Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Mendadak berubah,


__ADS_3

"Tumben makannya cepet!" tanya Dara setelah Anne menyelesaikan sarapannya.


Anne tak segera menjawab pertanyaan Dara, ia meraih gelas yang ada di sisi kanan piringnya dan segera meneguk minuman tersebut sampai tandas. Tak lupa Anne mengusap ujung bibirnya dengan tissu agar tidak ada sisa makanan yang mungkin tertinggal di sana.


"Lidahku gak cocok sama masakan ini, aku kurang suka," jawab Anne dengan suara yang lirih.


"Harusnya kemarin kamu bawa bekal aja dari Indonesia," gumam Dara seraya menatap Anne.


Anne berdecak mendengar hal itu, sebuah ejekan untuk dirinya dari Dara. Sementara itu, om Rudi hanya diam sambil menyimak obrolan anak dan istrinya tersebut. Beliau bahkan tetap fokus menikmati makanannya saat ini.


Beberapa puluh menit kemudian, Akhirnya, sarapan telah usai. Mereka bergegas keluar dari restoran menuju lobby hotel untuk bertemu dengan tour guide yang sudah menunggu di sana. Pagi ini mereka bertiga akan menuju kuil Meiji Jingu Shrine, destinasi yang biasa dikunjungi oleh tourist jika liburan ke Jepang.


"Tadi malam kamu kemana, sih, An?" tanya Dara setelah berada dalam mobil. Dara baru ingat jika belum mengintrogasi Anne tentang keberadaannya tadi malam.


Mobil hitam yang membawa ketiga keluarga Baskoro itu akhirnya membelah jalanan menuju destinasi yang dituju. Anne tak segera menjawab pertanyaan dari Dara karena masih asyik menikmati keindahan kota Tokyo.


"An!" ujar Dara seraya menepuk paha Anne.


"Hmmmm ... ada apa?" Anne menoleh ke samping.


"Tadi malam kamu kemana?" Sekali lagi, Dara mengulang pertanyaannya.


"Oh, tadi malam aku tidur, Dar! Aku capek banget!" jawab Anne dengan pandangan yang tak lepas dari Dara. Jujur saja ia tetap gugup meski sudah beberapa kali membohongi Dara.


"Aku pikir kamu keluar dari hotel!" gumam Dara, "Tadi malam aku tuh sampai telfon Papi karena khawatir kamu hilang." Dara tersenyum tipis setelah mengatakan hal itu.


"Mana berani aku keluar hotel sendirian, Dar!" sergah Anne seraya mengalihkan pandangan ke arah lain.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan panjang, pada akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Kedua wanita cantik itu segera keluar dari mobil karena tidak sabar untuk menjelajah tempat yang terlihat sejuk itu.


Mereka bertiga beberapa kali berfoto bersama saat ada view yang bagus. Kuil tersebut tidak terlalu ramai karena saat ini bukanlah weekend, jadi, tidak banyak yang mengunjungi tempat ini.


"Pi, Dara mau ke toilet sebentar," pamit Dara karena tidak bisa lagi menahan alarm alam yang ada dalam dirinya.


"Baiklah, Papi tunggu di sini!" jawab om Rudi.


"Apa perlu aku antar?" tanya Anne,


"Gak perlu! Aku bisa sendiri, An! Kamu lanjut aja!" ujar Anne sebelum berlalu dari tempatnya berada saat ini.


Sebenarnya, Om Rudi sendiri tidak suka menghabiskan waktu dengan jalan-jalan seperti ini. Apa yang beliau lakukan saat ini, hanya untuk membuat Anne dan Dara bahagia.


"Sayang, mumpung Dara ke toilet, kita foto berdua yuk!" ucap om Rudi setelah melihat Dara hilang dari pandangan.


Om Rudi segera mengeluarkan ponselnya, beliau berselfi mesra dengan sang istri. Mereka tidak mau menyianyiakan waktu berharga ini berlalu begitu saja. Beberapa pose mesra pun telah memenuhi galeri ponsel om Rudi.


Setelah menghabiskan waktu selama beberapa menit di toilet, pada akhirnya, Dara keluar dari area tersebut. Ia harus kembali ke tempat Anne dan om Rudi menunggunya saat ini. Namun, langkahnya harus terhenti ketika melihat hal yang membuat irama jantungnya berdegup kencang. Ia tertegun melihat ayahnya menggenggam tangan Anne dengan mesra.


"Kenapa mereka terlihat mesra seperti itu?" gumam Dara saat melangkahkan kaki mendekat ke tempat ayahnya berada saat ini.


"Ehem!" Dara berdehem di balik tubuh ayahnya.


"Eh!" Anne segera melepaskan tautan tangannya dengan om Rudi, ia segera membalikkan tubuh untuk melihat pemilik suara yang ada di belakangnya, "kamu sudah selesai, Dar?" tanya Anne dengan sikap yang aneh, ia terlihat salah tingkah saat melihat tatapan Dara yang berbeda.


"Udah!" Dara terlihat dingin saat menjawab pertanyaan dari Anne, "oh ya, Pi! Lebih baik kita langsung pulang saja ya, kita langsung ke tempat tinggal Dara nanti," ucap Dara seraya mengalihkan pandangan untuk menatap ayahnya.

__ADS_1


"Loh kenapa buru-buru?" Om Rudi mengernyitkan keningnya mendengar rencana putrinya yang mendadak berubah, "Bukankah kita masih ada rencana liburan sampai besok?" tanya om Rudi.


"Tadi Dara dapat e-mail dari pihak kampus, agar secepatnya datang ke sana untuk mengurus beberapa berkas. Jadi, kita harus segera kembali," ucap Dara dengan yakin, ia sengaja melakukan hal ini karena moodnya mendadak hancur karena melihat pemandangan yang merusak mata.


Mendengar penjelasan Dara yang kurang masuk akal, membuat Anne menjadi gugup. Ia mencoba menerka apa kiranya yang membuat sahabatnya itu berubah, mulai dari sikap sampai ekspresi wajah yang terlihat murung.


"Ya Tuhan, apa dia tahu apa yang baru saja aku lakukan dengan ayahnya," gumam Anne dalam hati. Ia mencoba mengalihkan pikirannya ke arah lain agar tidak terlihat gugup di depan Dara.


Pada akhirnya, semua segera keluar dari kuil tersebut, karena Dara tetep keukeh ingin segera pergi ke tempat tinggalnya nanti. Mobil hitam itu pun akhirnya melenggang dari kuil menuju hotel untuk mengambil barang-barang.


Keheningan terasa dalam mobil hitam itu. Bahkan, Dara tidak mau menatap Anne sama sekali. Pandangannya fokus ke luar jendela untuk melihat pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang di sepanjang jalan yang dilalui. Sedangkan Anne, beberapa kali mengamati gadis yang ada di sebelahnya itu. Anne semakin takut melihat sikap Dara saat ini karena di sepanjang perjalanan hubungan mereka, baru kali ini, Dara bersikap dingin kepadanya.


"Kira-kira masalah apa yang membuat Dara menjadi seperti ini? Mungkinkah dia mengetahui sesuatu yang sudah aku lakukan selama ini? Ya Tuhan ... Hamba harus bagaimana?" Anne hanya bisa bermonolog dalam hati.


Setelah beberapa waktu membelah jalanan kota Tokyo, pada akhirnya mobil hitam itu sampai di Hotel. Tanpa mengucap sepatah katapun, Dara keluar begitu saja dari mobil tersebut. Ia meninggalkan Anne dan ayahnya di dalam mobil. Sungguh, sikapnya begitu mengusik hati dan pikiran Anne saat ini.


"Jujur saja, saya sangat takut!" ucap Anne dengan suara yang lirih saat berjalan berdampingan dengan om Rudi di lobby hotel.


Om Rudi hanya diam sampai mereka masuk ke dalam lift. Pria matang itu segera menekan angka sepuluh yang ada di samping pintu yang sudah tertutup rapat itu. Anne semakin resah tatkala melihat sang suami masih diam dengan segala pikiran yang berkecamuk.


"Tetaplah tenang! Kita akan menghadapi semuanya bersama. Biarkan semua berjalan seperti biasanya, karena belum saatnya Dara mengetahui semua ini. Saya tidak mau pendidikan pasca sarjana nya terganggu gara-gara masalah ini," ucap om Rudi seraya menggenggam tangan Anne. Beliau hanya ingin memberikan kekuatan untuk istrinya dalam menghadapi situasi yang terjadi saat ini.


...🌷Selamat membaca 🌷...


...Harap sabar ya, Besti. Gak lama lagi hubungan mereka akan terbongkar🤭tetapi beberapa bab lagi ya, karena othor masih membuatkan jalan agar boomnya tidak salah sasaran😝...


...🌹🌹🌹🌹🌹...

__ADS_1


__ADS_2