Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Malu-malu kucing,


__ADS_3

"Papa tidak suka kamu seperti ini, Nak! Papa akan bahagia jika hatimu dipenuhi banyak cinta, bukan dendam. Kembalilah! Jangan korbankan anakmu karena masa lalu,"


"Papa!" teriak Anne setelah membuka kelopak matanya.


Keringat dingin membasahi piyama yang dipakai oleh Anne saat ini. Napasnya terengah setelah mimpi bertemu ayahnya. Dalam mimpi itu, Anne berlari mengejar ayahnya yang hilang entah kemana.


"Papa!" Sekali lagi Anne bergumam. Ia mengamati apa yang ada di sekelilingnya setelah seluruh jiwanya kembali, "Papa, Anne rindu, Pa!" gumam Anne dengan suara yang lirih.


Anne buru-buru turun dari ranjang setelah merasakan gejolak di dalam perutnya. Ia berjalan ke kamar mandi dengan satu tangan yang membawa infus. Ia kembali muntah seperti sebelumnya.


Cukup lama Anne berada di dalam kamar mandi. Ia terus mual dan muntah. Mungkin, kondisinya kembali seperti sebelumnya, "Duh, badanku lemes banget!" keluh Anne setelah menegakkan tubuhnya. Ia bersandar di dinding kamar mandi sebelum kembali ke bed nya.


Setelah tenaganya pulih, Anne segera keluar dari kamar mandi. Ia berpegangan pada dinding ruangan agar tidak jatuh, tangannya menyibak tirai agar cahaya mentari menerobos masuk ke dalam kamarnya. Jarum pendek penunjuk waktu yang ada di ruangan tersebut masih menunjukkan pukul tujuh pagi.


Anne segera menekan tombol nurse call karena membutuhkan bantuan medis. Rasa mual itu terus datang menghampiri, Anne rasanya sampai lemas dan tidak bertenaga. Setelah seorang suster datang bersama dokter, Anne mengatakan bagaimana kondisinya saat ini.


"Kami permisi dulu," ucap suster tersebut setelah dokter selesai melakukan pemeriksaan.


Pagi ini dilalui Anne dengan mual dan muntah. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi karena dokter pun sudah memberinya obat yang disuntikkan ke salam infus. Rasanya, ingin sekali Anne menangis karena kesepian di ruangan ini.


Entah sudah berapa kali Anne bolak-balik ke kamar mandi. Yang pasti saat ini ia sedang duduk di lantai kamar mandi. Ia tidak mampu lagi berdiri karena tubuhnya semakin lemas. Bulir air mata lolos begitu saja karena tidak tahan dengan semua ini. Ia membutuhkan seseorang untuk membantunya keluar dari tempat ini.


Anne terkesiap setelah pintu kamar mandi tiba-tiba saja terbuka lebar. Ia menengadahkan kepala untuk melihat siapa yang datang. Kelopak matanya terbuka lebar tatkala melihat senyum manis yang sudah lama tidak pernah ia lihat.


"Anne!" ujar om Rudi ketika melihat sang istri ambruk di lantai. Beliau segera membantu Anne berdiri dan memapahnya.

__ADS_1


Mau tidak mau Anne segera bangkit dari tempatnya. Ia tidak perduli lagi meskipun ada rasa malu setelah menerima bantuan sang suami. Rasa benci harus disisihkan terlebih dahulu demi keamanan dan kenyamanan.


"Kamu belum makan?" tanya om Rudi setelah merebahkan Anne di atas bed pasien. Beliau melihat makanan sang istri masih utuh.


Anne hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia mengubah posisinya menjadi miring agar bisa menghirup aroma parfum om Rudi. Belaian lembut dari tangan om Rudi membuat Anne memejamkan mata. Ia merasakan setiap sentuhan lembut di perutnya. Ada perasaan nyaman yang hadir dalam diri.


"Sial! Kenapa aku bisa senyaman ini!! Kemana rasa mual tadi? Aiih meresahkan!" gerutu Anne dalam hati ketika rasa mual itu mendadak hilang.


Om Rudi tersenyum tipis melihat respon sang istri. Beliau tahu jika Anne sangat membutuhkan sentuhan tangannya. Sepertinya, Tuhan memberikan jalan untuk beliau agar bisa lebih dekat dengan sang istri. Misi meluluhkan hati sang istri telah dimulai.


"Kenapa rasanya nyaman seperti ini, sih!" Anne menggerutu dalam hati, "Kandunganku masih berumur lima minggu, tidak mungkin jika anakku yang minta disentuh ayahnya. Lima minggu kan belum berbentuk! Berarti ... aku dong yang ingin disentuh orang ini! Nooo!" Kelopak mata itu segera terbuka setelah bergumam dalam hati.


"Ada apa?" tanya om Rudi, "kamu harus makan, oke? Biar Papi yang menyuapimu," ucap om Rudi seraya beranjak dari tempatnya saat ini.


Tatapan mata itu mengikuti setiap langkah om Rudi. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saja Anne duduk bersila di atas ranjang ketika om Rudi mendaratkan tubuhnya di tepi ranjang. Pria matang itu tersenyum manis ketika sang istri membuka mulutnya untuk menerima makanan di sendok tersebut.


"Kamu harus banyak beristirahat. Jangan setres, karena buah cinta kita belum terlalu kuat di tempatnya." Kini om Rudi menatap Anne dengan diiringi senyum yang manis.


"Kamu paham maksud saya 'kan?" Om Rudi terus tersenyum walau Anne masih bersikap dingin.


"Hmmmm!" Hanya itu yang lolos dari bibir tanpa polesan warna itu.


Sarapan telah usai. Anne kembali merebahkan tubuhnya dengan posisi miring dan menghadap om Rudi. Rasanya, ingin sekali Anne merasakan sentuhan lembut di perutnya. Namun, ia begitu gengsi untuk meminta hal itu. Ia memilih untuk menutup kelopak matanya saja daripada harus beradu pandang dengan pria yang ada di sisinya.


"Saya ngantuk! Saya ingin tidur! Kalau mau pulang silahkan!" ucap Anne tanpa membuka kelopak matanya.

__ADS_1


"Tidurlah," ucap om Rudi singkat. Beliau tak mengalihkan pandangan dari wajah cantik itu.


Lagi dan lagi Anne membiarkan om Rudi mengusap perutnya. Ia kembali merasakan kenyamanan dalam diri karena sentuhan hangat itu. Berawal dari pura-pura tidur, kini, Anne benar-benar terlelap menuju alam mimpi.


Tiga puluh menit kemudian, tidur nyenyak Anne harus terganggu setelah mendengar ponsel om Rudi berdering. Ia sengaja tidak mau membuka kelopak matanya karena ingin tahu siapa yang menghubungi sang suami.


"Baiklah! Tunggu aku di situ! Jangan kemana-mana! Dua puluh menit lagi aku sampai di sana." Nada bicara om Rudi terdengar lembut.


Tentu hal itu membuat Anne sangat penasaran. Ia tiba-tiba saja curiga kepada pria yang masih menjadi suaminya itu. Pikiran negatif mulai merasuk ke dalam isi kepala.


"Mau ketemuan sama siapa, sih?" Anne bergumam dalam hati.


Om Rudi menyimpan ponselnya di dalam saku celana setelah panggilan bersama salah satu temannya berakhirnya. Beliau menatap sang istri yang terlelap itu. Saat ini beliau sedang berpikir karena ada urusan yang sangat penting dan tidak bisa ditunda. Setelah berpikir beberapa menit, om Rudi melepas jaket denim yang melekat di tubuhnya. Lantas beliau menyelimutkan jaket tersebut di tubuh sang istri.


Kecupan mesra mendarat di kening Anne sebelum om Rudi pergi dari ruangan ini. Tak lupa beliau mengusap perut rata itu dan mendaratkan kecupan beberapa kali.


"Sayang, jangan nakal, ya! Kamu harus kuat dan tidak menyusahkan Mami," ucap om Rudi dengan suara yang lirih.


Setelah mendengar pintu ruangan kembali tertutup. Anne membuka kelopak matanya. Ia duduk di atas ranjang tersebut seraya memikirkan sesuatu. Ia mencoba menerka kemana om Rudi pergi.


"Bodo amat lah! Ngapain aku mikirin dia!" Anne berdecak kesal karena tidak bisa menerka kepergian sang suami, "Hmmm lumayan dapat jaket! Dengan begini, aku gak perlu lagi pengen mencium aroma parfum itu orang!" gumam Anne seraya tersenyum. Ia menghirup aroma tubuh dan parfum yang tertinggal di jaket tersebut.


...🌹Selamat Membaca🌹...


...Dih, Bumil kegedean gengsi ye mak😀🤭...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2