Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Rindu membelenggu,


__ADS_3

Suara kicauan burung terdengar merdu, menambah suasana syahdu di pagi hari. Kehangatan yang diberikan sang raja sinar mampu mengalahkan rasa dingin yang sempat menyelimuti. Langit biru nampak cerah tanpa gumpalan awan putih yang menghiasi.


Dua buket bunga bersandar di masing-masing nisan yang bersebelahan. Taburan kelopak bunga mawar memenuhi kedua makam yang sudah terawat dengan baik. Sementara ada seorang wanita yang duduk di antara kedua makan tersebut.


Air mata terus berjatuhan saat Anne menatap nisan bertuliskan Wisnu Soedrajat, di mana ayahnya beristirahat setelah menjalankan tugas di dunia ini. Anne terisak karena rasa rindu yang menggebu, semua kenangan di masa lalu terus berkeliaran di kepalanya.


"Papa, Anne sebentar lagi akan sukses. Maaf jika selama ini Anne mengulur waktu untuk menggapai cita-cita seperti impian papa dulu," ucap Anne seraya mengusap pusara sang ayah.


Air mata kembali menggenang kala kenangan di masa lalu terlintas dalam ingatan. Rasa rindu menusuk relung hati karena merindukan seseorang yang tidak ada lagi di dunia ini. Pada akhirnya air mata itu mengalir deras saat kenangan menakutkan hadir dalam ingatan. Berulang kali Anne berusaha melupakan semua itu, akan tetapi memori itu terus terputar kala sepi mulai menyapa.


"Ma, Anne minta restu di setiap langkah yang akan Anne lalui. Anne pasti bisa mewujudkan impian mama dan papa," gumam Anne setelah mengalihkan pandangan ke arah nisan sang ibu.


Hampir enam puluh menit, Anne duduk bersimpuh di antara makam ayah dan ibunya. Hanya ini yang mampu mengobati rasa rindu yang mengusik hati. Menjadi yatim piatu di usia dini, membuat Anne harus berjuang melawan kerasnya dunia, walaupun ada orang tua angkat yang sangat menyayanginya.


"Ma, Pa, Anne pamit pulang. Semoga mama dan papa bahagia di sana," ucap Anne setelah berdiri dari tempatnya.


Anne menapaki jalan setapak menuju pintu keluar area makam ini. Ia harus segera ke kantor untuk melanjutkan semua pekerjaan. Mengingat sang suami saat ini berada di Tangerang bersama Pras, untuk meninjau proyek yang sedang berjalan. Hingga pada akhirnya, Setelah melewati jarak yang lumayan jauh, Anne sampai di tempat parkir khusus milik om Rudi. Ia segera turun dan berjalan menuju lobby.


"Selamat pagi, Bu," ucap salah satu resepsionis yang menyambut kedatangan Anne, "ada tamu yang mencari pak Rudi di ruang tunggu," ucap resepsionis tersebut.


"Apa tamunya sudah membuat janji sebelumnya? Setahu saya tidak ada janji dengan siapapun hari ini," tanya Anne setelah teringat apa saja jadwal suaminya hari ini.


"Tidak ada, Bu. Tapi orang tersebut memaksa, katanya ada urusan mendadak yang sangat penting," jawab resepsionis tersebut.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu saya temui dulu tamunya. Oh iya, nanti kalau ada yang mencari pak Rudi, tolong Ibu katakan jika pak Rudi tidak ada di kantor, beliau sedang sidak bersama pak Pras," ucap Anne sebelum pergi dari hadapan resepsionis tersebut.


Anne menerka siapa kiranya yang mencari sang suami. Ia segera mengayun langkah menuju ruangan yang dimaksud oleh resepsionis tadi. Segera ia membuka pintu kaca itu dan masuk ke dalam ruangan mewah tempat menyambut tamu perusahaan.


"Selamat pagi," sapa Anne setelah berada di dalam ruangan tersebut. Ia duduk di kursi tunggal yang ada di hadapan di sebrang tamu yang sedang menegakkan tubuhnya itu.


"Selamat pagi, Bu," jawab pria yang seumuran dengan Pras. Pria tersebut menjabat tangan Anne sebelum duduk kembali.


"Maaf, Anda ini siapa dan dari mana?" tanya Anne seraya menatap pria tersebut.


"Saya Roy, wakil CEO perusahaan Eltyca. Maaf kedatangan saya ke sini adalah untuk bertemu dengan pak Rudi karena ada perihal penting yang ingin saya sampaikan.


Anne menjelaskan jika suaminya itu sedang sidak ke luar kota. Kali ini Anne harus bisa menghandle tamu dadakan ini. Lantas, ia mendengarkan setiap yang dikatakan pria tersebut.


"Jadi proyek apartment di Kemang ada kendala dari warga sekitar?" Anne memastikan inti dari pesan yang disampaikan pria bernama Roy itu.


"Begini saja, nanti saya sampaikan kepada pak Rudi bagaimana keputusan beliau. Silahkan tinggalkan nomor ponsel Anda agar kami bisa menghubungi setelah pak Rudi kembali," ucap Anne setelah beberapa menit berpikir.


Setelah beberapa menit berbincang dengan Anne, pada akhirnya Roy pamit pergi. Ia meninggalkan kartu nama sesuai yang diminta Anne. Setelah selesai menemui Roy di ruang tunggu. Anne bergegas masuk ke dalam lift agar segera sampai di ruangannya. Ada banyak pekerjaan yang menantinya.


"Bu Risa, tadi pak Rudi meninggalkan pesan kah?" tanya Anne setelah duduk di kursinya.


"Tidak, An. Tadi beliau langsung berangkat bersama pak Pras," ucap Risa tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.

__ADS_1


Anne mengeluarkan ponselnya, ia harus mengirim pesan kepada sang suami untuk memberi kabar tentang masalah yang dibawa Roy. Setelah selesai, Anne kembali fokus pada berkas yang menumpuk di mejanya.


Satu persatu berkas telah selesai dipelajari oleh Anne. Ia termenung sambil memikirkan sesuatu hal penting yang membuat pikirannya terganggu. Sesekali ia menatap Risa dan setelah itu kembali fokus pada layar laptopnya.


"Aku harus mulai dari mana dulu, ya," gumam Anne dalam hati tatkala membaca ulang berkas terakhir yang ia pelajari.


Anne mengerucutkan bibirnya ketika pikirannya buntu. Ide cemerlang mendadak sirna dari kepalanya. Sungguh, semua berkas proyek ini terasa membingungkan.


Detik demi detik terus berlalu. Om Rudi dan Pras pada akhirnya kembali dari Tangerang menjelang sore. Beliau segera masuk ke dalam ruangan untuk sekedar melepas penat sebelum pulang. Tak lupa beliau memanggil Anne agar menemani beliau di ruangan ini.


"Pi, ini salinan berkas dari perusahaan Eltyca, dan ini kartu nama pria bernama Roy yang tadi mencari Papi," ucap Anne setelah meletakkan map kuning beserta kartu nama.


Om Rudi membaca salinan berkas tersebut, lantas beliau membaca kartu nama yamg diberikan sang istri. Pria berusia setengah abad itu mengernyitkan keningnya tatkala membaca nama yang tertulis di sana.


"Arroy Benu Pradipta," gumam om Rudi, "sepertinya nama ini tidak asing," ucap om Rudi seraya menatap Anne.


"Saya kok kurang percaya ya, Pi, kalau ada kendala di proyek ini." Anne mengeluarkan pendapatnya terkait masalah yang disampaikan oleh Roy.


Om Rudi terlihat berpikir, mungkin beliau sedang mencerna cerita yang disampaikan oleh istrinya itu. Ada kejanggalan dari pesan yang disampaikan oleh Roy. Namun, om Rudi belum bisa memastikan apakah kejanggalan itu.


"Nanti biar Pras yang mengurus semua ini," ucap om Rudi setelah menutup berkas tersebut.


...🌹Selamat membaca🌹...

__ADS_1


...Terima kasih untuk kalian yang sudah memberi dukungan kepada saya😍Lope sekebon dah♥️♥️♥️♥️♥️ Btw kalau saya bikin group Wa, ada yg mau gabung gak nih? Biar saya bisa menyapa kalian lebih dekat🤭...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2