Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Terlambat 2


__ADS_3

Kyra menatap Dinda melihat Aiden, Luki, Rafa dan Ibob malah tidur nyenyak. Mereka berdua berpikir, Aiden dan ketiga sahabatnya sedang panas-panasan mengambil sampah-sampah di lapangan. Ternyata di luar pikiran mereka berdua.


“Mereka benar-benar tukang tidur,” ucap Dinda.


“Iya, bisa-bisanya tidur di lapangan,” Kyra terheran-heran.


“Percuma dong bawa air minum sampai bolos satu mapel,” lumayan menyesal Dinda datang.


Kris melihat ada Kyra langsung nyamperin ke lapangan, dia mengambil ponsel dan memmotret Aiden, Luki, Ibob dan Rafa.


“Kalian berdua ngapain di sini?” tanya Kris setelah selesai mengambil foto.


“Kita mau kasih minum,” jawab Dinda dengan jujur. Toh kalau dia bohong juga pasti tidak akan masuk akal jawabannya.


“Sini minta satu airnya,” Kris megambil dari tangan Kyra.


Kris membuka tutup botol lalu menyirami ke wajah keempat orang itu bergantian. Keempat orang itu langsung duduk saking kagetnya.


“Hujan-hujan!” teriak-teriak Ibob.


“Hujan mata kalian, bangun!” teriak Kris.


Luki mengusap wajahnya, emosinya membara dia berdiri lalu menarik kerah baju Kris.


“Maksud lo apa?” Luki mendelik.


“Lepasin gue,” Kris mendorong Luki sampai tangannya terlepas.


“Kalian itu sedang di hukum, bukan malah tiduran santai. Dasar murid nggak berguna. Kalau kalian pindah ke sini hanya untuk huru- hara mending kalian keluar dari sekolah ini,” maki Kris.


Aiden menarik tangan Luki yang siap melibas sang ketua osis nyebelin, menurutnya.


“Jaga omongan lo, jangan pernah mengusik gue dan teman-teman gue. Atau lo mau merasakan akibatnya,” kata Aiden dengan marah, ekspresinya datar, pandangan matanya sangat tajam.


Kali ini Aiden tidak main-main dengan ancamannya, dia tidak suka ada yang memaki teman-temannya.


“Kita nggak punya masalah sama lo, jadi jangan pernah menyentuh kita,” Aiden membawa pergi teman-temannya.


Kurang ajar, berani sekali mereka melawan gue, batinya.


Kedua tangan Kris mengepal, baru kali ini ada yang melawannya. Biasanya orang-orang akan patuh saat mendapat ancaman darinya. Bahkan dia sangat di hargai di sekolahannya.

__ADS_1


Kyra dan Dinda shock, menyaksikan debat yang hampir memicu perkelahian ini. Mereka berdua langsung ikut pergi, takutnya menjadi pelampiasan Kris yang sedang emosi.


“Kalian berdua berhenti,” ucap Kris.


Kyra dan Dinda langsung menghentikan langkahnya, mereka memutar tubuhnya bersamaan.


“Iya Kak,” kata mereka berdua bersamaan juga. Kyra dan Dinda saling berpegang tangan.


“Kalian berdua nanti setelah pulang sekolah ke ruangan osis, kita bahas untuk acara jum’at besok.”


“Iya Kak, ada lagi Kak?” tanya Kyra.


“Nggak ada.”


“Kalau begitu kita permisi dulu.”


Kyra dan Dinda langsung berjalan dengan cepat agar segera menghilang dari pandangan Kris. Kyra dan Dinda mengendap-endap untuk masuk ke kelas agar tidak ketahuan oleh guru yang sedang mengajar.


“Ngapain lo nunduk-nunduk?” tanya Ibob dari belakang.


Dinda langsung menarik tangan Ibob agar ikut menunduk, takut kalau Ibob ketahuan mereka berdua juga akan ketahuan.


“Jangan keras-keras dong kak Ibob. Nanti kalau Bu sri tahu gimana?” bisik Dinda.


Kyra dan Dinda saling berpandangan, mereka tersenyum lalu masuk dengan cepat. Kyra masuk dengan mata yang fokus ke arah Aiden, dia kembali di buat bingung dengan sifat dia sebenarnya seperti apa. Tadi dia bisa sangat serius saat memperingatkan Kris.


“Ai, lo kenapa nggak biarin gue pukul itu si mulut lancip,” kata Luki yang emosinya masih di ubun-ubun.


“Jangan tersulut emosi, lo mau di keluarkan dari sekolahan ini,” kata Aiden dengan santai. Dia menundukan kepalanya di meja siap untuk tidur.


“Gue nggak peduli, buat apa gue sekolah di sini lagi,” kata Luki. Dia melipat kedua tangannya lalu menyenderkan tubuhnya di kursi. Bagi Luki sekarang sekolah ini pun tidak ada gunanya, dulu ngebet pindah agar bisa dekat dengan Dinda namun sekarang tidak ada alasan lagi untuk bertahan.


“Terus lo mau pindah lagi?”


“Pindah saja yuk, ke sekolah yang lama,” Rafa setuju. Dengan begitu dia akan lebih dekat dengan Erina.


“Kalian mau gue di bantai sama mak gue, main pindah-pindah terus,” tolak Ibob.


“Sudah nggak asyik tahu sekolah di sini. Mana ketua osisnya rese.”


“Kenapa ketua osis dan anggotanya itu selalu kemusuhan sama kita,” timpal Ibob.

__ADS_1


“Karena kalian yang bandel,” sahut Kyra. Dia nggak terima mendengar anggota osis itu rese karena dia juga menjadi bagian dari osis.


“Kita memangnya apa?” Luki menatap lekat Kyra.


“Coba saja kalian itu tadi nggak tidur, dan melakukan apa yang sudah menjadi hukuman kalian. Pasti nggak akan menlebar masalahnya,” ujar Kyra.


“Kenapa juga kita harus di hukum, orang kita nggak terlambat. Kita masuk upacara belum di mulai juga,” jawab Rafa.


“Kalau nggak terlambat, mana mungkin kalian di bariskan di sebelah guru,” Kyra pun tak mau kalah. Meskipun dia harus berdebat lawan tiga orang pun dia pantang mundur.


“Ya kan memang osisnya saja yang rese, lima menit saja di hitung terlambat. Kalian memang sengaja kan biar terlihat wah dimata guru,” omel Ibob.


“Dengar ya, lima menit itu sangat berarti. Kedisiplinan di junjung tinggi di sekolahan ini. Jadi harusnya kalian kalau mau masuk sekolah kemarin baca dulu tata tertibnya,” ketus Kyra. Dinda bingung bagaimana caranya melerai mereka agar tidak terus berdebat.


Aiden bangun dari tidurnya, dia melipat kedua tangannya di dada.


“Lo memang cocok sama ketua osis, jodoh kalian,” katanya sedikit namun membuat Kyra lebih meledak amarahnya.


“Kenapa lo jadi bawa-bawa jodoh,”


“Katanya jodoh itu cerminan diri, bener nggak Din?” cerca Aiden, Aiden menatap Kyra dengan senyuman mengejek.


“Iya sih, tapi nggak begitu juga kan Kak.”


“Gue setuju, pasti sekolahan kita ini akan sangat di takuti,” kata Rafa berlagak bergidik takut. Padahal sebenarnya dia mengejek Kyra.


“Jangan sembarangan lo, gue jodoh sama siapa nggak ada kaitanya sama ini,” dengus Kyra. Kyra duduk menghadap lurus ke depan, kesal banget dia di jodoh-jodohkan sama Kris.


“Kalian jangan kecengin Kyra begitu dong, kasihan tahu,” kata Dinda.


“Lo mending kasihani Luki saja, dia sampai nggak mau makan, nggak mau tidur gara-gara lo,” ujar Rafa.


Dinda melihat ke arah Luki, dia melihat lingkaran hitam di area matanya. Dia kembali di buat bersalah karena kejadian kemarin.


“Apaan sih lo Fa, nggak usah dengerin Rafa, Din. Gue baik-baik saja,” ujar Luki. Dia menabok tangan Rafa, dia berbisik agar tidak mengatakan yang aneh-aneh.


“Dah, pindah lagi saja kita besok,” kata Aiden.


“Beneran kita pindah?” kedua mata Rafa berbinar.


“Gue setuju pindah,” kata Luki.

__ADS_1


Mereka niat nggak sih sekolah, kok seenak udelnya main pindah-pindah saja, batin Kyra.


“Gue nggak mau pindah lagi,” rengek Ibob.


__ADS_2