
"Bagaimana, Pras?" tanya om Rudi setelah Pras duduk di kursi yang ada di sebrang meja.
Pras menyerahkan data-data yang sudah ia peroleh selama beberapa minggu ini. Data pria bernama Roy sudah terkumpul di dalam map tersebut. Pras selalu mengerjakan tugasnya dengan baik.
"Dia adalah putra Sanjana yang ditugaskan di perusahaan pamannya sendiri. Beberapa kali Roy mengacaukan proyek yang sedang berjalan dengan mempengaruhi warga yang ada di sekitar proyek. Permainannya sangat halus dan licin, banyak kontraktor yang sudah dikelabuhi dia." Pras menjelaskan beberapa poin penting yang sudah ia peroleh.
"Menurut yang saya amati, sepertinya Roy mengincar proyek besar yang sedang ditangani Nyonya muda. Dia sudah mendapatkan informasi jika Nyonya muda adalah istri bapak, dia sedang mencari celah untuk menyiapkan perangkap untuk menggagalkan proyek tersebut. Roy sudah bekerja sama dengan pamannya untuk meraup keuntungan yang lebih besar, Pak," ucap Pras tanpa melepaskan pandangannya dari wajah om Rudi.
Satu persatu foto yang ada di dalam map tersebut telah diteliti om Rudi. Beliau pun membaca CV pria bernama Roy itu, ada rasa khawatir yang merasuk dalam diri saat kiprah sang istri mulai terancam.
"Biarkan semua berjalan seperti biasanya. Saya ingin tahu seberapa cerdik Anne dalam bekerja. Tetap awasi dia, bergeraklah jika Roy sudah berlebihan atau sampai menyentuh Anne!" titah om Rudi setelah menutup map tersebut. Ia menyerahkan map itu kepada Pras.
Kedua pria hebat itu sedang membahas masalah kerugian yang disebabkan oleh Roy. Mereka berdua sedang menyusun rencana untuk berjaga-jaga, jika suatu saat nanti sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
"Saya pamit kembali ke ruangan, Pak," ucap Pras sebelum beranjak dari tempatnya.
Pras segera berlalu setelah om Rudi menganggukkan kepalanya. Ia menghentikan langkah setelah berada di dekat pintu karena tiba-tiba saja pintu itu terbuka lebar dan muncullah Anne dengan membawa laptop.
"Permisi, Pak," ucap Anne sebelum berlalu dari hadapan Pras.
Pras mengembangkan senyum tipis tatkala tatapan matanya beradu pandang dengan Anne. Ia bergegas pergi dari ruangan ini karena masih banyak tugas yang menanti di meja kerjanya. Hari ini Pras akan mencari informasi lebih jauh tentang putra Sanjana yang tak lain adalah pesaing bisnis perusahaan ini.
"Nyonya makin lama makin pintar dan cantik juga," gumam Pras setelah sampai di ruang kerjanya.
Layar laptop tersebut kembali terang setelah Pras menekan salah satu tombol keyboard. Ia sedang menelusuri data pria yang bernama Roy dan mengecek isi berkas proyek pariwisata yang sedang ditangani oleh Anne.
"Apa nyonya tidak salah hitung ya jumlah anggarannya? Sepertinya ada yang janggal," gumam Pras setelah menemukan data yang kurang akurat.
__ADS_1
...♦️♦️♦️♦️...
"Hari ini ada tamu dari Surabaya. Mungkin, nanti mereka akan berbicara mengenai kerja sama pembangunan perumahan elit di sana." Anne membacakan schedule terakhir sang suami untuk hari ini.
"Oke, nanti biar Risa yang menyambut tamu tersebut," jawab om Rudi seraya meraih gagang telepon untuk menghubungi Risa.
Setelah membahas schedule, Anne kembali membahas perihal pekerjaan yang sedang ditangani olehnya. Om Rudi mendengarkan setiap penjelasan tersebut tanpa melepaskan pandangan dari wajah sang isti.
"Bagaimana? Apa Papi setuju?" tanya Anne setelah mengakhiri laporan pekerjaannya.
"Apapun yang kamu putuskan Papi setuju," jawab om Rudi tanpa berpikir panjang.
"Yes!" Anne bersorak dalam hati setelah mendengarkan keputusan sang suami.
Sepasang suami istri itu pada akhirnya kembali membahas beberapa proposal yang masuk. Anne mempelajari semua proposal itu dengan bantuan dan arahan om Rudi langsung. Ia mempelajari setiap perencanaan yang disusun oleh om Rudi agar berhasil dan tidak gagal. Memiliki suami pebisnis merupakan anugerah bagi Anne, karena ia tidak perlu mengabdi di perusahaan lain agar mendapatkan pencapaiannya saat ini.
Hari ini sepasang suami istri itu berangkat naik mobil masing-masing karena tadi pagi Anne harus berangkat lebih awal. Sementara suaminya itu berangkat lebih siang dari biasanya karena harus bertemu dengan seseorang.
"Jangan pulang malam!" ujar om Rudi tanpa senyum manis yang menghiasi.
****
Detik demi detik terus berlalu membawa semua insan pada persimpangan waktu. Jam pulang kantor telah tiba, semua karyawan berhamburan keluar dari gedung raksasa ini. Saat yang ditunggu semua karyawan di sini pada akhirnya datang, membuat mereka tersenyum manis.
Anne buru-buru masuk ke dalam mobilnya, ia harus segera sampai di salah satu mall yang tak jauh dari perusahaan ini. Ia harus melawan macet di jalanan kota di jam sore seperti saat ini.
Setelah menempuh waktu selama tiga puluh menit, pada akhirnya Anne sampai di tempat tujuan. Ia segera masuk ke dalam gedung raksasa itu untuk membeli kebutuhan make-upnya. Anne mempercepat langkah karena setelah ini ada janji dengan seseorang di salah satu restoran yang menyediakan ruang tertutup di mall ini.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Anne setelah selesai bertransaksi dengan kasir.
Langkah demi langkah telah Anne lalui. Kini, ia sampai di tempat tersebut. Segera Anne masuk ke dalam ruang vip yang sudah dipesan. Ia memesan makanan terlebih dahulu sambil menunggu kedatangan seseorang itu.
"Masih kurang lima belas menit dari waktu yang dijanjikan," gumam Anne setelah melihat penunjuk waktu yang ada di pergelangan tangannya.
Anne membuka layar ponselnya untuk memastikan jika tidak ada pesan yang masuk. Ia terlihat resah karena sosok yang akan bertemu dengannya tak kunjung tiba. Namun, tidak lama setelah itu, sosok itu pada akhirnya masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Silahkan duduk, Pak Pras," ucap Anne setelah Pras berdiri di dekat salah satu kursi yang ada di seberang meja.
Ini adalah untuk yang pertama kalinya bagi Pras, bertemu berdua dengan istri bosnya. Ada rasa canggung yang merayap dalam diri pria tiga puluh tujuh tahun itu. Ia menatap Anne setelah keadaan mulai bersahabat.
"Tidak ada yang mengintai dan melaporkan pertemuan kita 'kan?' tanya Anne sebelum mulai membahas masalah penting dengan Pras.
"Semua kendali ada pada saya, Nyonya. Silahkan Nyonya menyampaikan tujuan Nyonya meminta bertemu dengan saya di belakang pak Rudi," ucap Pras tanpa basa-basi.
Anne tersenyum tipis mendengar penuturan dari asisten suaminya itu. Ia mengeluarkan map merah dari tasnya, lantas ia menyerahkan map tersebut kepada Pras.
"Saya ingin membahas proyek ini," ucap Anne singkat.
Pras membuka map tersebut. Ia membaca beberapa lembar kertas yang tersusun di dalam map tersebut. Anne termenung selama menunggu Pras saat mempelajari berkas tersebut.
"Saya ingin memberi kejutan untuk Papi dengan proyek ini. Jadi, saya butuh bantuan Pak Pras," ucap Anne setelah Pras menutup map tersebut, "bagaimana? Apakah Pak Pras bersedia bekerja sama dengan saya tanpa sepengetahuan Papi?" tanya Anne seraya menatap Pras penuh arti.
...🌹Selamat membaca🌹...
...Tenang, harap tenang! Jangan gusar melihat situasi ini😍 Ini hanya jembatan untuk surprise papi kok😁...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...