Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Babak Baru Gita


__ADS_3

Gita berdiri di depan


cermin melihat tubuhnya yang semakin memesar, perutnya pun membuncit. Dia


mengelus perutnya sambil tersenyum.


“Aduh, pasti kamu sudah


tidak sabar ya kelua dari perut mama.” Kata Gita dengan tangannya yang masih


terus mengelus perut saat sang bayi di kandungannya menedang-nendang.


“Baiklah sayang...


tunggu beberapa bulan lagi ya kamu akan segera ketemu mama sama papa. Mama juga


udah pegel nih bawa-bawa kamu kemana-mana.” Katanya lagi.


“Sayang..” Panggil


Gilang dari luar kamar.


“Ya.” Jawab Gita namun


belum beranjak dari depan cermin. Dia masih memandangi tubuhnya.


“Kamu ngapain disitu?


Ayo kita udah telat nih.” Gilang masuk ke kamar dan berdiri di samping Gita.


“Sayang, mending kamu


pergi sendiri saja deh.” Kata Gita.


“Kenapa? Kamu udah


kontraksi?”


“Bukan, aku nggak pede


saja sama penampilan aku. Lihat tubuhku sekarang membesar. Aku di rumah saja,


daripada malu-maluin kamu.” Gita pergi duduk di atas kasur. Dia tidak pede


untuk datang ke pesta-pesta semenjak dia hamil.


“Kamu ngomong apaan


sih. Ayo buruan kita berangkat sekarang.” Gilang tetap mau mengajak Gita pergi.


Dia tidak mau mendengar alasan Gita yang tidak masuk akal itu.


“Sayang, disana itu


pasti banyak cewek-cewek cantik. Sedangkan aku bulat seperti ini. Nanti kalau


kamu jadi omongan bagaimana. Ih.. ganteng-ganteng kok istrinya bulat kayak


bola.” Oceh Gita.


Gilang menatap Gita


lekat,”Coba sini aku lihat.” Gilang meminta Gita berdiri lalu melihat Gita dari


ujung kaki sampai ujung kepala.


“Mana gendut, Ini mah


sexy bukan gendut.” Gilang menyentuh hidung Gita dengan jari telunjuknya.


“Kami bisa saja, pasti


kamu cuma mau menghiburku kan.” Kata Gita dengan bibir yang menahan senyuman.


Ia tersanjung dengan pujian Gilang hanya saja dia tahan.


“Kamu nggak percaya sama


suami kamu ini. Dengar ya, kamu itu selalu cantik di mataku. Dan harusnya


kecantikan kamu itu hanya buat aku bukan buat orang lain. Lagian kan aku juga


yang membuat kamu gendut seperti ini.” Gilang mendekatkan wajahnya kearah Gita.


Dia ingin memberikan kecupan di bibir Gita namun perut Gita sedikit


menghalangi.


“Ah.. kamu masih


disini.” Kata Gilang mengurungkan niatnya untuk mencium Gita. Dia menundukan


kepalanya lalu mencium perut buncit Gita.


“Dasar papa kamu genit


sayang.” Kata Gita sambil tertawa kecil.


“Papa nggak genit sayang,


papa cuma mau minta jatah saja. Jadi kamu jangan lama-lama ya diperut mama.”


“Ish.. apaan sih kamu.


Dah yuk berangkat katanya terlambat.” Kata Gita sembari berdiri.

__ADS_1


Gilang membukakan pintu


mobil untuk Gita, dia juga menggandeng erat tangan Gita. Dia tidak pernah lupa


meratukan sang istri dimana pun berada. Tak hanya itu dia juga selalu


menunjukan kepada dunia kalau dia sudah beristri.


“Sayang, aku ketoilet


sebentar ya.” Kata Gita.


“Mau aku anterin?”


“Nggak usah, kamu


duluan nanti aku menyusul.” Gita buru-buru ke toilet.


Gilang kemudian menemui


pemilik acara, sambil menunggu Gita.


“Selamat datang Pak


Gilang, terima kasih sudah menyempatkan datang ke acara saya.” Pak Bimo pemilik


hajat menyambut kedatangan Gilang.


“Sama-sama Pak Bimo,


semoga pembukaan perusahan baru ini bisa cepat berkembang dan sukses.”


“Terima kasih, oiya Pak


perkenalkan ini putri saya Gebrilia Hanita yang akan menjalankan perusahaan


baru saya ini.”


“Gebrilia, panggil saja


Lia.” Lia menjabat tangan Gilang.


“Gilang.”


“Lia, Pak Gilang ini


adalah rekan bisnis papa yang sangat keren. Masih mudah sudah menjadi pengusaha


yang sukses. Jadi kamu harus belajar banyak kepada Pak Gilang. Dan kerjasama


perusahaan kita ini berjalan langgeng. Yah kalau bisa berlanjut ke


kekeluargaan.” Pak Bimo menepuk pelan lengan Gilang sambil tertawa.


“Maksud bapak


“Masa Bapak nggak tahu


maksud saya.”


“Saya memang nggak


mengerti?” Gilang bingung dengan apa yang di maksudkan oleh Pak Bimo.


“Yah kalau jodoh, siapa


tahu putri saya bisa menikah dengan Pak Gilang.” Katanya sambil tertawa kecil.


Gilang adalah menantu


yang sangat perfek dimata Bimo. Dia ingin sekali menikahkan putrinya dengan


Gilang. Semenjak pertama bertemu dia sudah terpesona dengan kerja keras, dan


pencapaian yang Gilang miliki. Dengan menikahkan putriya dengan Gilang maka


perusahaannya akan semakin besar pula baginya. Akan menjadi keuntungan besar


dan menjadikan orang paling kaya di indonesia.


“Papa, kenapa ngomong


begitu sih.” Wajah Lia langsung memerah. Dia malu meskipun dalam hati dia juga


sudah terpikat dengan ketampanan Gilang.


“Maaf  Pak Bimo, tapi saya sudah berkeluarga. Dan


saya datang kesini berserta dengan istri saya.” Kata Gilang.


“Pak Gilang sudah


menikah?” tanya Pak Bimo dengan wajah kaget. Dia tidak pernah tahu kalau Gilang


sudah menikah.


“Benar Pak, itu istri


saya.” Gilang menunjuk Gita yang sedang berjalan menuju dirinya.


Kekecewaan terpancar


dalam wajah Pak Bimo, harapan untuk menjadi mertua Gilang langsung hancur.


“Sayang, kenalkan ini

__ADS_1


Pak Bimo rekan bisnis aku.”


“Halo Pak, saya Gita


istrinya Gilang.” Gita mengulurkan tangannya.


“I-iya, saya Bimo. Em


sepertinya saya pernah lihat dimana ya?” Bimo merasa tidak asing dengan Gita.


“Oiya. Ah.. mungkin


bapak melihat saya di kantor kali pak waktu bapak berkunjung di kantor kami.”


Kata Gita.


“Mungkin, pantas saja


saya tidak asing melihatnya.”


“Ah.. jadi istri bapak


ini hanya karyawan di kantor Pak Gilang ya?” kata Lia. Dia menatap Gita dengan


sangat rendah dan tidak selevel dengan dirinya. Jika di bandingkan dia yang


lebih pantas bersanding dengan Gilang.


“Memangnya kenapa kalau


istri saya hanya seorang karyawan?” Gilang mulai tidak suka dengan ucapan Lia.


“Ya tidak apa-apa,


rasanya tidak pantas saja Pak Gilang bersanding dengan seorang karyawan biasa.”


“Lia, kamu ngomong


apaan sih?” Bimo mulai tidak enak dengan Gilang.


“Mungkin menurut anda


seorang karyawan biasa tidak pantas, tapi karena kariyawan biasa lah saya bisa


berdiri seperti ini. Pak Bimo terima kasih atas undangannya saya dan istri saya


mohon permisi dulu.” Gilang menudukan kepalanya lalu mengajak Gita langsung


pergi.


“Eh... sayang kenapa


udah mau pulang. Kita saja belum makan apa-apa.” Kata Gita.


“Nanti kita cari makan


di luar.” Kata Gilang.


“Kamu kenapa kelihatan


marah sih?”


“Sayang, kamu nggak


apa-apa di katain seperti itu?” Gilang heran kenapa dia tidak ada respon ketika


Lia mengatainya dengan kariyawan biasa yang tak pantas bersanding dengan


dirinya.


“Memangnya kenapa harus


marah, memang benarkan apa yang di katakan dia kalau aku karyawan biasa.”


“Ya tapi kan..”


“Sayang, mau apapun


yang di katakan orang aku tidak perduli. Selagi kamu masih mencintaiku dan


hanya milikku.” Katanya sambil meringis.


“Kenapa semenjak hamil


kamu tidak pernah cemburu sama aku, jangan-jangan kamu lagi  sudah mulai tidak cinta sama aku.” Gilang


merengut.


Gita selalu berbeda


dengan orang-orang lainnya, biasanya orang hamil akan sangat sensitif tapi Gita


selalu biasa saja. Seperti tidak ada rasa cemburu sedikitpun kepada Gilang.


“Kamu ngomong apaan sih


sayang, kalau nggak cinta sama kamu kenapa ini aku bawa-bawa kemana-mana.” Gita


mengelus perutnya. Gilang terkekeh dengan jawaban Gita.


“Bisa saja.”


“Kamu pikir saja, kalau


bukan cinta akupun tidak akan sudi di buat seperti ini sama kamu.”

__ADS_1


“Iya-iya sayangku. Ayo


kita cari makan sekarang.” Kata Gilang.


__ADS_2