
Seperti biasa, sepasang suami istri itu sedang makan siang bersama. Sesekali tatapan keduanya bersirobok. Rasanya om Rudi semakin tidak sabar untuk menerkam Anne saat ini juga. Namun, sekuat tenaga om Rudi menekan gairahnya agar tidak terburu-buru melakukan hal itu.
"Om sudah selesai, An! Om mandi dulu!" ucap om Rudi setelah meletakkan sendok dan garpunya di piring yang sudah tidak berpenghuni.
"Yang bersih dan wangi ya, Om!" gumam Anne seraya menatap om Rudi dengan tatapan genit.
Hanya senyum tipis yang menjadi jawaban om Rudi. Pria hampir setengah abad itu berlalu dari ruang makan menuju kamar utama. Sedangkan Anne masih menikmati makan siangnya yang belum usai. Ia mulai merancang rencana, bagaimana nanti bisa membuat om Rudi bahagia dan bisa mengerti saat membahas masalah Dara.
Beberapa menit kemudian, Anne telah menyelesaikan makan siang. Ia mengayun langkah menuju kamar mandi di dekat dapur untuk gosok gigi dan mencuci tangan. Menatap diri di pantulan cermin untuk meyakinkan bahwa dirinya bisa melewati semua ini.
Setelah selesai di kamar mandi, Anne mengayun langkah menuju kamar utama. Suasana di dalam sana sepi karena om Rudi masih berada di dalam kamar mandi. Anne tidak tahu harus bagaimana saat ini. Ia mondar-mandir di sisi ranjang sambil menggigit jari telunjuknya, ia terlihat salah tingkah karena dilanda rasa gugup.
Anne duduk begitu saja di tepi ranjang kala mendengar handle pintu yang ditarik dari dalam kamar mandi. Mata indahnya beralih menatap sosok yang baru saja keluar dari kamar mandi. Sejenak, Anne terpaku karena terpesona melihat pemandangan yang ada di sana. Tubuh itu hanya terbalut handuk putih yang melilit di pinggul. Bulir air yang masih membasahi wajah semakin membuat Anne kagum akan keindahan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Dada yang ditumbuhi bulu tipis membuat tubuh Anne meremang. Ia membayangkan bagaimana rasanya jika bulu itu bersentuhan dengan kulitnya. Om Rudi tersenyum tipis saat menyadari jika sang istri tengah mengamatinya.
"Sekar! Putrimu menjadi milikku sepenuhnya!" ujar om Rudi dalam hati.
Anne berdiri dari tempatnya saat ini tatkala om Rudi mendekat ke arahnya. Ia tersenyum manis untuk menutupi rasa gugup yang melanda diri, jujur saja segala rasa telah bercampur aduk menjadi satu.
"Sejak kapan kamu suka memakai baju seperti ini, Sayang?" tanya om Rudi setelah mengamati penampilan sang istri lebih detail.
__ADS_1
"Emmm ... sejak saya memutuskan untuk menyerahkan diri kepada Om!" Entah dari mana asalnya keberanian itu hingga Anne melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami. Senyum manis mengembang begitu saja dari bibirnya.
Kedua manik hitam itu bersirobok. Saling menyelami satu sama lain untuk mencari sebuah rasa yang terpendam di dalam sana. Jari jemari om Rudi mulai menyusuri wajah cantik sang istri, di tatapnya wajah itu dengan sejuta perasaan yang ada. Kelopak mata Anne mulai tertutup saat merasakan tangan om Rudi menyusuri tengkuknya. Sekuat tenaga, Anne menahan gejolak yang mulai muncul dalam diri.
Mata indah itu kembali terbuka tatkala merasakan kecupan mesra di bibir berwarna merah mudanya. Berawal dari sekedar kecupan, kini, berubah menjadi lumat•an. Tarian lidah mengiringi permainan yang baru memasuki babak awal ini.
"I love you, Anne Malila," bisik om Rudi sebelum menjelajah leher mulus itu.
Tangan om Rudi mulai berkelana untuk menyusuri setiap jengkal tubuh sang istri. Tangan itu mulai menurunkan resleting dress yang ada di bagian belakang tubuh ramping Anne. Perlahan dress itu mulai turun hingga menyuguhkan pemandangan yang memanjakan mata om Rudi. Dua bongkahan padat yang masih terbungkus kain berenda hitam terlihat begitu menantang.
Lenguhan manja mulai terdengar karena getaran hebat mulai terasa. Apalagi saat ketiga pengait itu dilepaskan begitu saja, pemandangan bukit teletubbies semakin terlihat nyata hingga semakin menyulut gejolak dalam jiwa pria matang itu.
"Lepaskan, Sayang! Jangan ditahan!" ucap om Rudi kala melihat wajah cantik itu menahan sesuatu.
Permainan terus berlanjut, om Rudi tetap santai dan tidak terburu-buru. Beliau ingin membuktikan jika masih mampu membuat Anne nyaman dan ... terpuaskan dalam permainan ini. Hingga pada akhirnya, kedua tubuh itu berada di atas ranjang tanpa sehelai benangpun.
Gelora asmara di antara keduanya berhasil memporak-porandakan ranjang king size tersebut. Beberapa kali Anne harus terpekik kala merasakan benda pusaka itu mengoyak istana miliknya. Ia berhasil mengepakkan sayap, terbang ke awang-awang beberapa kali bersama pria matang yang sedang tersenyum puas ketika melihat keadaannya menjadi kacau.
"Bagaimana, Sayang? Apakah masih sanggup?" tanya om Rudi di sela-sela permainan yang masih berlangsung itu. Om Rudi menjelajah tulang punggung sang istri dengan belaian lembut tangannya.
Anne hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia sudah tidak sanggup lagi untuk mengucapkan apapun selain mengeluarkan lenguhan manja. Gelombang tsunami beberapa kali menghantam benteng pertahanannya.
__ADS_1
"Baiklah, mari kita akhiri permainan ini!" ucap om Rudi sebelum melanjutkan permainannya.
Segera pria matang itu membalikkan tubuh sang istri. Memposisikan diri di antara kedua kaki itu untuk mengakhiri permainan. Tubuh mulus Anne terguncang tatkala sang pangeran mulai melancarkan serangan di istana sang ratu. Cuaca panas yang melanda kota Jakarta saat ini tak sebanding dengan panasnya medan perang sang pangeran untuk menaklukkan istana sang ratu.
"Terima kasih, Sayang!" ujar om Rudi setelah permainan berakhirnya, beliau mendaratkan kecupan penuh kasih di kening sang istri sebelum keluar dari istana sang ratu.
Siang ini, Anne benar-benar menyerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk om Rudi. Pada akhirnya, ia menjadi istri yang sebenarnya untuk pria yang sedang mendekap erat tubuhnya. Anne hanya bisa menikmati setiap yang dilakukan om Rudi kepadanya. Rasa nyaman membaur menjadi satu dengan rasa nikmat yang baru saja ia dapatkan. Untuk pertama kalinya sepasang suami istri itu bergelung dalam satu selimut dengan kulit tubuh yang membaur menjadi satu.
"Apa kamu lelah?" tanya om Rudi.
"Hmmm, tentu!" jawab Anne seraya mengeratkan tubuhnya dengan tubuh sang suami, "saya ngantuk!" ucapnya tanpa menatap sang suami.
"Istirahatlah! Nanti kita akan bermain-main lagi. Akan ku berikan lebih dari ini!" ujar om Rudi.
Anne menjauhkan tubuhnya agar bisa menatap wajah sang suami yang tengah menyeringai itu. Ia tidak habis pikir saja, bagaimana bisa sang suami mempunyai tenaga ekstra meski usianya tidak muda lagi.
"Apa Om tidak encok kalau sering melakukan hubungan ini?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Anne dengan pandangan yang tak lepas dari wajah sang suami.
...🌹Selamat membaca🌹...
...Huuuh! Kepala othor ngebul nih🤯...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...