! Hasil tesnya negatif!" jawab Anne dengan lugas.


"Apakah aku perlu menyingkirkan pria manis itu dari kota ini agar kamu bisa menjadi milikku seutuhnya?" tanya om Rudi dengan tatapan tajamnya. Beliau mengukung tubuh Anne di dinding tersebut.


"Jangan! Jangan sentuh dia! Bagus tidak bersalah!" jawab Anne tanpa berpikir panjang. Tentu saja, ia tidak rela siapapun menyentuh Bagus dan keluarganya.


"Jadi, selama ini Om menguntit semua yang saya lakukan?" tanya Anne tanpa melepaskan pandangan dari om Rudi.


Tentu saja, pertanyaan itu membuat om Rudi tergelak. Beliau menertawakan istrinya yang polos itu. Namun, tawa itu mendadak berhenti seiring dengan sorot mata yang berubah menakutkan itu.


"Jangan menguji kesabaranku, Anne! Jangan sampai kamu tahu bagaimana jika aku sudah marah kepada seseorang! Kamu pikir aku tidak bisa tegas melihat sikapmu, hmmm! Aku bisa melakukan apapun yang tidak pernah kamu duga sebelumnya!" ancam om Rudi dengan mata yang terbelalak sempurna.


"Sekarang pilihannya ada di tanganmu, Anne ku Sayang!" ujar om Rudi dengan diiringi senyum smirk.


Setelah berhasil mengancam sang istri, om Rudi segera keluar dari kamar tersebut. Meninggalkan Anne yang duduk bersandar di lantai kamar. Bulir air mata kembali menggenang saat ancaman om Rudi terngiang dalam indera pendengarannya.


"Tidak! Aku tidak mungkin membuat Bagus terluka!" Anne menggeleng pelan, ia meremas bagian samping pakaiannya karena sejuta rasa yang menyelimuti jiwa.

__ADS_1


...🌹Selamat Membaca 🌹...


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2