Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Sate Ayam!


__ADS_3

"Kamu yakin tidak mau bertemu dengan Roy?" tanya om Rudi setelah selesai berkemas.


Hari ini Anne diperbolehkan pulang setelah tiga hari dirawat di rumah sakit ini. Kondisi tubuh dan kandungannya dinyatakan sehat dan tidak ada keadaan yang mengkhawatirkan.


"Tidak, Pi! Saya tidak mau menemui dia lagi! Papi pun gak usah menemui dia! Biarkan hukum yang berjalan," ucap Anne tanpa menatap suami. Ia sibuk memoles wajahnya dengan peralatan make-up.


"Tapi Papi harus ...." Om Rudi menghentikan ucapannya saat Anne menginterupsi.


"Gak usah menemui Roy, Pi! Gak usah melakukan apapun! Pokoknya Papi gak boleh bertemu dengan dia!" ujarnya seraya meletakkan pensil alisnya di atas bed pasien.


Om Rudi menghela napasnya setelah mendengar ucapan sang istri. Jelas ucapannya tidak bisa dibantah lagi jika suaranya sudah meninggi seperti saat ini. Mau tidak mau beliau harus mengikuti keinginan itu sebelum terjadi perdebatan panjang.


"Baiklah, Papi tidak akan menemui dia," ucap om Rudi setelah berdiri di hadapan Anne, "mari kita pulang!" ujar om Rudi setelah melihat Anne selesai memoles wajahnya.


Hari ini Anne akan kembali ke rumah megah itu sebagai nyonya baskoro yang sesungguhnya. Hari ini ia mulai menata hidup yang baru di rumah megah itu. Hidup berselimut cinta dari sang suami. Ia pun sudah siap menjadi ibu rumah tangga yang sesungguhnya.


"Mari, Pi!" ujar Anne setelah beranjak dari bed pasien. Ia mulai berjalan beriringan dengan om Rudi keluar dari ruangan ini.


Anne bergelayut mesra di lengan sang suami. Sudah lama ia tidak bersikap seperti ini. Masa bodoh meski banyak pasang mata yang menatap ke arahnya. Anne melepaskan tautan tangannya ketika sampai di sisi mobil sang suami.


"Papi bawa mobil sendiri?" tanya Anne setelah om Rudi membukakan pintu mobil untuknya.


"Tentu, karena Papi ingin menikmati waktu berdua dengan kamu," ucap om Rudi sebelum menutup pintu mobil.


Senyum manis bermekar indah bagai bunga di pagi hari. Perjalanan panjang membelah jalanan padat telah dimulai. Gelak tawa sepasang suami istri itu mengiringi perjalanan menuju tempat tinggal om Rudi.

__ADS_1


"Papi, kita mau kemana?" tanya Anne setelah melihat om Rudi mengarahkan setir mobilnya ke arah lain.


"Nanti kamu pasti tahu, Sayang," ucap om Rudi tanpa mengalihkan pandangannya. Beliau fokus dengan laju kendaraan mobilnya.


Anne mencoba menerka kemana kiranya sang suami membawanya pergi. Kawasan ini cukup jauh dari tempat tinggalnya. Rasa penasaran semakin membuatnya tidak sabar untuk cepat sampai ke tempat tujuan sang suami.


"Papi! Ngapain kita ke makam ini?" tanya Anne setelah mobil yang dikendarai om Rudi sampai di area pemakaman umum.


"Ayo keluar, Sayang!" ucap Om Rudi setelah melepas sabuk pengamannya.


Mau tidak mau, Anne harus keluar dari mobil untuk menjawab rasa penasarannya. Ia mengikuti langkah sang suami memasuki makam umum yang banyak ditumbuhi pepohonan rindang. Anne bergidik ngeri karena situasi di dalam makam ini. Apalagi, saat ini matahari mulai bergerak ke arah barat.


"Kita mau ngapain, Pi?" bisik Anne setelah mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.


"Papi ingin menunjukkan sesuatu kepadamu," ucap om Rudi tanpa melepaskan pandangan dari empat makam yang ditumbuhi rumput liar.


Anne tertegun setelah mendengar penjelasan itu. Ia menatap nisan bertuliskan Joko Soedrajat. Ia tidak percaya jika saudara ayahnya sudah meninggal bersama anak dan istrinya.


"Pamanmu meninggal karena kecelakaan. Mobilnya masuk jurang saat mereka liburan keluarga ke puncak. Nasib naas dialami semua keluarga itu, mereka meninggal di tempat," ucap om Rudi seraya menatap batu nisan yang ada di hadapannya.


"Untuk harta kekayaannya Papi tidak tahu, karena Papi tidak memperdulikan hal itu. Kemungkinan harta rampasan dari ayahmu jatuh ke orang lain yang dekat dengan Joko. Jika kamu mau, Papi akan menyuruh Pras untuk menyelidiki semua ini," ucap om Rudi seraya mengalihkan pandangan ke samping.


Tidak ada jawaban apapun yang lolos dari bibir Anne. Ia hanya mengamati nama yang tertulis di setiap nisan yang ada di sana. Ia tidak menyangka jika orang yang seharusnya menerima hukuman atas pembunuhan ayahnya telah pergi untuk selamanya. Bahkan, pak Joko membawa semua keluarganya.


"Saya tidak mau mempermasalahkan harta orang tua saya, Pi. Saya hanya ingin hidup tenang bersama Papi," jawab Anne tanpa mengalihkan pandangannya dari batu nisan pamannya.

__ADS_1


Mendengar hal itu membuat om Rudi tersenyum tipis. Beliau bisa bernapas lega karena sang istri benar-benar menerima semua kejadian di masa lalu. Mungkin sudah saatnya bahtera rumah tangga ini berjalan lancar dengan iringan cinta dan kasih.


"Baiklah jika keputusanmu seperti itu. Sekarang mari kita pulang," ajak om Rudi seraya meraih telapak tangan sang istri.


Anne berjalan beriringan dengan sang suami menuju pintu keluar. Tubuhnya meremang ketika berada di dalam area makam. Tangan kirinya tak henti mengusap perutnya yang masih rata. Entah apa kiranya yang sedang dilakukan oleh Anne.


"Kita langsung pulang atau kamu mau makan dulu di luar?" tanya om Rudi setelah masuk ke dalam mobil. Beliau mulai mengarahkan mobilnya untuk menjauh dari pemakaman umum tersebut.


"Makan dulu, Pi! Saya lapar," ucap Anne seraya menatap om Rudi sekilas, "saya pengen makan sate ayam di pinggir jalan!" ujar Anne seraya mengembangkan senyumnya ke arah om Rudi.


"Papi gak salah dengar?" Om Rudi memastikan permintaan sang istri.


"Tidak! Saya ingin makan sate ayam di pinggir jalan yang ada tulisannya 'sate ayam madura'!" Anne tetap keukeh dengan pendiriannya.


Om Rudi tertegun mendengar permintaan sang istri. Beliau pun harus mencari pedagang sate ayam yang dimaksud oleh Anne, "Apakah ini bisa disebut ngidam?" tanya om Rudi setelah beberapa menit terdiam.


"Anggap saja begitu, Pi!" jawab Anne tanpa berpikir panjang. Sore ini ia harus mendapatkan sate tersebut bagaimanapun caranya.


Om Rudi mulai mengarahkan mobilnya ke arah pasar, karena mungkin saja di sana bisa menemukan warung sate seperti yang diinginkan sang istri. Namun, tidak ada satu pun pedagang sate ayam yang cocok dengan sang istri hanya karena satu alasan—tidak ada tulisan 'sate ayam madura'.


Siluet jingga telah pudar dari cakrawala. Langit mulai gelap setelah sang raja sinar kembali ke tempatnya. Om Rudi terlihat frustasi karena belum menemukan warung sate ayam madura. Entah, beliau harus kemana lagi, karena Anne terus menggerutu di dalam mobil. Om Rudi mulai berpikir keras, bagaimana caranya bisa mendapatkan makanan sesuai yang diinginkan oleh sang istri.


"Bagaimana kalau kita pergi ke Jawa timur saja biar kamu bisa makan sate ayam madura sepuasnya?" tanya om Rudi setelah menghentikan mobil di depan swalayan.


...🌹Selamat membaca 🌹...

__ADS_1


...Hmmmm! Mulai nih bumil!!...


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2