Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Main 2


__ADS_3

Es cendol pesanan mereka semua sudah tertata rapi di meja, dengan cepat mereka langsung memakannya untuk menyirami tenggorokan yang semakin gersang karena terus bercanda di dalam angkot.


Kyra iri melihat teman-temannya yang bisa ke sana kemari dengan bebas. Tertawa tanpa beban, tidak mmeikirkan bagaimana nilai semesteran besok dan nilai-nilai untuk menuju ke universitas nanti.


“Kenapa nggak diminum, nggak suka?” tanya Aiden.


“Suka kok,” Kyra langsung mengambil sendoknya. Dia mulai menikmati es cendol yang di pesannya.


Aiden menatap Kyra lekat, dia merasa ada yang ganjal di hatinya Kyra. Wajahnya sangat tegang, pasti banyak kekhawatiran yang dia pikirkan sampai main pun tidak bebas.


“Setelah ini mau ke mana?” tanya Ibob.


“Jalan-jalan saja yuk, mumpung masih di sini,” ajak Rafa.


“Kalian beneran mau pindah?” tanya Dinda dengan wajah sedih, dia sudah terlalu nyaman bersama mereka. Berasa memiliki empat kakak sekaligus yang bisa menjaganya.


“Belum tahu juga,” kata Aiden. Dia sebenarnya juga asal nyeletuk, belum memikirkan apa yang akan di lakukan.


“Kak, jangan pada pindah ya. Kenapa sih pindah-pindah mulu,” rengek Dinda.


Kyra hanya diam, harusnya senang saingan di kelasnya pergi dan dia bisa mendapatkan nilai tertinggi lagi. Namun di lubuk hatinya terdalam muncuk rasa sedih. Dia seperti kehilangan sesuatu yang tidak bisa di jelaskan.


“Coba deh nanti di pikirkan ulang. Oiya, acara amal besok itu apa ya?” tanya Aiden. Dia tidak mengerti isi rapat siang tadi, mereka berempat datang sudah terlambat dan Kris tidak menjelaskan kembali malah main menutup rapat.


“Kita akan melakukan dua kegiatan, di hari sabtu kita akan melakukan donor darah. Dan hari minggunya kunjungan ke panti asuhan terdekat di sini,” jawab Kyra.


“Donor darah?” Ibob bergidik.


“Lo takut ya,” ejek Aiden.


“Nggak,” kilah Ibob.


“Takut ngomong saja,” Rafa ikut mengejeknya.


“Yang takut noh,” Ibob menunjuk Luki yang sejak datang hanya diam saja.


Aiden menanyakan keadaan Luki kepada Ibob hanya dengan mengankat dagunya yang menunjuk kearah Luki, sedangkan Ibob menjawab dengan mengangkat kedua bahunya.

__ADS_1


“Kak Luki kenapa, kok dari tadi diam saja?” tanya Dinda hati-hati.


“Nggak apa-apa kok. Guys, gue pulang dulu ya perut gue mendadak sakit,” katanya. Luki beranjak meninggalkan tempat, mereka langsung bingung.


Aiden mengkode Ibob dan Rafa agar mengikuti Luki, sedangkan dia akan menunggu kedua cewek itu mendapatkan taksi.


“Kak Ai, Kak Luki kenapa ya?” tanya Dinda cemas.


“Diare kali, dia kan kalau makan suka sembarangan,” jawab Aiden asal yang lewat di kepalanya saja.


“Kita pulang yuk, gue anterin sampai di tempat taksi,” kata Aiden.


Mereka bergegas pergi ke tempat taksi berasa, namun Dinda meminta pisah saat pacarnya menelepon dan mau menjemputnya.


Kyra canggung berjalan berdua dengan Aiden, mana jarak dari tempat makna cendol sampai ke taksi pool.


“Lo kalau mau balik dulu nggak apa-apa kok, gue bisa sendiri,” ucap Kyra pelan.


“Nggak apa-apa, gue nggak sedang buru-buru kok,” jawabnya tanpa melihat Kyra.


Mereka berdua berjalan sejejar namun tanpa berbicara, hanya sesekali mereka saling curi pandang. Sampai di taksi pool Kyra langsung naik, dan di susul Aiden.


“Kan gue bilang mau anterin lo, jadi gue harus pastiin lo selamat sampai rumah,” jelasnya.


Kyra terdiam, dia menjadi teringat kejadian beberapa bulan lalu saat dia masih menjadi pacar Rendi. Di sore setelah rapat osis , dia tidak kunjung datang menjemput padahal sudah berjanji. Saat di telpon dia bilang lupa, Kyra sempat menangis namun malah di benta dengan mengatakan kalau jadi cewek jangan terlalu manja, pulang sendiri naik taksi jangan terlalu mengandalkan orang lain.


“Kyra,” Aiden menggerak-gerakan tangannya di depan mata Kyra.


“Ya,” jawabnya dengan wajah masih bingung karena kaget.


“Lo kenapa, ada masalah?”


“Nggak kok,” jawabnya dengan senyum.


“Lo gue perhatiin sejak tadi banyak melamun, lo yakin nggak ada masalah?” ujar Aiden kembali memastikan kepada cewek di sampingnya yang masih saja dengan wajah yang penuh kebimbangan.


Harusnya mencari cowok itu yang seperti ini bukan, kenapa dia berubah menjadi sangat perhatian sama gue, batin Kyra.

__ADS_1


Dia merasakan hal yang menajubkan dari hatinya, Aiden sangat peka dengan dirinya. Rasa benci kepada laki-laki karena perlakuan Rendi kepadanya mendadak luluh dengan perlakuan Aiden yang secara tidak langsung. Bisa di katakan Kyra itu baper sama Aiden.


“Kan lo diam lagi, perlu ke rumah sakit?” tanya Aiden sembari memegang kening Kyra takutnya kena demam karena banyak diam.


“Nggak, gue baik-baik saja,” Kyra dengan cepat menurunkan tangan Aiden dari keningnya.


Aiden meminta sopirnya menunggunya sebentar, dia ikut turun saat sampai di depan rumah Kyra.


“Makasih ya lo sudah nganterin gue,” kata Kyra.


“Sama-sama, buruan masuk,” suruh Aiden.


“Iya,” Kyra melambaikan tangannya.


Aiden baru membuka pintu kembali menutupnya saat mendengar suara keras dari rumah Kyra. Aiden menoleh, dia melihat Kyra berdiri di depan pintu yang di hadang oleh perempuan paruh baya kira-kira berumur empat puluhan tahun.


“Bagus ya, jam segini baru pulang.”


“Kyra tadi habis rapat osis, Ma,” kata Kyra membela diri.


“Rapat osis kamu bilang, tadi Kris ketua osis datang ke sini. Dia bilang kamu malah pergi main sama teman-teman kamu,” maki mamanya.


“Lihat, berapa les kamu yang terlewatan. Kamu itu sungguh-sungguh nggak sih mau mendapatkan universitas yang terbaik.”


“Memang apa salahnya kalau Kyra pergi main sebentar, Kyra juga pingin ma seperti anak-anak yang lain,” protes Kyra.


“Mama tidak akan melarang main , kalau kamu sudah sukses. Bebas kamu mau kemana saja,” omel mamanya.


“Sekarang kamu masuk, tinggalkan semua kegiatan kamu di sekolah yang tidak penting. Dan jangan pernah kamu berani-berani pergi main. Mulai besok mama yang akan anter jemput kamu.”


Kyra diam manahan sesak di dadanya, dia masuk menabrak sedikit tubuh mamanya tanpa sengaja. Matanya merah, perih sekali menahanya sejak diomeli mamanya.


“Kyra, kamu kebiasaan ya. Kalau mama ngomong langsung nyelonong masuk,” seru mamanya.


Aiden menghela napas panjang, dia paham sekarang kenapa Kyra tampak cemas sepanjang pulang sekolah. Alasanyan lumayan membuatnya tercengang, masih ada saja orang tua yang terlalu menekan anaknya.


“Pasti berat jadi lo,” gumam Aiden dan berlalu meninggalkan rumah Kyra.

__ADS_1


Aiden mengambil ponselnya, dia mengirim pesan kepada Kyra. Hanya mengirimkan gambar kucing yang sangat lucu. Pikirnya itu akan membuat Kyra tersenyum meskipun hanya sebentar.


“Semoga lo kuat,” jawabnya sembari memasukan ponselnya di tas.


__ADS_2