
Aiden dan yang lain tidak menunda waktu untuk membalas dendam kepada Kris. Kejailan Kris membuat mereka mendorong mobil kini giliran Kris yang harus merasakannya. Dan pembalasan itu lebih parah. Dia mengempeskan dua banya kini Aiden dan yang lain membuat semua ban milik Kris kemes semua.
Aiden, Luki, Rafa dan Ibob menunggu kedatangan Kris, mereka menantikan saat-saat yang menggembirakan.
Kris memandang Aiden dan yang lain dengan curiga, karena keempat orang itu melihat dirinya sejak kedatangannya.
“Kenapa lihat-lihat, nggak pernah lihat cowok ganteng dan kaya ya, sampai terpesona seperti itu,” ujar Kris narsis.
“Pede banget, sama kucing gue saja masih gantengan dia,” jawab Rafa.
Kris mendesis, dia membuka pintu mobil lalu menutupnya kembali saat melihat ban depannya kempes. Dia kemudia mengecek bagian depan dan belakang.
“Kalian kan yang mengenpesi ban mobil gue?” Kris mendekati Aiden dan yang lain.
“Iya,” jawab Aiden tanpa membantah.
“Kurang ajar!” Kris melayangan pukulan mendadak di wajah Aiden.
“Woi!” teriak Rafa reflek mendorong Kris.
Aiden menyeringai menahan perih, sepertinya ujung bibirnya sedikit luka karena tonjokan dari Kris.
“Kenapa lo nggak terima lo kempesin ban lo?” Aiden kali ini turun tangan sendiri biasanya dia hanya diam. Membiarkan Luki atau Rafa yang maju. Namun saat ini dia ingin membuat Kris tidak akan melupakannya.
“Lo selalu mencari masalah sama gue, lo pasti mengincar uang gue kan. Lo mau berapa?” ucap Kris. Dia terus saja menganggap Aiden rendah, dia mengira terus menggagunya agar mendapatkan uang. Dia mau memalak dirinya karena kaya raya.
“Ambil ini,” Kris melempar uang seratusan beberapa lembar dari dompetnya lalu menimpukan di wajah Aiden.
“Ambil pengemis, lumayan kan hari ini lo sama teman-teman sampah lo itu bisa makan enak,” ujarnya sombong.
Aiden mengepalkan tangannya, dia langsung memberikan pukulan bertubi-tubi di wajah dan perut Kris.
“Jangan terlalu sombong, diatas langit masih ada langit!” seru Aiden dengan memberikan pukulan terakhirnya di perut.
Kris sudah tak berdaya, seseorang ada yang memanggil Bu Ariyani agar perkelahian di parkiran berhenti. Kyra lumayan shock ternyata Aiden sangat seram juga ketika marah.
Kyra terus mendapatkan sifat-sifat yang baru dari diri Aiden. Cuek, cool, konyol tapi juga seram sudah ada di diri Aiden.
Apakah dia seperti avatar yang memiliki banyak elemen, sehingga semua sifat dia punya, batin Kyra.
__ADS_1
“Aiden, Kris kalian semua datang ke kantor ibu! Teriak Bu Ariyani.
Bu Ariyani berjalan memutari Aiden dan Kris, melihat wajah muridnya yang akhir-akhir ini menghiasi ruang BP.
“Apa yang kalian peributkan, sampai-sampai berkelahi seperti ini?” tanya Bu Ariyani.
“Dia dulu yang mulai buk,” Kris menunjuk Aiden.
“Loh kok gue, lo dulu ini yang tonjok gue,” Aiden menunjuk ujung bibirnya yang berdarah.
“Kalau lo sama teman-teman lo nggak bikin ban mobil gue kempes, gue nggak bakalan tonjok lo.” Katanya sembari memegangi perutnya.
“Aiden, kenapa kamu mengempeskan ban mobil Kris. Itu merugikan teman kamu kan.”
“Soalnya dia juga mengempeskan ban Dinda kemarin,” Aiden tak mau mengalah.
“Jangan fitnah gue kalau nggak ada bukti,” Kris mulai was-was kalau sampai ketahuan.
“Lo juga nggak ada bukti kan, kalau gue mengempeskan ban mobil gue?” Aiden membalikan omongan Kris.
“Buk, kita bisa buka cctv hari ini kan. Saya akan buktikan kalau mereka lah yang jahat sama saya.” Kris meminta Bu Ariyani untuk membuka cctv hari ini.
“Cukup, karena kalian berdua sama – sama melakukannya ibu anggap semua ini impas. Dan kalian berdua ibu hukum menulis kata minta maaf dua folio. Harus tulisan tangan kalian, tidak ada yang boleh membantu. Ibu tunggu besok pagi, kalau pagi belum ada yang mengumpulkan. Maka ibu akan memberikan skors sama kalian,” tutur Bu Ariyani.
“Baik Buk,” jawab mereka berangan.
Aiden dan Kris keluar dengan bersamaan, sehingga tidak ada satupun yang bisa melewati pintu.
“Gue dulu kali yang keluar,” kata Kris.
“Mata lo buta, kaki gue sudah keluar duluan,” Aiden tidak mau mengalah.
Jiwa normalnya Aiden sedang keluar, biasanya dia akan mengalah membiarkan orang yang rusuh kepadanya. Namun saat ini dia tidak mau tinggal diam.
“Lo yang buta, lihat bahu gue sudah ada di pintu.”
Bu Ariyani menghela napas panjang, capek juga lama-lama mengurusi dua orang ini.
“Kris! Ai! Kalian bisa berdamai nggak!” sentak Bu Ariyani.
__ADS_1
“Bisa bu,” jawab Aiden sembari berlari sehingga tubuhnya menabrak Kris.
“Awas lo Ai, masalah kita belum selesai!” teriak Kris.
Aiden berlari mundur sembari menjulurkan lidahnya. Emosi Kris sampai ubun-ubun. Dalam hatinya dia ingin sekali segera menendang Aiden dari sekolahannya.
“Kris!”
“Iya Buk,” Kris lupa kalau masih berada di depan ruang Bk.
“Kamu itu kan ketua Osis harusnya mengayomi murid-murid lain, bukannya malah bikin masalah,” Kris mendapatkan omelan dari Bu Ariyani.
“Tapi dia yang bandel buk, dia terus mengganggu saya. Mana nggak tanggung jawab lagi.”
“Kan kamu dulu yang mulai, kemarin mereka juga di perlakukan itu sama kamu. Sudah sana minta bantuan sama pak satpam,” ujar Bu Ariyani.
Kris mendengus, ketua osis yang melekat pada dirinya tidak berlaku membuat Bu Ariyani membelanya. Justru dia yang disalahkan.
“Kok masih diam di sini, nggak mau pulang?” Bu Ariani menatap Kris heran.
“Ini mau pulang buk,” Kris buru-buru kabur sebelum semakin panjang di ceramai sama Bu Ariyani.
“Awas lo Ai, gue akan memberikan pelajaran yang sentimpal sama lo. Lihat saja lo akan bersujud-sujud di hadapan gue nantinya,” kelakar Kris.
Kris berjalan ogah-ogahan saat melihat Aiden sama yang lain masih ada di parkiran. Yang sepertinya sengaja menunggunya.
“Bob, mau nggak gue anterin ke les?” goda Luki saat Kris sampai di parkiran.
“Iya, bareng kita saja. Nanti lo telat loh,” tambah Rafa.
Wajah Kris berubah merah dan tegang, alisnya berkerut di tambah kedua matanya yang melotot. Tangannya mengepal, siap melayangkan pukulan.
“Eh, jangan marah begitu dong. Mending lo simpan tenaga lo biar nggak kebuang sia-sia. Lumayan jauh lo sampai ke bengkel.” Aiden menepuk pundak Kris perlahan yang langsung di tepisnya.
“Ai, dia kan orang kaya tinggal panggil bokapnya. Kan anak manja,” ujar Ibob yang di sambut tawa Luki, Aiden dan Rafa.
“Sudah jangan digodain anak orang, kasian kan nanti kalau menangis. Kita kan nggak punya permen.” Aiden mengajak teman-temannya pergi meninggalkan Kris.
Tak hanya mereka yang meninggalkannya, tapi satpam yang berjaga pun sudah dibayar Aiden agar tidak membantu Kris.
__ADS_1