
Aiden mendekati neneknya yang sedang menyiram tanaman.
"Nek, Ai bantu ya." Aiden mengambil selang dari tangan Wanda.
"Boleh, nenek mau mencabur rumput-rumput liar itu." Wanda menunjuk pot yang di tumbuhi rumput liar.
"Nek," panggil Aiden pelan.
"Iya sayang, ada apa?" jawab Wanda tanpa melihat Aiden. Dia sibuk mencabuti rumput.
"Kalau Ai mengenalkan seseorang seperti Rafa tadi apa bakalan diterima?" tanya Aiden.
"Siapa memangnya yang mau kamu kenalin?" Wanda menoleh sebentar, setelah saling berpandangan kembali melihat rumput di hadapannya.
"Kyra," jawab Aiden.
"Kyra teman sekolah atau teman apa?"
"Iya, teman sekolah Ai. Yang kemarin nenek bertemu di sekolah."
Wanda membuang rumput yang baru di cabutnya, dia berdiri mendekati Aiden.
"Teman yang mana, nenek nggak ketemu siapa-siapa selain kamu?" Wanda mencoba mengingat siapa teman Aiden yang bertemu di sekolahnya.
"Oh anak itu, anak dari perempuan jahat yang menghina kamu bukan?" Wanda mengingat kejadian yang tidak menyenangkan itu.
"Iya nek, anak tante Selfi itu teman sekelas Aiden. Dia orangnya baik nek." Aiden mencoba memperbaiki citra Kyra di depan neneknya yang sudah rusak gara-gara mamanya.
"Baik apanya, keluarganya saja begitu. Mulutnya pedas sekali. Nenek nggak menyetujuhi kalau kamu pacaran sama dia. Kaya nggak ada cewek lain saja," omel Wanda. Sakitnya masih terasa sampai di ulu hati.
"Tapi Kyra beda sama mamanya nek, dia itu baik, pintar dan juga dari keluarga baik-baik. Cuma mamanya aja yang sedikit julid," jelas Aiden. Dia masih berusaha membujuk Wanda agar mau menerima Kyra.
"Baik-baik apanya, Ai kamu cari yang lain saja. Nenek tetap nggak mau menerima gadis itu. Nenek sudah terlanjur sakit hati."
"Nenek kan belum pernah bertemu dia, nenek coba bertemu dan ngobrol dulu ya. Nanti kalau sudah kenal pasti nenek suka. Kan tak kenal maka tak sayang nek," Aiden terus mengupayakan Kyra di terima. Segala macam ucapan rayuan yang baik ia lontarkan.
"Kalau nenek bilang enggak ya enggak Ai, nenek nggak mau punya keluarga modelan kayak mereka. Sombong dan suka menghina." Wanda meninggalkan Aiden. Dia tetap tidak mau menyetujuhi Aiden yang berteman dengan Kyra.
Aiden mendengus, dia tidak bisa mendapatkan restu dari Wanda. Baru mau pedekate saja sudah mendapatkan hambatan.
"Kenapa Ai?" tanya Luki.
Aiden mematikan keran, ia duduk bersila di lantai yang diikuti Luki.
__ADS_1
"Susah mendapat restu," jawabnya dengan senyum kecut.
"Nenek nggak kasih restu?"
"Iya, susah memang kalau sudah menyangkut harga diri," ujarnya. Aiden paham kenapa neneknya tidak menyetujuhi makanya ia pelan-pelan mengetuk pintu hatinya.
"Siapa cewek yang mau lo kenalin sama nenek?" tanya Luki.
"Kyra?" tanya Luki lagi.
"Gue belum tahu juga, cuma seandainya saja gue dekat dengan dia. Nenek bakalan mau menerima dia atau nggak."
"Perasaan lo yang sebenarnya bagaimana sama Kyra. Lo udah membatalkan pindah sekolah karena dia." Luki memandang Aiden, menunggu jawaban darinya.
Aiden diam, dia juga bingung dengan perasaanya sendiri. Sebenarnya dia itu suka atau hanya sebatas peduli karena tekanan yang di lakukan ibunya terhadap Kyra.
"Kenapa lo diam, lo nggak suka ya sama dia?"
"Memangnya tanda-tanda suka sama seseorang itu seperti apa?" tanya Aiden.
"Tanda-tandanya tuh, kalau dekat dia deg-degan, suka salah tingkah, senang lihat dia bahagia, dan benci melihatnya sedih. Dan paling terlihat nggak suka lihat gebetan dekat sama cowok lain," Luki menjabarkan semua dengan sangat jelas.
Ada beberapa tanda yang masuk ke dalam dirinya, dan yang paling sering itu dia sangat senang melihat Kyra tertawa dan tak tega melihat dia sedih. Dan dia sering berusaha mengganggu Kris yang berusaha mendekati Kyra.
"Mungkin perasaan itu baru mulai tubuh, namun jika tidak dipupuk akan mati," ungkap Aiden.
"Berarti benar, lo suka sama Kyra. Lo tembak saja dia, pasti nanti semakin berkembang perasaan itu karena sering tersiram dengan bumbu-bumbu kemesraan," tutur Luki.
"Lo fasih banget, kayak motivator cinta."
"Luki gitu loh."
"Kalau gitu kenapa lo nggak coba tembak Dinda?" tanya Aiden.
"Susah, dia kan nggak suka sama gue," Jawabnya dengan nada rendah. Raut mukanya berubah lemas, tidak semangat.
"Ya jangan nyerah begitu dong, kalau kata lo perasaan bisa tumbuh kalau dipupuk dan disiram. Kenapa lo nggak mencoba menanamnya kembali?"
"Reboisasi kali ah menanam kembali," celetuk Luki.
"Iya lah, lo reboisasi hatinya yang sedang rapuh. Nanti juga bakalan tumbuh kalau lo sungguh-sungguh."
"Jadi lo bakalan dukung gue buat dapetin Dinda?"
__ADS_1
"Jelas lah, gue dukung seratus persen. Mari kita berjuang mendapatkan cinta kita," kata Aiden.
Melihat obrolan serius Aiden dan Luki, Ibob ikut bergabung dengannya.
"Ini ada apa kok serius banget, apa ada masalah?"
"Ada."
"Apa Ai, apa berat?"
"Sangat berat, ini masalah hati." jawab Ai dramatis membuat Ibob mendengus. Menyesal menanyakan dengan serius.
"Hati lo kenapa? Terkoyak, tercabik gara-gara lo cinta dia, dia cinta yang lainya?" oceh Ibob.
"Cinta terhalang restu," sahut Aiden sembari tertawa.
"Makanya lo ganti motornya sama mobil mewah lo yang di rumah. Auto melongo itu calon mertua lo yang songongnya minta ampun. Tabah satu lagi ketua osis yang lebih tepatnya di sebut ketua preman sekolah." Ibob meminta Aiden untuk membawa mobil agar tidak dihina terus.
"Belum waktunya, kita nikmati saja masa-masa sekolah kita ini. Jangan gampang tersulut emosi," nasehat Aiden.
"Eh, ngomong-ngomong Rafa ke mana? Kok nggak gabung sama kita." Luki tersadar personilnya kurang satu.
"Pacaran ini mah, lihat yuk." Aiden beranjak mengjak Luki dan Ibob melihat Rafa dan Erina sedang ngapain.
Mereka berjalan mengedap sampai ke ruang tamu. Mereka bertiga menahan tawa saat melihat Rafa yang sedang menggombali Erina.
"Ini bakalan ada adegan ciuman nggak ya?" kata Ibob.
"Ada sih kayaknya, lihat itu Rafa sudah mau memulai melancarakan rayuan maut," bisik Luki.
"Dasar buaya jantan," maki Ibob.
"Bob, tutup muka lo. Ini untuk umur diatas delapan belas. Lo kan masih anak-anak," Aiden menutup wajah Ibob.
Ibob pun menggeser tangan Ai agar tak menghalangi pandangannya. Kursi yang di gunakan untuk bersembuyi menggeser. Dan mereka pun ketahuan sama Rafa dan Erina.
Mereka berdua melepas gandengan tangannya.
"Kalian bertiga ngapain di situ?" Rafa berdiri melihat ketiga sahabatnya yang duduk dilantai.
"Mencari kodok, lo lanjut saja pcaranya," kata Aiden.
"Mana ada kodok didalam rumah. Kalian ngintip kita pacara ya?" tuduh Rafa.
__ADS_1
Mereka bertiga berdiri sembari cengengesan. Rafa banya bisa menghela napas panjang dengan tingkah sahabtanya.