
Melihat Gilang marah sama Gita membuat Lia senang. Dia tersenyum dan langsung bergelayutan sama Gilang.
"Makasih ya Pak Gilang karena sudah membantu saya. Saya tidak rahu kalau bapak nggak ada." katanya dengan manja. Gilang melepaskan diri dari Lia.
"Istri bapak sangat ganas, dia terlalu emosian. Harusnya dia menjaga kehormatan bapak kan. Dengan begini dia hanya akan mempermalukan anda. Harusnya anda..." Omongannya terputus oleh Gilang.
"Yang istri saya lakukan sangat benar, dan teman-temannya juga benar. Anda yang memang tidak tahu diri, apa anda tidak punya harga diri sama sekali?" Kata Gilang membuat Lia terdiam. Dia pikir Gilang membelanya ternyata dia salah.
"Maksud bapak?'
"Anda orang berpendidikan tak sehrusnya menjadi rensdahan seperti ini. Apa masih tidak mengerti ucapan istri saya? Yang akan rugi disini itu anda bukan saya atau istri saya. Stop jadi perempuan murahan."
"Pak Gilang kenapa anda sangat kejam, saya melakukan semua ini demi bapak." Lia hampir menangis mendengar ucapan Gilang yang membuatnya sesak di dada. Wajahnya memerah, matanya sudah berkaca-kaca.
"Pikir lagi kalau mau bertindak."
"Pak Gilang, anda berani sekali menghina saya. Saya mau membatalkan kontrak kerjasama kita." Ancam Lia.
Gilang menghela napas panjang mendengar ancaman dari Lia.
"Atau kalau bapak mau, saya tisak akan membatalkan kerjasama kita asal bapak tinggalkan istri bapak yang sangat menyebalkan itu."
"Bu Lia yang terhormat, silahkan anda membatalkan kontrak kita. Dengan senang hati saya menerimanya." kata Gilang dengan santai.
"Lila.. Urus pembatalan kontrak sama perusahaan Bu Lia."Kata Gilang sembari masuk ke ruangan.
"Baik Pak."
"Pak Gilang.. Pak... Bukan maksud saya seperti itu." Lia jadi panik senebarnya itu sebatas ancaman agar menceraikan Gita. Bukan benar-benar ingin berheri kerjasama dengan perusahaan Gilang.
"Maaf Buk, Bu Lia tidak bisa masuk. Bu Lia mari kita selesaikan ini." Lila melarang Lia nyelonong masuk ke ruangan Gilang.
...----------------...
Gilang berjalan mendekati Gita, Gita langsung menundukan kepalanya karena takut sama Gilang.
"Kamu apa-apaan?" tanya Gilang dengan nada datar.
"Cuma ngasih pelajaran dia, aku datang kesini jug nggak terencana." ucap Gita pelan dia benar-benar takut sama Gilang kali ini. Wajah seramnya muncul, wajah yang hampir tidak pernah di perlihatkan oleh Gilang kepada Gita.
"Bisa tidak kamu lebih percaya sama aku, dan jangan melakukan hal seperti ini." Gilang menatap lekat Gita
Kedua mata Gita berkaca-kaca, dia merasa kalau Gilang menyalahkan dirinya.
"Bagaimana aku bisa percaya, dia terus menelpon, datang ke kantor. Aku punya mata dan hati, bagaimana aku bisa mengabaikannya. Aku bukan malaikat yang bisa diam saja melihat suami aku terus digoda perempuan lain. Bagaimana kalau nanti hati kamu luluh." Tanpa sadar air mata Gita sudah membasahi kedua pipinya.
Emosinya meluap, dia ingin sekali melakukan awal-awal kedatangan Lia. Namun dia tahan takut mempengaruhi pekerjaan Gilang namun semakin lama Lia semakin menjadi Gita takut kalau Gilang berpaling.
Gilang menarik Gita dalam pelukannya, "Aku hanya takut kamu kenapa-kenapa. Percayalah sama aku, biarkan aku menyelesaikan ini dengan caraku. Kamu nggak perlu turun tangan. Bagaimana kalau tadi dia menyakiti kamu dan juga sahabat-sahabat kamu." Gilang mempererat pelukanya ketika Gita menangis semakin kencang.
"Aku hanya tidak mau kalian terluka." kata Gilang lagi.
"Maafin aku, tapi aku tidak tahan. Aku benci dia, aku takut kamu diambil dia." Kata Gita terbata-bata.
__ADS_1
"Sampai kapanpun aku hanya mencintai kamu, Gita Saqueena." Gilang mengecup kening Gita.
"Jangan menangis lagi, maafik aku karena membentak kamu tadi."
Gita mengangguk, dia mengusap air matanya yang masih menetes.
"Kamu mau apa?"
"Em?" Gita mengangkat kepalanya.
"Mau makan apa? Biar aku pesenin." Gilang mengusap rambut Gita lembut.
"Ice cream."
"Kamu duduk dulu." Gilang mengantar Gita duduk di sofa.
"Memang boleh aku disini?" kata Gita sambil duduk.
"Tentu saja boleh, kamu istri aku kamu bebas datang kapanpun kamu mau."
"Sayang."
"Hem?"
Gita mengkode agar Gilang mendekat, setelah itu Gita mencium cepat bibir Gilang.
"Love you."
Gita mengambil ponselnya, dia langsung mengirim pesan untuk Fara dan Anita.
...Gita...
...Bagaiamana kalian? Apa aman?...
...Fara...
...Aman, tenang saja. Bagaimana sama lo?...
...Anita...
...Apa Gilang marah sama lo...
...Gita...
...Aman, cuma marah sebentar kok...
"Ini ice creamnya." Gilang masuk dengan cepat Gita memasukan ponsel ke tasnya.
"Apa yang kamu sembunyikan dari aku?" Gilang berjalan cepat dan duduk di sebelah Gita.
"Nggak ada." Gita menggeleng cepat.
"Kamu chatingan sama siapa?" Gilang kepo.
__ADS_1
"Fara sama Anita." Gita nyengir.
"Awas ya kalau macam-macam." ancam Gilang.
"Nggak, nggak percayaan banget sama istri sendiri."
"Kalian itu kalau ketemu suka aneh-aneh." Kata Gilang sembari membukakan ice cream untuk Gita. Gita meringis, memang benar kalau Fara, Gita dan Anita sudah bertemu pasti banyak tingkah konyol yang akan mereka lakukan.
"Sayang, apa kamu masih mau liburan?" tanya Gilang hati-hati. Gita menggelengkan kepala sembari tersenyum.
"Kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Ya kenapa kamu nggak mau liburan sekarang? Semalam kamu bilang mau liburan. Apa kamu marah?"
"Sayang, aku nggak marah sama kamu. Aku sadar kok kalau yang kamu katakan itu benar. Perut udah segede ini, kalau tiba-tiba lahiran gimana." Gita melahap ice cream.
"Em.. Tapi kalau aku mau ngajak kamu liburan, masih berlaku nggak?"
Gita membalikan tubuhnya hingga berhadapan dengan Gilang.
"Kamu beneran?" matanya berbinar.
"Iya sayang, kita kan sudah lama banget nggak pergi bareng. Ya itung-itung liburan sebelum kamu jadi ibu." kata Gilang.
"Beneran, kamu nggak lagi bohongin aku kan."
"Ya ampun sayang, lihat wajah suamimu ini apa terlihat seperti permbohong?"
"Nggak sih." Gita melompat karena kegirangan.
"Eh.. Hati-hati... Jangan lompat-lompat kalau jatuh gimana?"
Gita meringis, "Aku terlalu bahagia, kita mau kemana?"
"Terserah mau kemana."
"Jogja, aku mau jalan-jalan ke pantai, ke malioboro dan banyak lagi pokoknya."
"Iya..iya... Weekend besok kita pergi."
"Sayang, boleh nggak aku minta satu permintaan lagi.
"Apa?"
"Kita ajak yang lain juga yuk, aku pingin kita rame-rame perginya."
"Ok, nanti kamu kabarin yang lain."
"Siap suamiku tercinta." Gita hormat lalu mencium Gilang.
"Yes, akhirnya rencana ke dua bakalan terwujud."
__ADS_1