Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Bujuk rayu!


__ADS_3

Senja telah hadir tuk menemani sang surya kembali ke peraduan. Bola besar berwarna jingga terlihat jelas di balik jendela kaca yang dibiarkan terbuka tanpa kelambu. Sinar jingga itu berhasil mengusik tidur nyenyak wanita yang masih bergelung di bawah selimut tebal.


"Jam berapa ini?" Anne bergumam setelah menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam kamar.


"Langit sebentar lagi gelap, Sayang!" Suara bariton itu terdengar di atas kepala Anne, "apa tubuhmu masih lelah?" tanya om Rudi seraya menggeser lengannya yang kebas karena sejak tadi menjadi bantal sang istri.


Dering ponsel di atas bantal membuat Anne membuka kelopak matanya. Ia mengambil ponsel tersebut dan melihat siapa kiranya yang menghubungi. Seketika mata indah itu terbelalak saat melihat nama Dara ada di layar ponsel yang menyala.


Anne memberikan isyarat agar om Rudi diam sebelum menggeser icon hijau di layar ponselnya, "Ada apa, Dar?" tanya Anne saat panggilan itu terhubung.


"Aku lagi di kamar mandi, gak usah video call dulu!" tolak Anne seraya menatap om Rudi, "bagaimana keadaan Juna?"


"...."


"Ah, syukurlah! Semoga dia cepat pulih! Sampaikan salamku untuk dia," ucap Anne seraya membekap mulut om Rudi karena suaminya itu mencoba untuk mengacaukan keadaan, "nanti aku telfon lagi, aku masih berendam!" ucap Anne sebelum memutuskan sambungan telfonnya.


"Iih! Resek banget sih!" Anne geram melihat suaminya itu.


Om Rudi membuang napas dalam setelah melihat wajah muram sang istri. Beliau sebenarnya resah dengan keadaan ini—melihat putrinya bebas di luar sana bersama pria dengan cara berbohong. Sungguh, ingin sekali beliau menghukum putri semata wayangnya itu.


"Saya harap Om tidak menghukum Dara," ucap Anne hingga membuat om Rudi mengalihkan pandangan ke arahnya.


"Lalu Om harus bagaimana, An? Apakah Om harus diam saja dan membiarkan Dara terus-terusan menemui pria itu? Bagaimana kalau terjadi apa-apa yang tidak diinginkan?" Om Rudi terlihat gusar saat mengatakan kekhawatirannya.


"Juna bukan tipe pria brengsek seperti itu! Saya sudah mengenal dia dan saya pun tahu bagaimana dia memperlakukan Dara!" ungkap Anne dengan pandangan yang tak lepas dari wajah sang suami.


"Tolong, biarkan Dara bahagia bersama Juna, Om! Selama ini tidak ada pria yang mencintai Dara setulus Juna, dia pria yang baik!" Anne berusaha untuk meyakinkan om Rudi agar tidak bertindak yang macam-macam.

__ADS_1


"Kenapa kamu membela pria itu? Kenapa kamu selalu mendukung Dara saat membohongiku?" tanya Om Rudi.


Anne menarik selimut tersebut agar menutupi sebagian tubuhnya saat duduk bersandar di ranjang. Tatapannya beralih ke depan, menyaksikan bola jingga yang hampir tenggelam itu.


"Karena hanya ini yang bisa saya lakukan sebagai bentuk rasa sayang saya kepada Dara. Saya hanya ingin Dara mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya. Saya terlalu takut Dara sakit hati saat mengetahui kejahatan yang kita lakukan di belakangnya!" keluh Anne seraya mengalihkan pandangan ke samping.


Om Rudi tertegun mendengar jawaban sang istri. Beliau belum tahu kemana arah pembicaraan ini, "Hubungan yang kita jalani bukan sebuah kejahatan, An! Hubungan kita adalah pernikahan yang sah di mata hukum dan agama, lalu kenapa kamu menyebut hubungan ini sebagai kejahatan?" kilah om Rudi seraya menatap wajah sang istri.


"Karena pernikahan ini tanpa sepengatahuan Dara! Coba Om bayangkan bagaimana Dara nanti saat mengetahui hubungan kita? Apa Om sudah siap melihat kemarahan Dara kerena kita sudah menyembunyikan pernikahan ini?" Anne semakin Gusar saat membayangkan kemarahan putri semata wayang suaminya itu.


Om Rudi berusaha mencerna jawaban panjang yang diucapkan oleh sang istri. Beliau pun mengalihkan pandangan ke depan untuk menatap langit yang berubah redup. Berusaha mencari jalan yang terbaik untuk permasalahan ini.


"Om ... Dara itu sudah dewasa, berikan dia kebebasan untuk menentukan pilihan hatinya! Dara bukanlah gadis yang mudah jatuh cinta, Om." Anne merapatkan tubuhnya dengan om Rudi.


Melihat sang suami yang masih bungkam, Anne menyandarkan kepalanya di lengan itu. Ia mengeratkan pelukannya agar api yang berkobar dalam diri sang suami segera mereda.


"Jangan terlalu mengikuti emosi, Om. Saya harap Om mempertimbangkan saran dari saya," ucap Anne dengan suara yang lirih.


"Baiklah! Om akan mempertimbangkan saran dari kamu tapi setelah Om tahu seberapa hebat kamu menjadi joki petang ini!" ucap om Rudi dengan tatapan penuh arti.


"Ihh!" Anne mencubit lengan tersebut setelah paham maksud dari permintaan om Rudi.


Pada akhirnya pergulatan panas kembali terjadi di medan perang. Kali ini sang ratu yang menjadi pemimpin perang karena sang raja ingin tahu seberapa berkuasa sang ratu dalam berperang.


****


Detik demi detik terus berlalu. Setelah menghabiskan hari di dalam kamar untuk menikmati malam pertama, kini, sepasang suami istri itu dalam perjalanan mencari restoran yang cocok untuk makan malam bersama.

__ADS_1


"Kamu yakin ingin makan malam di sini?" tanya om Rudi setelah menghentikan mobilnya di area parkir salah satu pusat perbelanjaan.


"Yakin lah! Saya ingin makan masakan jepang di sini dan lagi pula tempat ini jauh dari jangkauan orang-orang rumah," ucap Anne sebelum membuka pintu mobil.


Sepasang suami istri itu bergegas mengayun langkah menuju pintu masuk pusat perbelanjaan, restoran jepang yang menjadi tujuan Anne kali ini. Sepanjang jalan menuju restoran yang ada di lantai lima pusat perbelanjaan itu, banyak mata yang memandang ke arah suami istri itu. Awalnya Anne sedikit risih tapi ia mencoba tak menghiraukan penilaian orang lain terhadapnya.


"Anne!"


Sang pemilik nama segera menghentikan langkah kala suara familiar itu memanggil namanya. Perlahan ia mulai menoleh ke belakang untuk memastikan siapa yang menyapanya itu.


"Bagus!" Anne terkejut bukan main saat melihat wajah manis yang tampak kacau itu.


Anne membalikkan tubuhnya agar bisa menghadap mantan kekasihnya itu. Sementara tangannya masih digenggam oleh om Rudi yang masih termenung di tempatnya.


"Berikan saya waktu dua menit untuk bicara sebentar saja dengan dia, Om," bisik Anne kepada om Rudi setelah melihat tatapan penuh harap dari sang mantan.


"Dua menit dimulai dari sekarang!" ujar om Rudi seraya melepaskan genggaman tangannya.


Anne maju beberapa langkah agar bisa lebih dekat dengan sosok yang namanya masih tersimpan di sudut hati. Anne sedih melihat kondisi Bagus saat ini, jauh berbeda saat bersamanya dulu.


"Apakah itu suamimu, An?" tanya Bagus seraya menatap wajah cantik Anne.


"Iya, dia suamiku," jawab Anne tanpa berani menatap manik hitam sang mantan.


Suasana kembali membeku karena keduanya hanya diam. Anne terlihat resah karena situasi yang ia hadapi saat ini. Bahkan, untuk menegakkan kepala saja, rasanya ia tidak sanggup. Beberapa detik kemudian, Anne memberanikan diri untuk menatap wajah sang mantan.


"Aku harap kabarmu baik-baik saja, Gus!" ucap Anne, "Tolong, jangan mendekat lagi ke arahku karena sangat berbahaya untukmu! Aku harap kamu bisa hidup tenang tanpa memikirkan aku lagi. Maafkan karena aku sudah membuatmu terluka. Selamat malam!" ucap Anne sebelum meninggalkan Bagus yang masih termenung di tempatnya.

__ADS_1


...🌹 Selamat membaca🌹...


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2